
Hujan deras mengguyur ibukota dari sore hari. kilat dan petir menyambar-nyambar. Hal ini menyebab kan Wulan dan Bintang tak bisa pulang kerumahnya.
Semenjak pertemuan Wulan dengan Hanna beberapa bulan lalu, Wulan menggunakan Bintang sebagai alat untuk mendekati Hanna. Karena jika Hanna membenci Wulan dan pergi ke Tuan Daminson maka rencana yang telah ia susun bertahun-tahun akan gagal berantakan.
Tampak di lantai atas 2 anak kecil yang terlihat tak terpaut jauh umurnya. Bintang dan Hanna tampak asyik mewarnai ditemani bik Iyah. Namun di dapur terlihat Wulan dan Rangga sedang bermesraan.
"Rangga, Nanti Hanna melihat maka rencana kita akan gagal total. Aku sudah tidak sabar mendapatkan buku nikah ku sayang."
Wulan yang merasa risih karena sedari tadi Rangga terus bermain-main dengan lehernya dari posisi belakang. Sedangkan Wulan sibuk membuat Nasi goreng untuk makan malam mereka.
"Aku baru dapat kabar kalau tadi mertuaku akan datang sayang, berikan obat tidur pada nasi goreng itu. Aku punya rencana instan biar mertua ku sendiri yang memberikan izin kita ke KUA."
"Oh ya, cepat katakan apa ide mu itu?"
Rangga membisikkan sesuatu pada Wulan dan seketika Wulan mematikan kompornya.
__ADS_1
"Sabar sayang, urus lah dulu 2 bocil di atas. Setelah itu kita akan memuluskan rencana kita dengan sandiwara mu."
Rangga memasang kode oke. Wulan pun memanggil anak-anak tersebut.
"Anak-anak ayo kita makan dulu, Nasi goreng seafoodnya sudah siap."
"Horeeeee....!"
Suara riang dari 2 anak kecil yang sama-sama berambut panjang itu seraya berdiri dan berlari ke arah rangga.
"Baik Tuan."
Suara bik Iyah sopan dan berjalan mendahului sang majikan. Namun didalam hati bik Iyah memaki majikannya yang ia rasa ada main sama wanita yang menyiapkan makan malam hari ini.
"Dulu waktu Non Alleyah masak boro-boro di bantu, ditungguin masak saja ga pernah. Alasannya selalu sibuk. Perasaan semenjak non Alleyah meninggal Tuan selalu santai dan banyak waktu luang."
__ADS_1
Bik Iyah sampai di dapur dan masih bermonolog dengan dirinya sendiri melihat tingkah Wulan.
"Dasar Janda ga sopan, main kerumah duda pakek baju seksi kayak begitu. Mudah-mudahan dia ga jadi nyonya disini Gusti....."
Bik Iyah yang melirik ke arah Wulan sedikit kaget ketika Wulan mendekati bik Iyah dan berkata sangat pelan namun membuat bulu kuduk wanita berumur 50 tahun itu merinding.
"Saya tahu apa yang kamu pikirkan Iyah. Jangan berani-berani menatap ku seperti barusan jika kamu tidak ingin aku menyakiti majikan kecilmu. Ingat tutup mulut mu maka majikan kecilmu akan selamat!"
Wulan yang kaget karena melihat bik Iyah sudah ada disebelahnya dan mengambil piring dari lemari yang ada di sebelah nya, membuat Wulan berpikir jika bik Iyah melihat Wulan menaburkan obat tidur ke nasi goreng Bintang dan Hanna.
Hingga terpaksa ia mengancam bik Iyah dengan suara yang begitu lembut namun dari gestur tubuh Wulan menyatakan kalau dia begitu tidak suka dengan bik Iyah.
"I.... Iyah. Bu."
Bik Iyah tertunduk takut karena lirikan tajam dari Wulan. Iya pin pergi daru ruangan itu, seraya bergidik ketakutan jika perempuan itu menjadi nyonya di rumah itu. Ia mengkhawatirkan kondisi Hana.
__ADS_1