Jangan Pernah Kembali

Jangan Pernah Kembali
Terbiasa Dengan Rasa Kecewa


__ADS_3

Malam itu,


Saat Ashika ingin pergi ke rumah Aika untuk mengajaknya jalan-jalan, tiba-tiba sebuah mobil yang tidak asing datang dan parkir di depan kost-an Ashika. "Mau apa lagi dia datang ke sini,mmmh.." ucap Ashika dalam hati seraya menarik nafasnya dengan berat, lalu menatap ke arah se'orang pria yang sangat Ia kenal tengah berjalan menghampirinya.


"Syukurlah kamu belum pergi, sayang.." ucap pria itu sembari ingin mencium pipi Ashika, namun Ia segera menolaknya.


"Aku harus keluar sekarang Ben, karena ada urusan.." Ashika segera beranjak pergi dari Beny, laki-laki yang telah menjadi tunangannya itu. Namun juga seringkali membuatnya kecewa dan sedih.


"Apa urusan kamu itu lebih penting dari hubungan kita..? Sampai kapan kamu terus menghindar dari aku, Ashika..?" tanya Beny yang membuat langkah Ashika pun terhenti.


"Harusnya kamu ngomong kalau memang aku melakukan kesalahan, jangan terus menghindar dari aku seperti ini.." ucap Beny sembari menatap Ashika yang kini membalikkan badannya dan menatap ke arah Beny dengan tatapan tajam, lalu berjalan mendekat padanya.


"Buat apa aku ngomong kesalahan yang udah kamu lakukan, kalau kamu terus saja mengulanginya.." sahut Ashika..


"Maksud kamu kesalahan aku yang mana, Shik..? Coba jelasin, aku gak ngerti.."


"Kamu gak perlu berpura-pura atau membohongi aku, Ben.. Aku tau kok di belakang aku, kamu menjalin hubungan dengan beberapa orang wanita termasuk rekan kerja kamu sendiri.." ujar Ashika yang membuat Beny saat itupun merasa terkejut, hal itu terlihat dari perubahan raut wajahnya.


"Kamu gak boleh nuduh aku tanpa bukti seperti itu, Ashika.."


Beny pun berusaha menenangkan dan meyakinkan Ashika, bahwa apa yang Ashika katakan itu adalah tidak benar.

__ADS_1


"Ohh, jadi kamu mau bukti..? Aku buktinya, aku lihat dengan mata aku sendiri kamu jalan di Mall sama perempuan, gandengan tangan dan memperlakukannya seperti se'orang kekasih.." ujar Ashika sambil mengepalkan tangannya, karena menahan amarah yang belakangan ini telah Ia tahan.


"Gak sayang, mungkin kamu salah lihat. Kalau memang itu benar aku, kenapa gak kamu samperin aja..?"


Beny berusaha mencari alasan untuk menutupi kesalahannya, namun kali ini Ashika tidak mau mendengarkan penjelasan apapun lagi.


"Cukup yaa Ben, aku gak mau buang-buang waktu membahas kesalahan kamu yang selama ini selalu kamu ulangi. Aku udah gak percaya lagi sama kamu..!" seru Ashika sembari berjalan menuju ke mobilnya, namun Beny segera menarik tangan dan menahannya agar tidak pergi.


"Maafin aku sayang, aku cuma jalan-jalan aja sama perempuan itu. Gak ada hubungan apa-apa, cuma berteman biasa.." Beny terus berusaha meyakinkan Ashika, tapi Ashika tetap memilih untuk pergi. Sekuat tenaga Ia melepaskan tangannya yang di pegang erat oleh Beny..


"Cukup, Ben..! Aku gak mau lihat muka kamu lagi..!" seruAshika yang sudah tidak bisa menahan emosinya, dengan cepat Ia segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.


"Tunggu, Shik..! Aku masih mau bicara sama kamu, kamu gak boleh pergi gitu aja dari aku. Ashika..!" teriak Beny pada Ashika yang tidak memperdulikannya.


"Sial..! Malah keburu lampu merah lagi,aakhh..!" umpat Beny meluapkan emosinya, lalu mengurungkan niatnya untuk terus mengejar Ashika yang kini entah pergi ke arah mana.


🌹


🌹


Sedangkan di tempat yang lain, Ashika sedang duduk bersama dengan Kakaknya sambil menonton televisi. Sesekali pandangan mereka tertuju pada Syira yang sedang asyik bermain sendiri.

__ADS_1


"Kamu sama Erin benar-benar udah gak ada hubungan lagi kan, Ai..?" tanya Alya pada Aika tiba-tiba, Ia ingin memastikan adiknya itu tidak lagi memiliki hubungan dengan Erin yang Ia sendiri tidak menyukainya.


"Iyaa Kak, aku sama Erin gak ada hubungan apa-apa lagi kok. Dia udah bahagia sama orang lain,hee.." jawab Aika sembari tersenyum kecil.


"Syukurlah kalau gitu Ai, Kakak seneng kamu udah gak sama dia. Karena dari awal Kakak memang kurang suka, dan Kakak harap kamu gak sedih terus.." ujar Alya yang belakangan ini mengetahui, bahwa Aika sering menangis dan mengurung diri di kamarnya. Karena Ia melihat mata Aika yang seringkali sembab bila keluar dari kamar.


"Iyaa Kakak tenang aja, aku baik-baik aja kok dan gak mau terus larut dalam kesedihan.." ucap Aika sambil tersenyum untuk menutupi kesedihannya, karena Ia tidak ingin membuat Kakaknya merasa cemas. Namun tatapan mata yang terbaca tidak bisa membohongi, Alya bisa melihat kesedihan itu dan turut merasakannya.


"Kakak tau, kamu pasti kuat dan bisa melewati semuanya dengan baik.." sahut Alya yang langsung memeluk erat tubuh Aika, sebagai bentuk kepedulian dan untuk menyemangatinya.


"Yaa udah Kak, aku mau masuk ke kamar dulu yaa.." Aika segera bangkit dari tempat duduknya, lalu mencubit pipi ponakannya itu dengan gemas.


"Kasian Aika, dia pasti masih sedih karena Erin.." gumam Alya dalam hati, seraya mengajak Syira bermain bersamanya.


"Loh,, kamu mau kemana Ai, kok penampilan kamu udah rapi aja..?" tanya Alya saat melihat Aika yang tiba-tiba keluar dari kamar dengan berpakaian rapi.


"Aku mau keluar dulu sebentar Kak, mau nemuin Ashika. Sepertinya dia lagi ada masalah.." jawab Aika seraya bergegas memakai sepatunya dan berpamitan pada Alya dengan tergesa-gesa.


"Kamu hati-hati di jalan yaa Ai, jangan ngebut..!" seru Alya mengingatkan adik semata wayangnya itu, yang hanya membalas ucapannya dengan senyuman dan acungan jempol...


Bersambung...

__ADS_1


🙏😊 A59🌹


__ADS_2