
"Berapa kali harus saya katakan, hati-hati kalau merapikan barang-barang yang ada di sini..! Ini sudah yang kedua kalinya kamu menjatuhkan barang, dan kalau sampai tiga kali saya tidak akan segan-segan untuk memecat kamu. Mengerti..!" seru Pak Heru pemilik toko pecah belah tempat Erin bekerja.
Setelah kepergian Pak Heru yang terlihat emosi, Erin pun segera membersihkan pecahan kaca dari toples kaca yang tidak sengaja Ia jatuhkan. "Sini aku bantuin, Rin.." ucap Sella, teman dekat Erin yang juga bekerja di tempat itu.
"Sombong banget itu orang, padahal aku kan gak sengaja jatuhinnya.." gerutu Erin dengan raut wajah kesalnya.
"Kamu yang salah Rin, kenapa gak hati-hati pegang toples kaca-nya. Kalau gini terus, yang ada kamu beneran di pecat lho nanti.." ujar Sella sambil menggelengkan kepalanya, melihat sikap ceroboh Erin yang kurang berhati-hati dalam bekerja.
"Kalau memang di pecat yaa udah, aku bisa kok kerja di tempat yang lainnya.." ucap Erin dengan nada sombong.
"Memang kamu mau kerja dimana, Rin..? Kamu kalau kerja kan gak pernah lama, ada aja kesalahan yang buat kamu sampai di pecat. Lebih baik sekarang kamu kerja di sini dengan baik, jangan sampai buat Pak Heru marah lagi. Apa lagi sampai memecat kamu.." ujar Sella yang sebenarnya merasa tidak enak terhadap Pak Heru, karena dirinya lah yang meminta bos-nya itu untuk menerima Erin bekerja di toko bersamanya.
"Yaa udah kamu bersihin yang selebihnya, aku mau ke kamar mandi dulu.." ucap Erin sambil berjalan ke belakang menuju ke kamar mandi.
"Rasanya aku jadi nyesel, karena udah ngajak Erin kerja di sini. Anaknya ceroboh gitu,mmmh.." gumam Sella dalam hati, lalu membawa pecahan toples kaca yang telah Ia kumpulkan ke tempat sampah.
"Oh yaa Sell, apa Niko ada ngubungin kamu..?" tanya Erin pada Sella yang tengah sibuk merapikan barang-barang yang ada di atas rak.
"Gak ada Rin, lagi pula buat apa kamu tanyain dia..? Kamu sekarang kan udah sama Aika.." jawab Sella yang mengetahui hubungan Erin dengan Aika selama ini, meski awalnya Ia sangat terkejut dan sempat melarang Erin untuk tidak menjalin hubungan dengan Aika. Namun setelah mendengar penjelasan dari Erin, Ia pun terpaksa menerimanya.
"Aku kan cuma tanya Sell, gak ada maksud apa-apa kok. Memang salah yaa..?!" sahut Erin yang selama ini tidak bisa melupakan mantan kekasihnya itu, yang sudah beberapa tahun yang lalu menemani dirinya.
"Gak salah sih, tapi aku pikir kamu udah ngelupain Niko dan gak mau tau lagi tentang dia.." balas Sella..
"Mana mungkin aku bisa ngelupain Niko gitu aja Sell, enam tahun bukan waktu yang sebentar. Ada banyak kebersamaan dan kenangan yang udah terjadi antara aku dan Niko.."
__ADS_1
Ujar Erin sembari menghela nafasnya, mengingat sosok Niko yang pernah sangat Ia cintai. Namun tiba-tiba pergi meninggalkan dirinya begitu saja tanpa jejak, membuat dadanya terasa sesak seketika itu juga.
"Udahlah Rin, gak usah di ingat-ingat lagi. Udah hampir dua tahun Niko menghilang dari kamu, lagi pula sekarang udah ada Aika. Yaa walaupun dengan hubungan yang gak pada umumnya,hee.." ucap Sella sambil tersenyum geli.
"Udah gak usah ngeledek gitu, toh kamu juga menikmati hasilnya kan.." sahut Erin yang ikut tersenyum menatap Sella..
Kini keduanya pun melanjutkan pekerjaannya masing-masing, sambil sesekali Erin melihat ponselnya hanya sekadar untuk memeriksa apakah Aika ada menghubunginya atau tidak.
