
Hubungan Aika dan Erin yang baru berjalan beberapa bulan, membuat mereka tampak begitu bahagia dan mesra. Namun begitu keduanya tetap menjaga sikap dan perilaku, saat sedang berada di luaran sana.
"Kalian berdua sudah pulang..?! Dari mana saja, jam segini baru pulang..?" tanya se'orang wanita paruh baya yang tidak lain adalah Ibu dari Erin, Ermita..
"Biasalah Bu, aku sama Aika habis jalan-jalan terus belanja,hee.." jawab Erin sembari membongkar barang belanjaannya yang terlihat begitu sangat banyak.
"Maaf yaa Bu, tadi aku udah ajak Erin untuk cepat pulang. Tapi Erin masih mau belanja, besok-besok kalau aku ajak Erin keluar lagi aku akan bawa pulang Erin lebih cepat, Bu.." ujar Aika yang merasa bersalah pada Bu Ermi, karena sudah membuat wanita itu menunggu dan merasa cemas.
"Jadi begitu, yaa sudah tidak apa-apa. Tapi lain kali jangan di ulangi, Ibu merasa sangat cemas memikirkan kalian berdua. Takut kalau terjadi sesuatu pada kalian.." ujar Ibu Ermi pada Aika, lalu menatap ke arah Erin yang sedang sibuk mencoba pakaian barunya.
"Banyak sekali barang belanjaan kamu, Erin.. Kan sudah Ibu beritahu berulang kali, jangan terlalu boros dengan uang. Kita ini orang susah, harusnya uangnya kamu tabung saja.." seru Ibu Ermi sambil menarik nafasnya dengan berat, karena dari dulu kebiasaan putrinya itu tidak juga berubah.
"Ini semua bukan aku yang beli kok Bu, tapi Aika yang beliin. Soalnya dia kan baru habis gajian.." sahut Erin dengan tersenyum senang, karena semenjak bersama dengan Aika apapun yang Ia mau, pasti akan di penuhi dan dapatkan.
"Kenapa repot-repot, Aika..? Kamu jangan terlalu memanjakan Erin, dia itu terlalu boros dan tidak bisa memilih kebutuhan mana yang lebih penting. Lain kali, lebih baik uangnya kamu gunakan untuk kebutuhan kamu dan juga keluarga kamu.."
Ujar Ibu Ermi yang merasa tidak enak terhadap Aika, karena selama ini Aika sudah begitu banyak membantu dirinya dan juga Erin. Bahkan untuk masalah obat-obatan saja, Aika yang selalu membelikan untuk dirinya.
Dulu kehidupan Ibu Ermi dan Erin terbilang sangat cukup dan baik, namun sejak kecelakaan yang menimpa Ibu Ermi saat sedang bekerja di pabrik. Membuatnya mengalami kelumpuhan pada sebelah kakinya, dan Ia pun hanya bisa mengandalkan pengobatan alternatif untuk bisa mengobatinya.
"Gak apa-apa kok Bu, kebetulan ada rezeki lebih untuk Erin dan juga Ibu.." ucap Aika sembari menyerahkan sebuah amplop yang berisi sejumlah uang, yang seperti biasa Aika berikan pada Ibu Ermi untuk biaya pengobatan.
__ADS_1
"Terimakasih banyak yaa Aika, kamu sudah sangat baik sekali sama Ibu dan Erin. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan kamu yaa, Nak.. Maafkan Ibu, karena selama ini sudah banyak merepotkan kamu.." ucap Ibu Ermi dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Udahlah Bu, gak usah ngomong gitu. Kan Aika sendiri yang mau membantu kita, dan kita juga gak pernah minta.." sahut Erin dengan ketus.
"Aamiin.. Iyaa Bu, aku ikhlas kok bantuin Ibu. Aku malah seneng banget bisa membantu meringankan sedikit beban Ibu.." balas Aika sambil tersenyum dan mengusap air mata Ibu Ermi yang selama ini sudah Ia anggap seperti Ibunya sendiri.
