
Malam harinya, Rangga datang bersama Hana ke sebuah panti asuhan. Hana tampak sangat cantik mengenakan sebuah gaun yang dibelikan Elena alias Alleyah dan dititipkan ke Rangga. Saat tiba di depan gerbang Panti asuhan. Rangga menghentikan mobilnya sejenak.
Ia menatap Hana. Hal yang jarang ia lakukan, ia berbicara dari hati kepada putri semata wayangnya.
"Hana. Papa harap kamu bisa bersikap baik dan sopan. Dan Kamu Bintang, jangan cerita apapun pada Mama mu tentang makan malam ini. Bilang saja pada Mama jika malam ini kita hanya makan malam biasa. Mengerti?" Tanya Rangga pada Bintang dan Hana.
Dua anak SD itu mengangguk. Saat dua bocah itu turun dari mobil, Hana justru menatap gerbang yang bertuliskan panti Asuhan Welas Asih. Seketika rasa rindu menyeruak di dalam hatinya. Ia merindukan Mommy nya. Ia ingat bagaimana ia dan Mommy nya akan mencari panti asuhan yang akan menjadi tempat ia merayakan ulang tahunnya.
"Hei, ada apa?" Tanya Bintang yang menyenggol lengan Hana.
"Tidak apa-apa. Aku rindu Mommy." Ucap Hana sendu.
Bintang membisikkan sesuatu pada telinga saudara tirinya itu. Seraya melangkah, Hana menoleh ke arah Bintang.
"Sepertinya Papa sedang ada maunya, maka mintalah sesuatu disaat seperti ini. Pasti dikabulkan." Bisik Bintang pada Hana.
Hana terpaku mendengar bisikan saudara tirinya. Ia begitu ingin agar bisa pergi ke makam Mommy. Sejak kejadian dimana Wulan marah besar. Hana tak berani pergi ke pusara Mommy nya.
Saat berada di satu Aula, Hana terdiam menatap sebuah semua anak-anak menyanyikan satu lagu yang ia tak paham artinya. Anak matanya memotret seorang perempuan cantik yang bermata biru. Perempuan itu tampak menunjukkan garis di sudut bibirnya. Hana merasa tak asing dengan tarikan bibir itu yang melengkung dan membuat bibir itu mengukir senyuman manis. Sedangkan bintang. Ia merasa tak suka dengan perempuan yang sedang di tatap oleh Rangga. Rangga bahkan mendekat dan tampak berbisik ke pada perempuan yang tak lain ialah Elena.
'Ayolah Hana, hati mu terlalu lembut. Jangan bilang perempuan ini akan menjadi hama dan merebut Papa mu. Ah, aku tak habis pikir bagaimana bisa Papa Rangga memiliki anak sebaik kamu Hana..... ' Batin Bintang.
"Ayo sayang, ini acara spesial kamu. Acara ulang tahun mu. Tante Elena merayakan nya." Ucap Rangga.
"Putri mu berkenan hadir?" Tanya Elena.
__ADS_1
"Ya, sini sayang. Kenalkan ini Tante Elena. Dia tak hanya cantik tapi juga berhati mulia." Ucap Rangga.
'Andai saat ini aku bisa mencekik mu, aku akan lakukan itu. Aku mual mendengar ucapan manis mu tapi hati mu busuk.' Batin Elena.
Ia sebisa mungkin mengontrol matanya agar tak dapat melihat sang anak. Ia begitu ingin berlari memeluk Hana, tapi tidak. Ia sedang memainkan peran. Dan ia harus sukses, demi memberikan pelajaran pada Rangga dan Wulan yang begitu manis bersandiwara.
"Hana, Tante." Ucap Hana sopan.
Namun betapa kaget Hana, tangan nya tak disambut oleh Elena. Kini Elena justru menjulurkan tangan di tempat yang salah. Rangga menarik tangan putrinya agar bisa bersalaman dengan Elena. Bahagia sekali rasanya hati Elena. Bertemu buah hatinya. Namun ia sekuat hati menahan rasa ingin memeluk Hana.
"Elena. Suara mu begitu lembut. Kamu pasti punya hati yang lembut." Ucap Elena.
"Terimakasih tante. Terimakasih telah merayakan ultah ku." Ucap Hana.
"Tante justru mengucapkan terimakasih. Karena kamu mau hadir, dulu putri tante yang hilang begitu senang jika dirayakan di sini." Ucap Elena.
'What! Tunggu pembalasan ku! Seburuk apapun mama ku. Dia mama ku!' Batin Bintang. Ia pun mengarahkan tangan Elena. Namun saat tangan nya bertemu tangan Elena. Ia remas cukup kuat tangan Elena.
"Bintang tante, Hati-hati tante, kalau terlalu dekat bisa kena cahaya panas bintang." Celoteh Bintang seraya memasang wajah imut disertai senyum manis.
'Owh... kamu mau main-main dengan ku bintang kecil. Baik, kita lihat apakah kamu akan meremas tangan ku nanti bintang kecil.' Batin Elena yang merasa jika Bintang tak menyukainya. Elena bisa melihat dari sudut netranya jika putri Wulan tak menyukai dirinya.
Acara pun berlangsung meriah. Anak-anak panti tampak bahagia. Elena pun tak henti-hentinya tertawa. Bahkan saat akan pulang pun Elena menawarkan untuk sopirnya yang mengantarkan anak-anaknya pulang.
"I wanna talk to you Mr. Rangga. And it is important." Ucap Elena seraya menatap ke arah lain walau ia tahu lawan bicaranya ada di sisi kanannya.
__ADS_1
Rangga merasa kesempatan tak datang dua kali. Ia pun meminta anaknya pulang lebih dulu bersama Sopir pribadi Elena.
"Oke sayang, nanti kalau Mama tanya. Papa sedang ada meeting ya." Ucap Rangga. Hana dan bintang pasrah saja, mereka tak berani membantah daripada mendapatkan hukuman lagi.
Malam itu Elena tak ingin mengulur waktu. Ia akan meminta Rangga menceraikan Wulan. Maka saat berada di rooftop apartemen milik Elena, beberapa anak buah Elena berada di sekitar Elena.
"Maaf Elen, kenapa tidak kita bicara 4 mata?" Tanya Rangga yang merasa tak nyaman banyak penjaga di sekitar Elena.
"Kau mengejek ku Mr. Rangga? Bukankah hanya kau yang bisa melihat jika kau ada di sisi ku, tanpa penjaga ku." Ucap Elena.
Rangga terkekeh-kekeh, ia pun mengurai rambutnya berkali-kali.
"Oke, apa yang akan kamu bicarakan dengan ku Miss Elena?" Tanya Rangga tak sabar.
"Jika aku punya pilihan, apakah kamu akan memilih salah satu?" Tanya Elena menikmati segelas juice lemon miliknya.
"What is that?" Tanya Rangga.
"I wanna marry you, but I want you to divorce your wife." Suara Elena sedikit menggoda Rangga.
'Yes!' Sorak Rangga dalam hatinya.
"I will do itu for you miss Elena. It is an honor for me to have a wife like you, and mother to my child. Hana must be happy to have a mother as beautiful and kind as you." Rayu Rangga pada Elena.
{Suatu kehormatan bagi ku memiliki istri seperti dirimu, dan ibu untuk anak ku. Hana pasti senang memiliki ibu secantik dan sebaik kamu}
__ADS_1
'Dua langkah lagi, aku akan menjatuhkan kamu Rangga.'Batin Elena.