ISTRI YANG DIANGGAP BUTA

ISTRI YANG DIANGGAP BUTA
BAB 11 BERJUANG UNTUK CINTA


__ADS_3

"Klontang!"


Tiba-tiba sebuah suara seperti benda terjatuh dari dalam sebuah ruangan kecil yang ada di dekat Ashray dan Jhenny. Ashray yang terkejut menghentikan perkataan nya dan berniat untuk melihat ke dalam ruangan itu.


Namun baru saja akan bergerak ke arah gudang itu, Jhenny menarik tangan Ashray.


Jhenny menatap Ashray penuh damba. Gadis yang memiliki karakter keras kepala dan pemilih dalam bergaul itu tersenyum manis. Ia berharap perkataan Ashray barusan adalah sebuah kenyataan bukan mimpi.


Ashray mengurungkan niatnya untuk melihat apa yang terjadi di gudang dan diliriknya pintu gudang itu terbuka. Pintu itu bergoyang seperti barusan dibuka dan ditinggalkan seseorang.


"Jhen."


Ashray terlihat memijat pangkal hidung mancungnya. Seolah sedang bingung apa yang akan ia lakukan.


Jhenny baru ingin memeluk tubuh Ashray dengan tiba-tiba. Jhenny melingkarkan tangannya di pinggang Ashray. Aroma parfum the Woody Oriental yang terbuat dari kapulaga, thyme, bergamot, jeruk nipis, serta farme mandarin Sicilian membuat Jhenny menghirup napas dengan dalam seakan penuh kenikmatan berada dipelukan lelaki yang memiliki tubuh atletis itu.


Ashray yang terpaku beberapa detik dengan cepat melerai pelukan Jhenny. Ashray memegang ke dua pundak Jhenny. Ashray tidak menyangka jika gadis itu begitu mencintai nya. Karena pada Saat Ashray melerai pelukan nya, Jhenny telah meneteskan butiran bening di kedua pipinya.


"Jhen. I'm so sorry. But You are just my best Friend nothing more....."


(Jhen. Maafkan aku. Tetapi kamu hanya teman terbaik ku tidak lebih.....)


"Aku tidak pernah meminta ada cinta ini untuk mu Ray, aku tidak pernah ingin memilih mencintai kamu. Tetapi perlakuan mu yang begitu baik, manis selama persahabatan kita membuat aku menginginkan lebih."

__ADS_1


Jhenny memegang kedua wajah Ashray dengan lembut. Jhenny mengusap lembut brewok tipis di wajah Ashray yang mirip Fachri Albar.


"Tidak bisakah aku ada di ruang hati mu sedikit saja Ray, bukan sebagai sahabat mu."


Jhenny kembali melanjutkan ungkapan hatinya masih dengan mata berair.


Ashray menepis pelan tangan Jhenny. Ashray berjalan ke arah tembok pembatas. Ashray menatap tajam pemandangan di depan nya dan terlihat menghembuskan napas dengan kasar.


"Kamu tahu Jhen. Kamu adalah orang pertama yang aku temui dalam dunia ku yang tidak memandang derajat ku. Bahkan semua sekolah dan kampus kita tahu aku bisa sekolah dan kuliah karena beasiswa Jhon Company. Dan kamu orang pertama yang mau duduk makan di kantin bersama ku, kamu selalu membela ku disaat orang merendahkan ku. Perhatian itu aku dapat kan karena kamu hanya memandang aku bukan siapa aku."


Suara Ashray terhenti melihat Jhenny kembali memeluk Ashray dari belakang.


"Lanjutkan Ray. aku akan mendengar kan tiap kata yang kamu ucapkan hari ini." Jhenny melingkarkan tangan nya di perut Ashray.


"Saat itu aku merasa kamu orang dan wanita spesial terlepas aku tahu kamu menyukai ketampanan ku. Namun setelah aku bertemu dengan Alleyah di Swiss. Aku sadar rasa nyaman bersama mu hanya sebagai sahabat, sebagai brother karena aku anak tunggal."


"Dan.... Aku tahu rasa kamu untuk ku bukan cinta tetapi Obsesi.Obsesi untuk memiliki orang yang kamu suka. Karena jika kamu mencintai aku, kamu tidak akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan aku Jhen."


Ashray menatap mata Jhen dengan tatapan dingin.


"Kau masih menuduh ku Ray?"


"Aku tahu kamu dokter Saraf terhebat di rumah sakit ini. Operasi mu tidak pernah gagal. Bahkan pasien yang kondisi nya lebih parah dari Alleyah bisa kau selamatkan. Namun ada apa dengan Alleyah? Itu karena kamu tidak menyuntikkan anestesi lokal ke dalam jaringan yang terpotong pada lutut Alleyah!"

__ADS_1


Suara Ashray sedikit parau dan tangan kanan Ashray memegang kasar dagu Jhenny.


"Aku sengaja meminta pada Mr Jhon untuk bisa masuk dalam ruang operasi dan aku pun sudah berkonsultasi pada dokter William. Namun ketika di ruang operasi tindakan itu kamu lewatkan Jhen. Aku tidak berpikir buruk tentang mu. Tapi hari ini kamu membuktikan bahwa kamu bukan dokter tapi Iblis yang berada di balik sayap peri."


Ashray menatap tajam Jhenny. Ashray masih mengembuskan napas dengan kesal. Terlihat bule kelahiran Surabaya itu menarik ujung rambutnya dengan satu tangan berada di pinggangnya.


"Tidak kah kamu ingat kode etik kita Jhen?"


Suara Ashray masih terdengar parau dan kini berjalan meninggalkan Jhenny.


"Tidak bisakah kau buka sedikit hati mu untuk ku Ray....."


Suara Jhenny masih diiringi Isak tangis.


"Hanya sebagai sahabat dan keluarga. Tidak untuk cinta Jhen." Ashray menghentikan langkahnya namun tidak berbalik.


"Kau akan melawan Mr Jhon dan Putra nya dengan cinta mu?"


Jhenny memprovokasi Ashray yang dari tadi mencoba bersabar menghadapi Jhenny. Ashray berbalik dan melangkah ke arah Jhenny.


"Jika sebuah cinta itu adalah sebuah kebahagiaan maka aku akan berjuang untuk mendapatkan kebahagian itu Jhen." Suara Ashray terdengar tegas dengan wajah yang terlihat sangat dingin.


Ashray meninggalkan Jhenny sendiri di roof top rumah sakit itu. Selepas kepergian Ashray membuat Jhenny melempar sebuah kayu yang ada disebelah nya kearah pintu yang baru saja ditutup Ashray.

__ADS_1


"Berjuanglah Ray. Maka aku pun akan berjuang. Kita lihat cinta siapa yang akan bahagia atau kita akan mengalami rasa yang sama? rasa kehilangan cinta!"


Jhenny meremas Jas putihnya dan menatap pintu yang ada dihadapan nya dengan tatapan nanar.


__ADS_2