
Ketika 2 suster itu meninggal kan ruangan Alleyah. Ashray membuka buah-buahan yang dibawakan nya untuk Alleyah.
"Apa betul kata suster Rina tadi sore bahwa aku akan kembali menjalani operasi dalam minggu-minggu ini Ray?"
Alleyah terlihat melirik buah yang tengah disusun Ashray kedalam piring.
"Ya operasi kali ini untuk pemulihan trauma pada otot mu. Kamu tidak perlu khawatir hanya perlu siapkan dirimu dan selalu berpikir positif."
Ashray memberikan sebuah anggur ke arah mulut Alleyah. Namun tidak seperti biasanya Alleyah mengambil buah itu dari tangan Ashray dan memasukan ke dalam mulutnya.
Ashray memicingkan sebelah matanya melihat sikap aneh Alleyah karena hampir beberapa bulan ia merawat dan bersama Alleyah ini kali pertama wanita Indonesia itu menolak secara halus pemberiannya.
"Ray, bisakah mulai besok aku meminta Mommy yang menemani ku. Aku merasa nyaman dan tentram setiap Mommy ada disisi ku." Alleyah memejam kan matanya setelah menelan buah anggur merah tadi.
Ashray mengerutkan alisnya. Melihat Alleyah sepertinya sengaja ingin menjaga jarak dari dirinya.
"Kau menjauhi ku Ley?"
"Apakah aku bisa berjalan Ray? bagaimana aku bisa menjauhi mu sedang melangkah pun aku tak mampu."
Alleyah membuka matanya dan tersenyum lalu melirik ke arah kedua kakinya.
"Baiklah besok aku akan meminta Mommy menemani mu. Ley, kamu masih belum mengingat apapun?"
Alleyah tampak menggelengkan kepalanya dengan wajah sendu. Ashray merasa bersalah karena menanyakan itu kepada Alleyah. Alleyah terlihat murung setelah pertanyaan yang diberikan Ashray.
__ADS_1
"Ley, aku keluar sebentar ya. Kau butuh sesuatu?"
Ashray berhenti setelah berada dibalik pintu dan menatap Alleyah.
Alleyah terlihat menggelengkan kepalanya.
Ashray berjalan ke arah kantin namun di dalam lift bertemu dengan Jhenny yang terlihat kelelahan. Ashray bisa menebak bahwa Jhenny baru saja dari ruang operasi.
Tak ada percakapan diantara mereka selama di dalam lift. Ketika pintu lift terbuka di lantai kantin Ashray tampak berjalan menuju tempat favoritnya memesan kopi.
Ashray tak terlalu memperhatikan Jhenny, ternyata dokter spesialis bedah saraf itu mengikuti Ashray.
Setelah Ashray memesan kopi. Ashray duduk disebuah kursi menunggu pesanannya.
"Kau kemari untuk menunggu Alleyah?"
"Ya, besok hari libur dan kurasa sayang jika waktu libur tak ku manfaat kan untuk memperjuangkan cinta ku pada Alleyah."
Ashray menatap Jhenny.
"Ray, kau tahu apa yang terjadi jika sebuah pesawat kertas bermain-main dengan bola api?"
Jhenny mengambil sebuah kertas dari sakunya. Wanita itu melipat kertas itu hingga berbentuk pesawat dari kertas. Ashray masih menatap sahabatnya itu.
" Jika tidak ingin menjadi abu. Maka terbang lah yang tinggi Ray. Kau tahu kita bisa terbang bersama. Jika kau memilih terbang bersama Alleyah maka bola api itu akan membakar mu. Kau tahu bagaimana Mr Jhon. Ia pengusaha bertangan dewa. Ia akan dengan mudah menghilangkan mereka yang mengusik keluarganya. Bahkan paparazi pun beberapa dinyatakan hilang setelah mengusik kehidupan putranya."
__ADS_1
"Aku tak perlu kemana-kemana Jhen. Aku hanya perlu mengatakan pada Mr Jhon jika aku mencintai Alleyah, sebelum itu aku akan memastikan jika Alleyah pun merasakan hal yang sama. Maka sebuah air terjun cinta mampu membuat bola api itu menjadi tenaga tambahan, agar pesawat cinta kami terbang tinggi tanpa ada yang menghalangi kami."
Ashray baru saja akan pergi meninggalkan Jhenny setelah menerima pesanan kopinya.
"Sadarlah Ray. Kau tidak tahu balas budi. Kau bisa makan sampai hari ini karena belas kasihan Jhon Group.yang memberi mu beasiswa."
Jhenny kembali memprovokasi Ashray hingga lelaki itu menghentikan langkah nya. Tampak beberapa orang di kantin melihat ke arah mereka karena suara Jhenny yang begitu keras.
"Dan kau? apakah layak disebut sebagai dokter setelah kau melanggar kode etik mu sebagai dokter ketika mengoperasi Alleyah? Dan apakah kau yakin jika Mr Jhon tahu dia akan membiarkan nama mu berada di list nama dokter-dokter di rumah sakit ini. Nasib mu bahkan lebih buruk dari ku jika Mr Jhon murka, Jhen."
"Baik, besok ada rapat dengan Mr Jhon dan seluruh dokter diminta untuk hadir. Aku menantang mu jika memang kau berani dengan lantang di depan peserta rapat itu mengucapkan bahwa kau mencintai Alleyah. Maka aku akan mengoperasi Alleyah 2 hari lagi dan kupastikan wanita itu bisa berjalan seperti sedia kala."
Suara Jhenny terdengar seperti mengejek.
"Jadi kau betul-betul tidak melakukan salah satu step ketika mengoperasi Alleyah?"
Ashray menatap tajam Jhenny dan suaranya terdengar menahan emosi.
"Kau jawab saja tantangan ku tadi besok. Tanpa ku jawab kau mengerti jawaban ku Ray."
Jhenny meninggalkan Ray dengan mengambil kopi ditangan Ray.
"Obsesi itu ketika kamu begitu ingin memiliki dan menikmati sesuatu, lalu kau membuang nya ketika kau telah mendapatkan nya Ray. Aku belum mendapatkan mu. Maka rasa di hatiku tak bisa kau artikan obsesi."
Jhenny berjalan menuju lift sembari meminum kopi Ashray dan sebelum pintu lift itu tertutup Jhenny tersenyum dan mengerlingkan matanya ke arah Ashray.
__ADS_1
"Kita lihat setelah ini Jhen. Jika rasa dihati mu adalah cinta. Maka kau akan berdamai. Namun jika kau makin mengejar ku maka itu hanya obsesi belaka."
Ashray kembali ke belakang untuk memesan kopi kembali.