
Bintang didalam kamar sedang mengerjakan PR nya tiba-tiba pintu dibuka oleh Wulan. Ibu kandung Bintang itu membawakan sebotol susu dan roti.
"Makan ini, ingat jangan coba-coba kamu melakukan kesalahan kamu lagi Bintang! Mama tidak suka anak nakal!"
Wulan menutup pintu kamar Bintang dengan kasar. Bintang hanya menatap pintu itu dengan gelengan kepala. Ia selalu merasa Wulan bukan ibu nya karena ia selalu bersikap kasar kepada Bintang. Hampir tidak ada ketulusan dari Wulan untuk Bintang.
Bintang selalu dibentak, dimarah hingga lama kelamaan muncul sikap berontak dalam diri anak kecil berusia 6 tahun itu. Ia sering berbohong untuk sekedar menikmati permen atau coklat kesukaannya.
Setelah Bintang menutup buku nya, ia teringat akan saudara tirinya yang masih berada di gudang sedari tadi siang. Ingin rasanya ia memberikan roti atau susu untuk saudaranya itu tetapi pastilah ia akan dimarah dan hukuman Hanna pasti akan bertambah bukan malah berakhir.
Bintang membuka sedikit pintu kamarnya. Ia mengintip dari celah pintu yang terbuka. Gadis kecil itu berjalan mengendap-endap hingga sampai di ujung tangga ia melihat ke arah bawah. Ia berjalan berjinjit pelan sekali. Baru Sampai di dapur ia dikagetkan dengan tangan yang memegang pundaknya.
Hingga roti dan susu dipelukannya terjatuh.
"A-Ampun ma. Bintang cuma mau makan di dapur bintang tidak mau makan di kamar."
"Ssssttt"
Bintang membuka matanya dan melihat kebelakang ternyata bik Iyah. Bik Iyah dengan sedikit menunduk menutup bibirnya dengan jari telunjuk yang tak terlihat kencang lagi.
"Mama nya Non lagi keluar, bibik tidak tahu kemana. Bibik bingung mau kasih makanan ke non Hanna. Kunci serepnya ga ada non."
Suara Bik Iyah setengah berbisik dengan raut wajah yang sedikit takut.
"Bibik siapin pakek plastik saja makanan nya. Aku tunggu di depan gudang ya bik. Cepat takut mama keburu pulang."
Bik Iyah pergi ke dapur dan Bintang bergegas ke arah Gudang.
Bintang mengetuk gudang namun tidak ada suara. Bintang memanggil nama Hanna berulang ulang kali namun tak ada jawaban. Bintang menarik kursi yang ada didekat gudang dan menaiki nya namun masih belum bisa mencapai ventilasi udara.
Bik Iya yang melihat Bintang setengah meloncat dan hampir terjatuh cepat memegang tubuh mungil bocah cantik itu.
"Aduh Non hati-hati."
__ADS_1
Bik Iyah memeluk Bintang yang berdiri diatas kursi.
"Bik, Hanna tidak menjawab panggilan ku."
"Aduh kalau panggil yang lain takut kita ketahuan mama Wulan non. Sini bibi gendong non biar non bisa lihat sekalian kasih ini makanan sama susu untuk non Hanna."
Bik Iyah menarik kainnya dan menggendong tubuh mungil Bintang. Hingga kedua betis Bintang sudah berada dipelukan Bik Iyah.
Bik Iyah memegang tubuh Bintang dengan erat. Tubuh yang tidak lagi muda itu menahan keseimbangan tubuhnya.
"Tahan ya bik."
"Iya non."
Bintang bisa melihat jelas ke dalam gudang lewat ventilasi namun gelapnya ruangan itu cukup membuat Bintang membesarkan kedua bertanya hingga ia bisa melihat sosok mungil sedang tidur dengan posisi meringkuk berbantal kan Tas sekolah.
Beruntung cahaya lampu dari luar ruangan gudang mampu memberikan samar-samar kondisi didalam gudang. Bintang melempar Hanna dengan sebuah bungkusan yang berisi susu kotak berukuran kecil.
"Bugh"
Hanna kesakitan karena merasa ada sesuatu yang menimpa dadanya.
"Hanna, hei Hanna."
Suara Bintang sedikit berbisik.
"Ini aku, cepat kemari."
Hanna mengucek kedua matanya dan mendongakkan kepala ke arah sumber suara hingga ia mendekat ke arah pintu.
"Tangkap ini."
"Bugh"
__ADS_1
Hanna menangkap 2 buah plastik yang telah diisi nasi lengkap dengan sayur dan buah serta satu botol air putih.
"Makanlah dan jangan lupa sembunyikan bungkus nya jangan sampai mama Wulan tau kamu sudah makan."
"Bintang..... Hiks.Hiks..."
Hanna terisak karena merasa takut berada diruangan ini dan terharu karena saudaranya begitu perhatian dan nekat membantu dirinya.
"His kau ini. Sudah jangan menangis. Apa kamu hanya bisa menangis! cepat makan dan sembunyikan sisanya. Aku harus pergi kasihan bik Iyah jika kamu ketahuan. Jangan takut Mommy mu selalu menemani kamu dimana pun kamu berada."
Baru Bintang ingin merosot dari gendongan bik Iyah, bik Iyah menahan Bintang.
"Non, beri ini juga kasihan takut non Hanna masuk angin."
Sebuah minyak angin dan sebuah jamu anti masuk angin rasa madu diberikan oleh Bik Iyah dari kantung baju nya.
Bintang menerimanya dan kembali menjatuhkan lewat ventilasi udara.
"Ini kata Bik Iyah biar tidak masuk angin. Jangan menangis lagi atau aku tidak mau menjadi saudara mu."
Hanna menerima sebuah lemparan dari bintang yang merupakan minyak angin dan sebuah jamu rasa madu.
"Terima kasih Bintang, Bik Iyah.Kalian peri dalam hidup ku."
Hanna menghapus air matanya ia ingat pesan saudaranya. Ia ingin belajar seperti Bintang. Hampir tidak pernah menangis karena mungkin terbiasa diperlakukan kasar oleh Wulan.
Hanna menikmati semua yang diberikan oleh Bintang. Ia begitu lapar karena dari siang tidak ada apapun yang masuk ke perutnya.
Bintang dan Bik Iyah berlari cepat menuju dalam rumah khawatir Wulan telah kembali. Sesampai di dapur Bintang cepat membawa roti dan susu nya yang ia letakan di meja.
Ia berlari menuju kamarnya tiba-tiba.
"Bruugh!"
__ADS_1