"Kalau gitu Aika pamit dulu yaa Bu, udah malam juga.." ucap Aika yang bangkit dari tempat duduknya dan menyalami Ibu Ermi..
"Hati-hati di jalan yaa Aika, jangan ngebut bawa motornya.." seru Ermi yang langsung mengambil tongkat miliknya, yang selama ini Ia gunakan untuk membantunya agar bisa berjalan.
"Ibu ngapain sih ngomong terimakasih terus sama Aika..? Aku bosen tau Bu dengernya.." seru Erin dengan ketus.
"Tetap aja Ibu gak perlu bilang terimakasih terus, yaa udahlah aku mau masuk ke kamar dulu, Bu.." sahut Erin yang berjalan menuju ke arah kamar, dengan menenteng banyak barang-barang di kedua tangannya.
🐝
"Tumben jam segini baru pulang, Ai..?" tanya Alya pada Aika, dia adalah Kakak perempuan Aika yang memiliki se'orang bayi kecil. Sedangkan suaminya telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu karena kecelakaan, bahkan sebelum Alya melahirkan anak pertama mereka.
"Iyaa Kak, tadi Erin minta temenin belanja dulu. Ini ada sesuatu buat Kakak sama Syira.." ucap Aika sembari menyerahkan sebuah bungkusan pada Kakaknya.
"Terimakasih yaa, Tante Aika.." sahut Alya dengan menirukan suara anak kecil, lalu membuka apa isi dari bungkusan itu.
__ADS_1
"Sama-sama dedek Syira.." balas Aika yang ikut menirukan Kakaknya. "Aku masuk ke kamar dulu yaa, Kak.."
"Iyaa Ai, kamu istirahatlah terus tidur. Jangan begadang, udah malam.." sahut Alya yang sambil menggendong bayinya.
Aika pun segera masuk ke dalam kamarnya, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sembari mengambil ponsel yang ada di saku djaket miliknya. Ia pun mulai memeriksa, apakah ada pesan masuk dari Erin atau tidak.
"Apa mungkin Erin udah tidur yaa..? Tumben gak ada telepon atau kirim pesan.." gumam Aika sembari mencoba menghubungi kekasihnya itu, untuk sekadar mengucapkan selamat tidur seperti yang biasa Ia lakukan setiap malamnya. Namun nomor Erin tidak bisa di hubungi, dan Aika pun akhirnya memilih untuk tidur karena besok pagi Ia harus bangun lebih awal karena ada pekerjaan yang harus Ia lakukan.
Sementara itu di tempat yang lain, Erin terlihat masih saja sibuk dengan semua barang-barang yang tadi Ia beli bersama Aika. Hingga Ia pun tanpa sadar tidak mengetahui, saat Ibunya masuk ke dalam kamar dan tengah melihatnya.
"Kenapa kamu belum tidur juga, Erin..? Besok bukannya kamu harus bekerja.." ucap Bu Ermi yang hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepala melihat tingkah dan kelakuan putri semata wayangnya itu.
"Besok aku mau libur aja Bu, kan aku mau jalan-jalan sama teman-teman aku,hee.." jawab Erin sembari membereskan semua barang dan menyimpannya ke dalam lemari pakaian.
"Bukannya waktu itu kamu sudah libur kerja..? Rubah kebiasaan buruk kamu itu Erin, jangan sampai kamu di pecat lagi karena sering tidak masuk kerja.." ucap Ibu Ermi mengingatkan, karena bukan sekali dua kali Erin di keluarkan dari pekerjaannya karena sering tidak masuk kerja dengan alasan yang tidak masuk akal.
"Yaa udah Bu, lihat besok aja. Sekarang aku mau tidur, capek. Ibu buruan keluar dan tutup pintunya.." sahut Erin yang langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sedangkan Ibu Ermi yang melihat itupun hanya bisa menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya....
Bersambung...
🙏😊 A59⭐
__ADS_1