
Wulan yang sedang duduk di sofa menangis tersedu-sedu dan dipeluk oleh Bintang membuat Hanna mendekat dan memeluk Wulan dengan penuh kasih sayang. Wulan pun memeluk Bintang dan Hanna dengan Isak tangis yang terdengar pilu.
Tuan Daminson mengamati perlakuan Hanna pada Wulan. Sedangkan Rangga masih tertunduk lesu dihadapan Tuan Daminson. Rangga yang menolak ketika diminta oleh Soraya untuk menikahi Wulan membuat Soraya berharap ada titik tengah dari masalah ini agar sang cucu tidak menerima beban mental yang berat selepas kepergian Alleyah.
“Hanna."
Tuan Daminson memanggil cucu semata wayang nya untuk mendekat.
Hanna mendekat dan duduk dipangkuan sang kakek. Tuan Daminson membelai rambut sang cucu dengan lembut dan menatap mata Hanna.
"Kakek sangat mencintai kamu. Kamu menyayangi Tante Wulan?"
"Kakek, Hanna suka berteman dengan bintang. Tante Wulan juga sangat baik. Hanna merasa tidak kesepian lagi kek semenjak kenal Tante Wulan. Kenapa Tante Wulan menangis kek? Apakah kakek memarahi Tante Wulan?"
Suara lembut khas anak berusia 6 tahun terdengar menghangatkan hati tuan Daminson. Tuan Daminson membelai rambut Hanna. Lalu menggendong cucu nya dan menyerahkan nya ke Soraya.
Tuan Daminson yang tahu bahwa Wulan juga seorang janda dan Bintang pun ternyata anak yang baik sehingga berteman dengan Hanna. Tatapan Hanna pada Wulan pun bisa Tuan Daminson lihat jelas jika cucu nya merasa nyaman berada di dekat Wulan.
"Sayang, kamu mau Bintang dan Tante Wulan tinggal dirumah ini?"
Tuan Daminson duduk berjongkok dihadapan sang cucu. Terlihat bola mata Hanna membesar dan memeluk Tuan Daminson.
"Cup"
"Sungguh kakek? Aku mau sekali kakek."
Suara ceria Hanna membuat lelaki paruh baya itu tersenyum dan memeluk tubuh mungil itu.
__ADS_1
"Apa maksud Daddy?"
Rangga yang dari tadi duduk tertunduk dengan lesu akhirnya mengangkat kepalanya.
Tuan Daminson berdiri lalu berjalan menghampiri Rangga.
"Ikuti aku, kita perlu bicara 4 mata."
Tuan Daminson berjalan ke arah kolam renang dan diikuti oleh Rangga yang dalam hati bersorak riang gembira karena rencana nya dengan Wulan berjalan mulus.
Tinggal satu rencana besar lagi yang belum ia capai. Namun satu langkah lebih maju membuat lelaki yang bertubuh tidak tinggi namun memiliki tubuh atletis ini cukup puas karena wajah nya yang selalu terlihat lugu ini berkali-kali menipu Tuan Daminson dan Istrinya.
Sesampainya mereka di tepi kolam renang, Mereka Dudu disebuah kursi yang menghadap ke kolam renang.
"Aku tidak ingin kau membuat Hanna merasa malu karena perbuatan mu. Suka atau tidak suka kau harus bertanggung jawab untuk menikahi wanita itu. Aku tahu mungkin Alleyah akan sangat kecewa dengan mu dan keputusan ku. Tetapi saat ini Hanna sudah cukup terpukul dengan kepergian Leyah."
Rangga hanya menunduk tak berani menatap Tuan Daminson. Tuan Daminson kembali meminta Rangga untuk mengambil keputusan.
Rangga mengangkat kepalanya dan menatap tuan Daminson. Rangga mengurai rambut ikalnya.
"Aku sungguh khilaf, malam tadi aku mengira dia Alleyah. Jika semua demi kebaikan Hanna maka aku akan melakukan apapun itu termasuk menikahi wanita itu."
Mata Rangga berkaca-kaca hingga meneteskan butiran bening. Hal itu membuat Tuan Daminson berdiri dan menepuk pundak Rangga berkali-kali.
