
Usia pernikahan Wulan dan Rangga baru satu bulan, Wulan telah menunjukkan tampak aslinya pada Hanna. Seperti siang ini ketika ia menjemput Hanna dan Bintang pulang dari sekolah.
Wulan mengantar Hanna ke kamarnya dan menutup pintu kamar Hanna.
Hanna meletakkan tas sekolahnya diatas meja belajarnya, Wulan mendekat ke arah Hanna. Wulan sedikit menundukkan tubuh langsingnya dan mencengram dagu mungil Hanna dengan kuat sehingga bibir Hanna terlihat mengerucut.
"Kamu jangan ulangi lagi tingkah mu yang manja itu. Aku tidak suka anak manja. Dan satu lagi aku tidak suka menunggu kamu paham?"
Mata Hanna membulat dan wajahnya penuh ketakutan melihat tatapan tajam Wulan pada dirinya. Tangan Wulan yang mencengkram dagunya pun terasa sakit karena ujung kuku lancip ibu tirinya itu menorehkan sedikit goresan pada dagunya.
Hanna mengangguk pelan namun diujung matanya terlihat beningnya butiran air ingin keluar dari sudut mata Hanna.
"Hiks.... Hiks...."
Isak tangis Hanna terdengar ketika Wulan baru akan membuka pintu untuk meninggalkan kamar Hanna.
Wulan mendengus kesal kembali berbalik ke arah Hanna dan berjalan dengan menghentakkan high heels nya cukup keras.
"Satu lagi! Aku tidak suka anak yang cengeng!"
Kembali Wulan mencengkeram dagu lembut Hanna dengan kasar dan menatap tajam Hanna. Hanna tertunduk ketika menatap kedua mata Wulan yang membuat siswa kelas 2 SD ini ketakutan.
Hal yang pertama ia rasakan. Hanna tidak pernah di bentak oleh siapapun bahkan perlakuan kasar baru pertama kali ini ia rasakan. Hanna pun mencoba menahan rasa sesak di dadanya agar tak berubah menjadi sebuah tangisan.
Anak kecil ini mencoba menjadi dewasa di saat ia butuh kasih sayang. Sekuat tenaga gadis kecil ini tak mengeluarkan suara tangisan walau pipi nya telah dibanjiri oleh air yang terasa hangat.
Wulan meninggalkan kamar Hanna karena melihat anak tirinya itu tertunduk ketakutan. Dan saat akan meninggalkan kamar nya Wulan kembali mengancam Hanna.
"Satu lagi, jangan berani mengadu pada Daddy mu dan kakek mu. Jika tidak aku akan menghukum mu!"
__ADS_1
"Braaak!"
Hanna memejamkan matanya terkejut mendengar suara pintu yang ditutup oleh Wulan. Hanna langsung terduduk dilantai, tubuhnya lemah seketika bukan karena rasa lapar belum makan siang melainkan karena ada rasa sedih karena Wulan tidak tulus mencintai nya.
Saat Wulan menikah dengan Daddynya ia berharap bisa melupakan kesedihannya karena Alleyah dan juga Daddy nya akan bahagia karena punya teman baru ketika Alleyah sudah tidak ada lagi untuk mereka.
"Apakah Daddy juga diperlakukan seperti ini? Mommy aku rindu Mommy. Hiks.... Hiks....Hiks"
Hanna menangis dengan kepala yang tertutup oleh kedua lututnya. Cukup lama Hanna menangis tanpa gadis kecil itu sadari pintu kamarnya terbuka ternyata Bintang yang telah berganti pakaian ingin memanggil Hanna untuk makan siang.
"Hanna!"
Suara khawatir Bintang melihat saudari tirinya itu terduduk di atas lantai dengan kondisi sedang menangis tersedu-sedu.
"Kamu kenapa Na?"
Sahabat sekaligus saudara baru baginya. Bintang memegang kening Hanna karena khawatir Hanna sakit.
"Kamu sakit?"
Namun kening Hanna tak terasa panas, akhirnya Bintang membimbing Hanna untuk duduk diatas kasur.
"Aku panggil mama dulu ya."
Baru bintang melangkah namun tangannya digenggam erat oleh Hanna.
"Aku tidak apa-apa Bin. Perut ku sakit, makanya aku menangis."
Hanna terpaksa berbohong pada Bintang karena Hanna khawatir Bintang akan dimarah juga sepertinya dan dirinya pasti akan mendapatkan perlakuan kasar lagi dari Wulan.
__ADS_1
Karena Wulan telah mengancam nya tadi untuk tidak mengadu pada siapapun.
Bintang membelai rambut panjang saudaranya itu dan memeluk Hanna.
"Kamu adalah saudara ku Na. Jika kamu butuh sesuatu, merasakan sesuatu maka ada aku sekarang. Menangislah di pundak ku jika kamu butuh tempat untuk menangis. Dan aku akan menjadi dokter nanti agar kalau saudara ku ini sakit aku sendiri yang akan mengobatinya."
Bintang tersenyum lebar pada Hanna. Ada rasa bahagia di hati Hanna mendengar kata-kata tulus dari Bintang. Bintang ternyata tidak sama dengan Wulan.
"Terima kasih saudara ku. Aku pun akan menjadi pengacara untuk membela mu jika ada yang mengganggu mu terutama dari si gendut Haikal itu. Hehehe...."
Senyum manis terukir di bibir Hanna walau matanya terlihat sembab.
"Jadi perut mu sembuh setelah tersenyum?"
Bintang memegang perut saudarinya itu. Hanna mengangguk.
"Kamu akan jadi dokter terbaik nanti Bintang. Tetaplah menjadi dokter yang baik hati ya."
Bintang ikut tersenyum bahagia karena dapat membuat saudara nya tersenyum setelah mendengar tangisan Hanna barusan.
"Aku akan jadi dokter yang baik dan sahabat juga saudara untuk mu. Ayo ganti baju, nanti aku akan sakit perut juga karena terlalu lama menunggu mu ganti baju. Nanti kita minta obat pada Mommy."
Suara Bintang riang dan berjalan meninggalkan kamar Hanna. Ketika tubuh mungil Bintang hilang di balik pintu, Hanna menatap bingkai foto yang tersimpan rapi dibalik kaca pigura foto itu.
Foto seorang wanita tengah tertawa lepas hingga memamerkan gigi putihnya yang terlihat sedang memeluk dirinya saat masih berusia 1 tahun.
"Mommy..... I miss you."
Sebuah belaian lembut menyapu bingkai foto itu dan kecupan lembut pada wajah di pigura itu kembali membuat bulu mata lentik Hanna basah oleh butiran air yang mengalir.
__ADS_1