ISTRI YANG DIANGGAP BUTA

ISTRI YANG DIANGGAP BUTA
BAB 18 Rencana Yang Berjalan Mulus


__ADS_3

Rangga telah berhasil membacakan dongeng pada 2 gadis kecil yang imut dan cantik di kamar Hanna. Kedua gadis kecil itu tampak nyenyak sekali tentu saja itu karena pengaruh obat tidur dosis sedang yang Wulan berikan pada nasi goreng kedua putri itu.


Rangga menutup pintu kamar putrinya dan menuju kamarnya dan disana sudah ada Wulan.


"Minum lah dulu, jika mertua mu datang ia akan mengira kamu mabuk berat. Tapi jangan terlalu banyak."


Ketika kuping Wulan mendengar suara khas lelaki yang sudah cukup berumur memanggil-manggil nama Hanna membuat Wulan menyudahi fokusnya oada gadget.


"Lepaskan, lepaskan saya Pak Rangga.... Saya mohon...."


Suara Wulan berteriak sambil mencakar-cakar dada bidang Rangga hingga terlihat goresan yang menyisakan darah di kuku-kuku Wulan. Tak Sampai disitu Wulan sengaja menyobek baju putihnya tadi.


Wulan menangis histeris dan berteriak meminta tolong. Mendengar pintu akan di dobrak membuat Wulan membiarkan Rangga kembali berada diatas tubuhnya.


"Braaak!"


"Ranggaaaa!"


Seorang lelaki tua yang tak lain adalah Tuan Daminson menarik Rangga dan memukul Rangga Berkali-kali.

__ADS_1


"Bugh. Bugh. Bugh."


Mata dan ujung bibir Rangga mengeluarkan darah. Tuan Daminson menghentikan pukulannya karena sang istri yang menarik tubuh kekar lelaki paruh baya itu. Lalu sang istri mengambil selimut dan menutupi tubuh Wulan yang penampilan nya telah berantakan.


Soraya, dia adalah ibu dari Alleyah. Wanita paruh baya itu memeluk Wulan karena melihat rambut Wulan yang acak-acakan serta mata Wulan yang sembab serta beberapa memar bisa terlihat jelas oleh nyonya Soraya bahwa wanita yang didepan nya ini beberapa waktu lalu berjuang membebaskan diri dari menantunya.


Rangga masih saja meracau menyebut nama Alleyah dengan posisi tubuh yang masih polos. Tuan Daminson melempar sebuah selimut tipis menutupi tubuh sang menantu.


"Bajing*n kau Rangga. Apa yang terjadi padamu."


Tuan Daminson duduk di sofa yang berada di dalam kamar Alleyah. Suara tangis Wulan masih terdengar begitu pilu. Soraya yang merasa iba membawa Wulan ke kamar sebelah untuk menenangkan diri.


"Tenang lah. Apa yang terjadi?"


Ia ingin melaporkan kejadian ini pada Polisi karena tidak terima dengan perlakuan Rangga padanya.


Soraya pun terdiam. Pikirannya tertuju pada Hanna, cobaan kembali akan dihadapi oleh sang cucu. Belum genap satu tahun Mommy meninggal dunia. Kini ia harus mendengar bahwa sang ayah menodai wanita di mansion nya.


Soraya meninggalkan Wulan sendiri diruangan itu dan mencari keberadaan sang suami. Sang suami ternyata berada di tepi kolam renang.

__ADS_1


"Sayang, aku mohon lakukan sesuatu. Jangan biarkan Hanna Kembali bersedih karena peristiwa ini."


Soraya menggenggam tangan sang suami. Tuan Daminson menatap istrinya penuh rasa cinta.


"Aku akan menutup kasus ini dan mengirim wanita itu ketempat lain."


Suara Tuan Daminson terdengar cukup tegas.


"Lalu Rangga akan mencari kepuasan di luar dengan wanita-wanita lain? Ayolah Daminson, dia lelaki yang setia. Setidaknya biarkan dia menikahi wanita itu karena ku dengar dia kemari karena permintaan Hanna. Dan anak kecil yang tidur disebelah Hanna tadi adalah putrinya."


Soraya menatap ke arah kolam renang seolah memikirkan sesuatu.


"Kita tunggu Rangga sadar, dan kita lihat bagaimana hubungan Hanna dengan wanita itu."


Tuan Daminson memeluk sang istri dan mengusap-usap lengan sang istri.


Rangga yang memasang alat perekam suara di setiap ruang pun mengirim pembicaraan itu ke ponsel Wulan.


Wulan yang sedang tertawa bahagia karena Soraya dan Tuan Daminson termakan jebakan nya.

__ADS_1


"Ternyata Alleyah mewarisi kebaikan hati kalian berdua, hingga kalian sangat mudah masuk dalam perangkap ku."


Wulan pun meneteskan sesuatu ke dalam kedua matanya hingga membuat matanya memerah.


__ADS_2