⭐
Seperti biasa, setelah selesai membersihkan dirinya. Aika pun langsung bersiap-siap untuk menjemput Erin pulang kerja, hal itu di lakukannya hampir setiap hari dan atas keinginannya sendiri. Sebagai bentuk kepedulian dan perhatiannya pada Erin..
"Kamu seperti tukang ojek aja sih, Ai.. Hampir tiap hari jemput anak orang pulang kerja, memang Erin gak bisa pulang sendiri apa..?!" ucap Alya sembari menarik nafasnya, Ia merasa selama ini adiknya itu terlalu baik terhadap Erin..
"Nyenengin pacar maksudnya,mmmh.. Yaa udah sana jemput, jangan lupa kamu hati-hati.." balas Alya pada Aika yang langsung menyalakan motornya, lalu berlalu pergi menuju ke toko tempat Erin bekerja.
Setibanya di sana, terlihat Erin yang sudah berdiri menunggunya bersama teman dekatnya Sella. "Aku pulang duluan yaa, Sell.." ucap Erin seraya tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Gimana kerjaan hari ini, lancar..?" tanya Aika pada Erin yang sejak tadi hanya diam saja.
"Gak baik, aku kesel banget sama Pak Heru itu. Bisa-bisanya dia marahin aku cuma karena kesalahan sepele yang gak sengaja aku perbuat.." jawab Erin dengan nada kesal dan ketus.
"Memang kesalahan apa yang udah kamu lakuin, sampai Pak Heru jadi marah sama kamu..?" tanya Aika lagi.
"Pas aku lagi bersihin toples kaca, gak sengaja toplesnya lepas dari pegangan tangan aku dan akhirnya jatuh. Habis itu Pak Heru langsung marah-marah sama aku,mmmh.." ujar Erin dengan raut wajah kesalnya.
__ADS_1
"Ohh,, jadi gitu ceritanya, yaa udah kamu jangan kesel lagi. Lain kali kamu harus lebih hati-hati.." sahut Aika sembari tersenyum.
Tidak lama kemudian, keduanya pun telah tiba di depan rumah Erin yang langsung di sambut oleh Ibu Ermi yang kebetulan sedang duduk di teras depan. "Kamu sudah pulang Erin, ajak Aika masuk ke dalam rumah dulu.." ucap Bu Ermi pada Erin yang sedang melepaskan helm yang Ia gunakan selama dalam perjalanan pulang tadi.
"Gak usah Bu, aku mau langsung pulang aja. Soalnya udah sore juga.." sahut Aika yang langsung berpamitan pada Bu Ermi untuk pulang.
Setelah kepergian Aika, Bu Ermi pun segera masuk ke dalam rumah untuk menyusul Erin yang telah masuk terlebih dulu. "Erin, tunggu sebentar Ibu mau bicara.." ucap Bu Ermi yang langsung membuat langkah Erin terhenti.
"Memang Ibu mau ngomong apa..?" tanya Erin menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
"Lebih baik mulai besok kamu pulang kerja sendiri saja, jangan terus-menerus merepotkan Aika. Kasihan dia, baru pulang kerja setelah itu harus menjemput kamu.." ujar Bu Ermi yang merasa tidak enak karena menerima banyak kebaikan dari Aika..
"Harusnya Ibu itu senang, karena dengan begitu aku gak perlu keluar uang untuk naik ojek atau angkutan umum. Lagi pula kenapa Ibu gak ngomong sendiri aja sama Aika, karena itu juga kan atas kemauannya sendiri. Aku gak pernah minta dia untuk jemput aku.." sahut Erin yang mulai merasa kesal, lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Kalau Ibu gak mau ngerepotin Aika terus, yaa udah Ibu aja yang cari uang dan beliin aku motor.." ucap Erin yang langsung berjalan masuk ke dalam kamar.
"Tunggu, Erin..! Ibu masih belum selesai bicara.." seru Bu Ermi sambil menghela nafasnya dengan berat.
"Anak itu kenapa keras kepala sekali, apa dia tidak kasihan padaku.." gumam Bu Ermi dalam hati yang merasa sedih melihat sikap Erin terhadap dirinya.
Sejak Ayah Erin meninggal dan Ia sudah tidak bisa bekerja lagi, Erin menjadi sulit di atur dan sering kali membantah perkataannya. Kecuali dengan Niko, pria yang dulu pernah menjadi kekasih putrinya itu yang bisa membuat Erin menjadi sangat penurut dan juga bersikap sangat baik...
Bersambung...
🙏😊 A59⭐
__ADS_1