
"Gimana Ai, apa udah kamu tanya dan pastikan perasaan Erin sama kamu yang sebenarnya..?" tanya Alya saat melihat adiknya telah kembali pulang ke rumah.
"Iyaa Kak, udah aku tanyain.." jawab Aika sembari menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, lalu melepaskan djaket yang Ia kenakan dan meletakkan di sampingnya.
"Terus gimana..?" tanya Alya lagi dengan rasa penasaran, Ia pun memilih untuk duduk di sebelah Aika dan menunggu jawaban dari adiknya itu.
"Iyaa Kak, Erin juga punya perasaan yang sama seperti yang aku rasain ke dia kok.." jawab Aika sembari tersenyum, Ia tidak ingin membuat Kakaknya itu merasa curiga dan bertanya lebih jauh lagi. Karena Ia sendiri bingung harus mengatakan apa nantinya.
"Kamu serius, Ai..? Tapi Kakak kok ragu yaa sama jawaban kamu.." sahut Alya seraya menatap intens Aika yang terlihat seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
"Yaa udah Kak, aku mau ke kamar dulu yaa.." ucap Aika yang bergegas masuk ke dalam kamar, sebelum Kakaknya mulai mengajukan pertanyaan kembali tentang Erin..
"Orang masih pengen ngobrol, malah pergi.." gerutu Alya sembari menarik nafasnya.
Sedangkan Aika yang saat ini telah berada di dalam kamar, terlihat sedang duduk di tepi tempat tidurnya. Ia mengambil sebuah kotak kecil yang berisi cincin dari dalam tas yang tadi Ia bawa.
"Mungkin belum saatnya aku memberikan ini pada Erin.." gumam Aika dalam hati sembari menyimpan kotak kecil itu ke dalam lemari, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Meski awalnya Ia sangat ingin memberikan cincin yang telah Ia siapkan itu untuk Erin, namun setelah tahu dan mendengar jawaban Erin tentang pertanyaan yang Ia ajukan. Membuat Aika mengurungkan niatnya itu, karena ada perasaan ragu yang masih bersarang di dalam hatinya tentang kesungguhan hati Erin terhadapnya.
__ADS_1
Karena tidak ingin terus memikirkan dan bertanya-tanya tentang perasaan Erin padanya, Aika pun berusaha untuk memejamkan mata agar bisa tertidur. Namun hati dan pikirannya masih tidak bisa di ajak bekerja sama, hingga waktu hampir menunjukkan jam dua belas malam. Aika akhirnya pun bisa tertidur dengan pulas.
⭐
Keesokan harinya,,
"Aku pergi dulu yaa, Kak..!" ucap Aika pada Alya yang baru saja selesai memandikan Syira..
"Iyaa Ai, kamu hati-hati di jalan. Ashika gak sarapan dulu..?" tanya Alya pada Ashika yang sedang duduk di kursi depan teras.
"Gak Kak, kebetulan tadi aku udah sarapan kok,hee.. Kita berangkat dulu yaa, Kak Alya.." pamit Ashika sembari tersenyum pada Alya..
"Tumben nyuruh aku nyetir, kamu kenapa, Shik..?" tanya Aika yang langsung menyalakan mobil dan mengendarainya.
"Gak kenapa-kenapa Ai, aku lagi malas aja.." jawab Ashika sembari melemparkan tatapannya ke arah luar jendela mobil yang Ia buka.
"Apa kamu ada masalah sama Beny..? Kalau ada apa-apa kamu cerita aja, jangan di pendam sendiri, Shik.. Dari pada kamu pusing dan sakit nantinya.." ujar Aika yang menoleh ke arah Ashika yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Besok aku izin gak masuk kerja Ai, aku mau pulang ke rumah orang tuaku sama Beny. Jadi, mobil kamu bawa aja yaa.." ucap Ashika seraya menghela nafasnya dengan berat, seolah ada beban yang saat ini sedang Ia rasakan.
__ADS_1
"Kok mendadak banget, Shik..? Jangan-jangan kamu mau nikah yaa.." sahut Aika sembari tersenyum.
"Yaa gaklah Ai, aku belum siap untuk itu. Cuma kangen aja kok sama Mamaa dan Papaa terus sama Kak Selvi juga.." balas Ashika yang berusaha untuk menutupi masalahnya.
"Terus berapa hari kamu di sana..?"
"Mungkin dua atau tiga hari, untuk urusan kerjaan kamu bisa bantuin aku kan, Ai..? Karena cuma kamu yang bisa aku percaya dan andalkan di kantor.." tanya Ashika, berharap Aika bersedia untuk membantunya.
"Kalau soal itu kamu tenang aja, aku pasti bantuin kok. Lumayan kan, itung-itung dapat uang lembur dari kamu,hee.." sahut Aika sembari tertawa kecil.
"Gampang kalau soal itu sih, Ai.."
"Gak Shik, aku cuma bercanda kok. Kita kan teman baik, kamu juga sering bantuin aku. Pokoknya kerjaan kamu beres di tangan aku, kamu nikmati aja kebersamaan kamu sama keluarga di rumah dan gak usah mikirin masalah kerjaan di sini.." ucap Aika yang membuat Ashika kini bisa merasa lega dan fokus dengan masalah yang akan di hadapinya.
"Iyaa Ai, aku percaya kok sama kamu. Terimakasih yaa, Ai.." sahut Ashika dengan senyuman manisnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu, Ashika..? Kenapa kamu gak mau cerita sama aku.." gumam Aika dalam hati, yang merasakan bahwa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Ashika darinya, namun Aika juga tidak bisa memaksa sahabatnya itu untuk bercerita...
Bersambung...
__ADS_1
🙏😊 A59⭐