ISTRI YANG DIANGGAP BUTA

ISTRI YANG DIANGGAP BUTA
BAB 25 Kemarahan Wulan


__ADS_3

"Bruugh!"


Tubuh kecil Bintang menabrak seseorang. Ketika Bintang mendongakkan kepala betapa terkejutnya Bintang jika yang ia tabrak adalah mama nya.


"Ma-Ma"


"Bintang! kenapa harus berlari didalam rumah?"


"Maaf ma, Bintang lagi ingin cepat nonton film kesukaan bintang."


"Siapa yang kasih izin kamu keluar kamar?"


Wanita yang sekarang sudah menjadi ibu sambung Hanna itu mencengkram dagu sang anak begitu kencang.


"Kamu dari anak nakal itu?"


Air wajah Bintang berubah pucat Pasih. Keringat dingin keluar dari pori-pori tubuhnya yang masih dalam masa pertumbuhan itu.


"Ti-Tidak ma."


"Mau bohong kamu sama mama? Kamu tahu satu hal yang aku sesali di dunia ini yaitu melahirkan kamu!"


Sreeet.


Wulan menjambak rambut putri kandungnya itu dengan kasar hingga rambut yang terurai itu terlihat berantakan. Bando yang dipakai pun terjatuh.


Bintang merintih kesakitan namun tidak mengeluarkan setetes air mata pun.


Wulan membuka pintu gudang dengan satu tangan dan tangan lainnnya masih menarik rambut Bintang.

__ADS_1


"Bruugh!"


"Mama sudah bilang Bintang, mama tidak sudah anak nakal dan pembohong!"


"Braaakk!"


Hanna yang tengah menyembunyikan bekas makan nya terkejut melihat pintu dibuka dan ternyata Bintang di lempar dengan kasar oleh Wulan kedalam gudang.


"Bintang....." Hanna memeluk tubuh bintang diiringi Isak tangis.


Bintang melerai pelukan Hanna.


"Berhenti menangis, apa kamu hanya bisa menangis? apa menangis bisa mengubah keadaan?"


Bintang membenarkan rambutnya yang terasa berantakan akibat di tarik paksa sang ibu.


"Maafkan aku Bintang. Gara-gara diriku kamu jadi kena hukuman."


"Sekarang daripada kamu menatap ku seperti itu. Berikan aku makanan yang tersisa. aku belum makan apapun dari siang tadi sama seperti dirimu."


Hanna tersenyum.


"Ternyata kamu dan mama Wulan sama ya Bin"


Bintang menatap cemberut saudara tirinya itu.


"Sama-sama jutek dan galak hahaha....."


"Aku lebih suka kamu tertawa seperti itu daripada menangis. Cepat aku sangat lapar Hanna. Berikan aku apapun yang tersisa."

__ADS_1


Hanna beringsut dan membuka sebuah kotak dan mengeluarkan bungkusan yang diberikan Bintang tadi.


Ternyata hanya tersisa satu buah apel dan satu kotak susu dan setengah botol air mineral.


"Kau ini tubuh mu kecil tapi kamu menghabiskan banyak makanan ternyata. "


"Cuci tangan dulu Bin"


Bintang mengabaikan perkataan saudaranya. Dia langsung memakan apel dan minum susu coklat yang tersisa satu kotak kecil. Ketika dia akan menghabiskan air mineral itu Hanna mentahannya.


"Sisakan untuk ku. Aku selalu terbangun tengah malam untuk minum"


Bintang menoleh kearah Hanna dan memberikan botol itu setelah ia kembali menutup botol air mineral itu.


Hanna menatap Bintang penuh haru.


"Ayolah Hanna kamu selalu menatap ku seperti itu. Jangan kamu bilang kamu menyukai ku. Aku tidak ingin Ketika dewasa menikah dengan mu. Aku ingin menikah dengan lelaki tampan dan dewasa."


"Terima kasih Bintang, kamu hadir di dalam hidup ku sebagai peri dalam kehidupan ku. Andai Mommy ada disini dia akan sangat berterima kasih pada mu karena menjaga ku dan menyayangi aku seperti saudara mu sendiri."


"Kalau Mommy mu masih hidup dan ada disini maka kamu tidak akan menjadi saudara tiri ku Hanna Salsabilah. Dimana otak mu yang selalu cepat menjawab soal ujian itu. apa tertinggal di makam tadi? hehehe....."


"Hahaha....."


Dua bocah kecil itu tertawa bersama. Mereka menghabiskan malam mereka didalam gudang yang tidak terlalu sempit itu tapi cukup pengap karena debu yang banyak dan gelapnya ruangan.


Bintang yang memiliki sifat lebih dewasa, mandiri dari Hanna tidur dengan posisi duduk dan bersandar pada dinding sedangkan Hanna tidur dengan berbantal kan paha Bintang dan beralaskan kardus.


Di depan pintu utama Rangga baru pulang dengan kondisi mabuk. Rangga berjalan sempoyongan menuju kamarnya sambil berteriak.

__ADS_1


"Wulaaaannn.... Kurang ajar kamu.....!"


__ADS_2