
Terik nya matahari siang ini tak begitu dirasakan oleh 2 anak kecil yang masih berpakaian sekolah lengkap.
Dua anak kelas 2 SD itu sedang duduk didepan sebuah makam. Di batu nisan yang mulai ditumbuhi rumput-rumput liar tertulis sebuah nama.
Alleyah Salsabilah Binti Daminson. Hanna memeluk baru nisan yang berwarna hitam itu. Air mata putri Alleyah itu membasahi marmer yang tertulis kan nama Alleyah dengan tinta emas.
Bintang yang duduk disebelah Hanna ikut merasakan kesedihan Hanna. Ia mengusap lembut pundak Hanna.
"Sudahlah Na. Mommy mu pasti bersedih jika kamu menangis. Apakah kamu tidak ingin mengenal kan aku pada Mommy mu?"
Bintang menaburkan bunga yang ia beli di depan gerbang pemakaman tadi. Kembang yang terdapat warna warni.
Hanna menyapu lembut Nisan ibunya dengan tangan kanannya. Matanya masih menghasilkan air mata kerinduan pada sang ibu. Ingin ia bercerita jika ia sedih akan perlakuan Wulan padanya namun ia tak ingin menyakiti hati Bintang. Saudari nya itu memilikinya hari dan perhatian yang baik pada Hanna.
"Mommy, kenalkan ini Bintang. Dia anak dari mama Wulan. Mama Wulan sekarang menikah dengan Daddy. Bintang menemani aku selalu Mommy. Mommy jangan bersedih lagi."
"Hallo Tante Leyah, aku yakin Tante pasti orang yang cantik dan baik. Karena aku bisa melihat Tante dalam diri Hanna. Tante tahu, dia selalu terlambat melakukan semua hal. Tapi tenang saja aku akan jadi alarm nya Tante. Tante Leyah, Kenapa Tante terlalu baik. Jadinya seakrang Hanna itu susah untuk diajak senang-senang. Hehehe."
__ADS_1
Bintang terlihat berbicara pada batu nisan itu. Ya, Bintang memang merasa aneh dengan Hanna karena saudaranya itu terlalu polos bagi Bintang. Saat mereka akan ke makam Allayeh mereka harus berdebat kecil dulu.
Hanna yang tidak mau pergi jika tidak meminta izin Daddy nya. Sedangkan Bintang mengajak Hanna ke makam Alleyah sepulang sekolah dengan naik angkot lalu berjalan cukup jauh dari tempat berhenti angkot ke pemakaman elit itu.
"Apakah kamu tidak pernah berbohong pada Mommy mu?"
Percakapan mereka saat berjalan kaki menuju jalan besar untuk mencari angkot karena mereka akan pulang setelah Hanna puas menangis di atas batu nisan Alleyah.
Hanna menggelengkan kepalanya. Sedangkan Bintang heran. Dan kembali bertanya seolah bingung apakah benar jika Hanna tak pernah berbohong pada kedua orang tuanya.
"Apakah Mommy mu tidak pernah marah?"
"Mommy tidak pernah memarahi ku. Dan aku tidak pernah berbohong. Apakah kamu sering berbohong karena mama Wulan sering memarahi mu?"
Hanna berjalan disebelah Bintang dengan memegang tali tas sekolah nya.
"Aku sering berbohong dengan mama. Terkadang aku harus berbohong jika aku mengerjakan PR padahal aku menggambar. Atau aku memakan permen. Kamu bayangkan, aku tidak boleh makan permen dan coklat karena kata mama itu membuat kita gendut dan tak menarik. Aku masih kecil kenapa harus terlihat cantik. itu sungguh menjengkelkan."
__ADS_1
Bintang menendang kerikil yang menghalangi langkahnya.
"Awwwhh..."
Rintihnya karena kaki nya terasa sakit setelah menendang kerikil itu.
"Dan apakah Daddy juga tidak pernah marah padamu?"
Tanya bintang pada Hanna.
"Tidak. Daddy tidak pernah marah. Daddy hanya akan mengelitik ku kalau aku tidak menepati janji atau aku ngambek karena Daddy lupa akan janjinya."
Tiba-tiba.
Tiiiiiinnnnn.
Ciiiit!
__ADS_1
"Braaakk!"