
"Kamu kenapa Er, dari tadi cemberut aja..? Pasti lagi berantem lagi yaa sama Aika.." tanya Sella sambil menebak-nebak apa yang menjadi alasan Erin hanya diam dan cemberut sejak tadi.
"Kamu udah tau, tapi masih aja tanya lagi,mmmh.." gerutu Erin seraya memasang raut wajah kesal, karena Ia sendiri tidak ingin membahas masalah itu.
"Ohh,, jadi beneran kalian berantem,mmm.. Kamu ini Er gak bosan-bosan cari masalah terus.." ucap Sella yang justru semakin merasa kesal mendengar apa yang temannya itu katakan barusan.
"Udah udah cukup, aku gak mau bahas soal itu lagi. Kamu buat suasana hati aku jadi semakin gak enak aja.." balas Erin yang saat itu juga memilih untuk menjauh dari Sella, seraya menyibukkan dirinya dengan menata dan membersihkan barang-barang yang ada di sana.
Sella pun hanya menatapnya sambil menggelengkan kepala dan menarik nafasnya dengan berat, "Erin masih aja seperti itu, gak pernah mau berubah. Kasian Aika.." gumam Sella dalam hati, meski Ia tidak menyukai hubungan mereka tapi Ia juga tidak ingin Aika terus-menerus menghadapi sikap Erin yang seperti itu.
"Sell, Sella..!" teriak Erin memanggil Sella yang sontak saja terkejut karena sibuk dengan pikirannya.
"A-ada apa, Er..? Kok teriak gitu manggil aku..?" tanya Sella dengan sedikit tergagap, seraya menoleh ke arah Erin berada.
"Tuh handphone kamu dari tadi bunyi, melamun terus sih dari tadi.." ucap Erin sembari menunjuk ke arah arah tempat Sella meletakkan ponselnya.
Sella yang tersadar dengan bunyi ponselnya pun segera berjalan menuju ke sebuah meja dan mengambil ponsel miliknya. "Mau apa lagi dia telepon terus..?!" ucap Sella dalam hati seraya mematikan teleponnya, lalu menyimpannya ke dalam tas yang tergantung di pojok ruangan itu.
"Siapa yang telepon Sell, kenapa gak di angkat..?" tanya Erin dengan rasa penasaran, terlebih saat melihat perubahan raut wajah Sella yang seketika itu berubah setelah melihat ponsel miliknya berbunyi.
"Hahh..? Bukan siapa-siapa Er, cuma orang iseng ngerjain aja. Yaa udah aku matikan, dari pada telepon dan gangguin terus.." jawab Sella yang terpaksa berbohong, karena Ia tidak ingin Erin mengetahui siapa orang yang terus saja menghubunginya.
__ADS_1
Sementara itu, di tempat yang lain terlihat se'orang pria dengan raut wajah yang kesal sambil memandangi ponsel yang ada di tangannya.
"Si**..!! Dia matikan teleponnya lagi, aku harus secepatnya pergi ke sana.." umpat laki-laki itu seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu bergegas pergi menuju sebuah mobil yang tidak jauh dari sana.
⭐
"Kamu kenapa Ai, kok dari tadi diam aja..? Lagi ada yang di pikirkan yaa..?" tanya Ashika yang sedari tadi memperhatikan Aika yang terlihat seolah sedang bingung memikirkan sesuatu.
"Gak ada apa-apa Shik, cuma--"
"Cuma apa Ai, ayo ngomong aja sama aku. Jangan buat aku jadi penasaran gini.." pinta Ashika pada Aika yang seolah ragu untuk mengatakan tentang apa yang Ia pikirkan, terlebih saat sesuatu itu berkaitan dengan Ashika sendiri.
"Aika kenapa yaa, apa ada masalah atau kenapa..? Mmmh..." gumam Ashika dalam hati, sembari menghela nafasnya dan berlari kecil mengejar Aika yang sudah berada di parkiran mobil.
Setelah hampir setengah jam perjalanan, Aika pun tiba di halaman rumahnya bersama Ashika. "Kamu gak mau mampir dulu, Shik..?" tanya Aika seraya menatap ke arah Ashika.
"Gak Ai, aku mau langsung pulang aja. Udah sore juga, sekali lagi terimakasih yaa udah ngizinin aku buat nginap di rumah tadi malam.." ucap Ashika dengan tersenyum penuh arti, seolah itu sesuatu yang memang benar-benar Ia hargai. Mungkin karena di saat keadaan dan suasana hatinya sedang tidak baik, dan Aika ada untuk menemaninya.
"Iyaa iyaa Shik, sama-sama. Kamu ngomong terimakasih terus, seperti sama orang lain aja.." balas Aika..
"Yaa udah kalau gitu, aku pulang dulu yaa.. Sampai ketemu besok.."
__ADS_1
Setelah berpamitan pada Aika, Ashika pun segera mengemudikan mobilnya. Hal itu di lihat oleh Alya, tanpa menunggu lama Ia lalu menghampiri Aika dan menariknya masuk ke dalam rumah.
"Kakak kenapa sih narik tangan aku gini..?" tanya Aika dengan raut wajah yang bingung sekaligus perasaan yang tidak enak.
"Sekarang kamu duduk dan jawab pertanyaan Kakak.." ucap Alya sembari mendudukkan adik semata wayangnya itu ke kursi, lalu bersiap untuk mengajukan beberapa pertanyaan.
"Hadeeeeuh,, bakal di interogasi lagi nih.." gumam Aika dalam hati seraya menarik nafasnya dengan dalam.
"Jawab pertanyaan Kakak dengan jujur Ai, ada hubungan apa kamu sama Ashika..? Kalian pacaran yaa..? Sejak kapan..? Bukannya kamu masih menjalin hubungan sama Erin..?"
Mendengar pertanyaan dari Alya itupun, Aika hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Kak Alya, aku dan Ashika itu cuma temenan aja gak lebih. Mana mungkin aku ada hubungan sama dia, Ashika itu punya pacar Kak dan aku juga udah punya Erin. Kakak ada-ada aja mikirnya, yaa udah aku mau masuk kamar dulu.." jawab Aika yang langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju ke arah kamar.
"Tapi Ai, tadi malam Ashika nginep dan tidur bareng sama kamu.." ucap Alya yang berusaha untuk mendapatkan jawaban yang lebih bisa membuatnya puas dan percaya.
"Iyaa memang benar Kak, tapi bukan berarti ada hubungan. Pikiran Kakak harus di cuci dan di bersihkan itu, biar gak mesum terus.." ledek Aika sembari masuk ke dalam kamarnya.
"Memang Kakak pakaian kotor yang harus di cuci, enak aja kamu ngomong Kakak mesum,mmmmh.." gerutu Alya yang berdecak kesal mendengar perkataan dari adiknya itu...
Bersambung...
🙏😊 A59⭐
__ADS_1