
Hanna masih menangis didalam kamar nya. Putri semata wayang Alleyah itu menangis sambil memeluk foto Alleyah. Gadis mungil itu terlihat begitu kehilangan Mommy nya. Bahkan sudah hampir satu Minggu Hanna tidak berangkat sekolah.
Rangga mencoba membujuk putrinya itu dengan cara yang selama ini Alleyah lakukan jika Hanna sedang merajuk padanya.
"Mommy.... Daddy yakin sekarang Mommy pasti bersedih disana karena Mommy melihat putri kita tidak mau sekolah, tidak mau makan dan tidak mau keluar dari kamar. Bagaimana jika Putri kecil kita juga sakit. Siapa yang akan menemani Daddy dan siapa yang akan mencintai Daddy?" Rangga mengambil foto dari pelukan Hanna dan berbicara pada foto itu. Terlihat Hanna menatap Rangga dengan mata sembab nya.
"Dad... kenapa Mommy meninggalkan kita Dad. Apakah Mommy tidak sayang kita?" Hanna menatap foto ditangan Rangga.
Foto itu diambil ketika Alleyah sedang menggendong Hanna di ulang tahun Hanna yang ke 3.
"Mommy disayang oleh Allah sayang. Mommy pun sangat menyayangi kita. Maka kalau Hanna sayang Mommy, Hanna harus jadi anak yang kuat seperti yang Mommy ajar kan kalau kita harus bisa memberi semangat sama diri kita sendiri. Tidak selamanya Mommy dan Daddy ada disisi Hanna". Rangga mengusap rambut panjang putrinya.
"Apakah Mommy akan bahagia jika melihat kita juga bahagia Dad?" Hanna kembali mengambil foto Alleyah dari tangan Rangga dan menatap nya".
"Tentu. Kamu lihat Daddy juga harus tetap kekantor. Agar Daddy tetap cari uang untuk Hanna. Sampai Hanna bisa jadi dokter. Daddy juga harus makan yang banyak biar bisa jaga anak Daddy. Mommy akan marah dan sedih jika Hanna atau Daddy tidak makan, tidak sekolah dan tidak semangat menjalani hidup. Mommy dan kita hanya terpisah alam sayang. Tapi Mommy melihat dan merasakan semua yang kita rasakan" Rangga meletakan foto Alleyah ke nakas yang berada disebelah tempat tidur Hanna.
"Baiklah hari ini Hanna akan ke sekolah Dad, tapi nanti sore kita ke makam Mommy ya dad?" Pinta Hanna pada Rangga.
__ADS_1
"Baik, kita ke makam Mommy nanti sore ya." Rangga keluar dari kamar Hanna dan memanggil Bik Inah.
Hari beranjak sore, Rangga pun menepati janji nya. Namun seolah tak sabar untuk bersama istri sirihnya, Rangga menghubungi Wulan dan seolah mereka ini aktris papan atas yang pandai bersandiwara bahkan hari ini pun mereka akan kembali bersandiwara.
"Dear, datanglah lebih awal. Aku akan pulang menjemput Hanna. Dengar berusaha lah menjadi wanita yang Penyayang dan lembut. Karena Hanna selalu dimanja oleh Alleyah" Rangga menepikan mobilnya di halaman rumahnya.
"Oke honey, tenang saja. Jangan lupa bayaran nya untuk setiap akting ku. Aku ingin malam ini kita menghabiskannya di kamar mu oke?" Rengek Wulan manja pada Rangga.
"Tenang saja rencana kita akan berjalan mulus asal Hanna bisa menerima mu oke."
"Dad... Aku pikir Daddy akan lupa lagi dengan janji Daddy pada ku." Suara riang Hanna terdengar dan putri cantik Rangga itu berhambur memeluk Rangga. Karena biasanya Rangga akan beralasan meeting dan lupa.
Tak cukup waktu lama Rangga dan Hanna pun sampai di area pemakaman. Ketika mereka berjalan ke arah makam Alleyah tampak sesosok wanita yang berkerudung hitam sedang menangis tersedu-sedu dan diatas makam Alleyah telah dipenuhi oleh bunga mawar merah.
"Ley.... kenapa kamu begitu cepat meninggalkan kami Ley. Kau tahu aku sangat kehilangan." Tangis wanita itu diatas pusara Alleyah dan terlihat di pipi nya berlinang air mata. Mata wanita itu pun terlihat sembab.
Hanna dan Rangga berhenti di sebelahnya dan menatap wanita itu.
__ADS_1
"Maaf anda siapa?" tanya Rangga pada wanita itu.
"Oh... maaf. Aku sahabat Leyah. Hanna... Kamu Hanna kan? aku sering melihat foto mu di ponsel Leyah dan Leyah sering bercerita pada Tante tentang kamu sayang."
"Siapa Tante?" tanya Hanna polos. Karena Hanna memang tidak mengenal wanita itu. Jika ada sahabat Mommy nya yang ia kenal adalah Margaretha. Sampai dekatnya mereka Alleyah meminta Margaretha menjadi pengacara di keluarga dan bisnis nya agar bisa bertemu dengan Margaretha.
"Tante teman Mommy mu. Bahkan saat terakhir Mommy mu bertemu dengan Tante, dia mengirim kan video ke tante." wanita itu menangis tersedu-sedu sehingga Hanna yang memiliki hati yang lembut mencoba memeluk wanita itu. Karena merasa wanita itu teramat mencintai Mommy nya. Karena tidak mungkin ada orang yang menangis seperti itu jika tidak amat mencintai Mommy nya.
"Maaf nona siapa nama Anda? karena aku tidak pernah bertemu dengan mu serta mengenal mu. Leyah pun tak pernah bercerita kepada ku tentang sahabat nya selain Margaretha?" Rangga yang sedikit menarik Hanna dari pelukan wanita itu.
"A...ku... Wulan. Wulan Sari. Aku bertemu dengan Leyah di web online karena kebetulan aku dan Leyah pernah satu kelas di author pemula. Bukan kah Nama pena Leyah adalah Sebutir Debu?" ucap wanita itu sambil mengusap nisan Alleyah dan memandang pusara itu dengan wajah sendu.
Hanna kembali menyentuh tangan Wulan. Ya hanya Hanna dan Rangga yang tahu jika Alleyah sebelum mengalami kebutaan memang memiliki hobi menulis novel di aplikasi novel online. Dan bernama pena Sebutir Debu.
"Aku bisa merasakan apa yang Tante rasakan. Mommy orang baik, maka pasti akan banyak orang merasa kehilangan Mommy" kini Hanna duduk disebelah nisan Alleyah dengan pipi yang dibanjiri air mata.
Namun dibelakang Hanna, Rangga dan Wulan saling pandang dengan tatapan senang. Entah kemana wajah sendu yang ditonton kan oleh Wulan beberapa detik lalu. Bahkan Wulan mengerlingkan mata nya dengan nakal kepada Rangga dibelakang Hanna, yang sedang menangis menghadap pusara Alleyah.
__ADS_1