"Aku tahu yang kamu rasakan, maaf sudah mencurigai mu beberapa waktu yang lalu Son. Aku begitu menyayangi Leyah, hari ini aku bisa melihat begitu besar rasa cinta mu pada Leyah."
Tuan Daminson meninggalkan Rangga dan menelpon asistennya untuk mengurus persiapan pernikahan Rangga dan Wulan. tuan Daminson meminta malam ini juga pernikahan dilaksanakan dengan sederhana di mansion Rangga.
__ADS_1
Malam harinya telah hadir kakak dari Wulan yang bernama Jhoni. Wulan menelpon Jhoni untuk datang sebagai wali nikahnya. Dan terapat petugas dari KUA yang diminta datang malam ini setelah semua berkas diurus secara singkat.
Setelah semua saksi telah hadir, ijab kabul dilaksanakan dan berjalan lancar. Tertera dibuku nikah status kedua mempelai sebelumnya adalah duda dan janda yang ditinggal mati.
Tuan Daminson dan Nyonya Soraya meninggalkan mansion Rangga. Begitu pun dengan sang kakak dari Wulan lelaki yang memiliki codet di wajahnya itu berhenti di ambang pintu ketika Wulan mengantarnya sampai di depan pintu utama.
"Buat mereka menangis pelan-pelan sama seperti yang telah putri mereka buat pada kita, biarkan seluruh yang berhubungan dengan wanita itu merasakan perihnya sebuah penderitaan, caci maki, terasingkan bahkan menjadi sampah di masyarakat!"
Jhony melirik ke arah sebuah foto keluarga yang terpajang begitu besar di ruang utama. Foto Alleyah, Rangga dan Hanna yang diambil satu tahun lalu dihari perayaan pernikahan mereka.
"Tenanglah. Tunggu aba-aba dari ku, separuh saham Rajawali sudah ku beli. Tinggal kita eksekusi ketika Semua sepenuhnya didalam kendali kita."
Jhonny berjalan sedikit menyeret kaki kanan nya. Lelaki itu membenarkan jas nya lalu menghilang dibalik pintu mobil Lexus yang telah dibukakan oleh anak buahnya.
Wulan menutup pintu dan berbicara pada foto Alleyah.
"Permainan baru saja dimulai Ley, kita mulai dengan peri kecil mu terlebih dahulu."
Suara high heels Wulan terdengar begitu nyaring meninggalkan ruangan utama itu menuju kamar nya. Kamar yang dulu ditempati oleh Alleyah dan Rangga. Kamar ini telah berubah menjadi kamar Rangga dan Wulan. Tak ada lagi foto Alleyah di kamar itu.
Wulan duduk di balkon kamar menikmati segelas wine yang telah ia siapkan di meja kamar nya setelah kepergian tuan Daminson. Wulan begitu ingin merayakan keberhasilan akting nya yang membuat ia dengan mudah memiliki buku nikah setelah hampir satu tahun lebih menjadi istri siri dari Rangga.
Rangga yang dari tadi membersihkan diri di dalam kamar mandi keluar dengan rambut basah serta hanya mengenakan handuk berjalan mendekati Wulan. Rangga memeluk Wulan dari belakang.
Seketika Wulan berbalik dan mendorong Rangga.
"Hati-hatilah, diluar masih ada orang-orang Daminson yang masih memantau gerak gerik kita.Tetap perlakukan aku dengan kasar dear, jangan sampai rencana besar kita gagal hanya karena nafsu mu yang begitu besar."
__ADS_1
Rangga tak memperdulikan ucapan istrinya. Ia dengan cepat mengangkat sang istri dan membawanya ke sebuah sofa Cinta yang berada di sudut ruangan. Kursi yang selalu dibayangkan oleh Rangga dapat dinikmati bersama wanitanya. Alleyah tidak pernah menuruti Rangga untuk mencoba hal-hal baru dalam memuaskan hasratnya sebagai lelaki.
Malam ini seolah orang yang sedang berbuka puasa, Rangga dan Wulan hanya tertidur menjelang pagi. Hingga mereka terpaksa bangun ketika Bintang dan Hanna mengetuk pintu kamar mereka.