
Seperti biasa, pagi sekali Alya telah bangun tidur terlebih dulu. Ia lalu menyiapkan sarapan pagi untuk Aika dan juga dirinya, lalu membereskan rumah dan mengurus putri kecilnya. Sejak suaminya meninggal dunia karena kecelakaan, Alya lah yang mengurus rumah peninggalan kedua orang tua mereka. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka bertiga, kini telah menjadi tugas Aika..
"Ayo sarapan Ai, Kakak udah siapkan semuanya.." ucap Alya pada Aika yang terlihat baru keluar dari kamar.
"Iyaa Kak, sepertinya enak nih..!" seru Aika sambil tersenyum, lalu duduk di kursi meja makan.
"Memang kapan sih makanan yang Kakak masak gak enak, gak pernah kan..?!" sahut Alya dengan nada angkuhnya dan tersenyum tipis.
"Iyaa iyaa, aku percaya kok kalau masakan Kakak memang selalu enak. Cuma rasanya asin aja,hehehee.." ledek Aika sembari menyantap makanannya.
Tokk,, tokk,, tokkk..
Terdengar sebuah suara ketukan pintu dari luar, dan tidak lama kemudian se'orang wanita pun masuk ke dalam rumah. Lalu berjalan menghampiri Alya yang tengah bermain bersama Syira..
"Kamu udah sarapan belum, Shik..? Kalau belum, sarapan dulu gih bareng Aika. Dia lagi sarapan itu.." tanya Alya pada Ashika, dia adalah teman baik Aika sekaligus teman kerja. Keduanya sudah beberapa tahun saling kenal, dan saling mengetahui tentang kehidupan masing-masing.
"Kebetulan banget Kak, aku belum sarapan,hee.." jawab Ashika sembari tersenyum, lalu berjalan menuju ruang makan dan ikut bergabung bersama Aika..
"Sarapan, Shik..!" ajak Aika sembari menarik kursi di sampingnya dan mempersilahkan Ashika untuk duduk.
"Iyaa Ai, kebetulan aku juga belum sarapan. Udah laper nih.." sahut Ashika yang langsung mengambil beberapa potong roti bakar yang ada di atas meja.
"Cobain nasi goreng nih, enak loh.." ucap Aika sembari menunjuk ke arah nasi goreng yang ada di dalam sebuah mangkuk berukuran cukup besar. Tanpa menunggu lama, Ashika pun segera mengambil nasi goreng dari mangkuk itu dan mulai menikmatinya.
"Iyaa benar Ai, memang enak.." balas Ashika sambil menikmati nasi goreng buatan Alya dengan begitu lahap. Sementara itu, Aika sendiri baru saja menyelesaikan sarapannya.
"Aku tunggu di depan yaa, Shik.." ucap Aika pada Ashika yang hanya menganggukkan kepalanya, karena mulutnya penuh dengan nasi goreng yang Ia kunyah.
Aika yang berjalan menuju ke arah ruang tamu, lalu menghampiri Alya dan putrinya. "Dedek Syira lagi mam yaa, mam yang banyak biar cepat gede.." ucap Aika sembari mencubit pipi ponakannya itu dengan perasaan gemas.
__ADS_1
"Shika mana, masih sarapan Ai..?" tanya Alya yang melihat hanya Aika sendiri yang keluar dari ruang makan.
"Iyaa Kak, dia masih sarapan tuh. Sepertinya nasi goreng yang Kakak buat bakal di habisin,hehehee.." ucap Aika sembari tertawa kecil.
"Yaa bagus donk, Kakak malah seneng. Itu artinya nasi goreng yang Kakak buat rasanya memang enak.." sahut Alya sambil tersenyum.
Aika dan Ashika berteman dekat sudah cukup lama, selain karena mereka bekerja di satu tempat kerjaan. Aika juga sering kali mengajak Ashika untuk datang ke rumahnya, bahkan hampir setiap hari. Hal itu di karenakan Ashika tinggal sendiri di kost-an dan jauh dari orang tuanya, Ia memilih untuk hidup mandiri tanpa harus bergantung pada kedua orang tuanya.
"Nasi goreng buatan Kak Alya enak banget, aku sampai nambah tadi,hee.." ucap Ashika yang telah selesai menikmati sarapannya.
"Tuh kan bener, udah aku duga.." sahut Aika sembari tertawa kecil.
"Memang kamu menduga apa, Ai..?" tanya Ashika dengan raut wajah yang bingung.
"Bukan apa-apa Shika, jangan di dengerin omongan Aika. Syukurlah kalau memang enak, Kakak jadi senang dan semangat untuk membuatnya lagi kapan-kapan.." ujar Alya..
"Yaa udah Kak, kami berangkat kerja dulu yaa..
"Kalian hati-hati di jalan yaa, jangan ngebut bawa mobilnya yaa, Shik..!" seru Alya mengingatkan Ashika yang tersenyum dan menganggukkan kepala.
⭐
"Kamu aneh yaa, Shik.." ucap Aika tiba-tiba.
"Memang aku aneh kenapa, Ai..? Apa ada sesuatu di wajahku..?" tanya Ashika yang langsung memeriksa bagian wajahnya, karena Ia mengira mungkin ada sesuatu yang menempel pada wajahnya itu.
"Bukan wajah kamu lho,hee.." sahut Aika sembari tertawa kecil melihat tingkah Ashika..
"Terus apa donk..? Kamu jangan buat aku penasaran, Ai.." balas Ashika yang kini mulai terlihat kesal.
__ADS_1
"Iyaa kamu aneh, katanya mau hidup mandiri dan gak mau bergantung sama kedua orang tua kamu. Tapi saat di kasi fasilitas seperti mobil dan kartu kredit, kamu masih tetap aja mau terima.." ujar Aika yang selama ini mengetahui, bahwa Ashika adalah anak dari keluarga pengusaha yang kaya raya.
"Ohh,, jadi karena itu kamu bilang aku aneh, kirain tadi kenapa. Tapi memang benar aneh sih, cuma sebenarnya itu bukan kemauan aku, Ai.." ucap Ashika sembari menarik nafasnya dengan berat.
"Maksudnya gimana..? Kalau bukan kemauan kamu, terus kemauan siapa..?" tanya Aika dengan rasa penasaran dalam hatinya karena perkataan Ashika..
"Yaa udah lupain aja, aku gak mau bahas masalah itu sekarang. Nanti juga kamu tau sendiri kok,hee.." sahut Ashika seraya tersenyum.
"Tapi aku kan pengen taunya sekarang Shik,mmmh.." balas Aika..
"Kamu ini jadi orang suka penasaran dan gak sabaran pula, terus itu gimana sama Erin.. Kalian berdua baik-baik aja kan..?" tanya Ashika yang sengaja mengalihkan pembicaraan, agar Aika melupakan tentang rasa penasarannya tadi.
"Iyaa baik-baik aja kok, terus kamu sendiri gimana sama Beny..?" ucap Aika yang balik bertanya.
"Aku sama Beny juga baik-baik aja Ai, cuma yaa kadang berantem juga sih tapi habis itu baikan lagi,hee.." jawab Ashika sembari tersenyum.
Beny adalah kekasih Ashika, keduanya telah lama menjalin hubungan bahkan sebelum Ashika mengenal Aika. Hubungan mereka sudah pada tahap yang serius, Beny sudah berulang kali ingin menikahi Ashika. Namun Ashika selalu menundanya, dengan alasan ingin sukses dalam berkarir terlebih dulu. Hal itupun sempat membuat kekasihnya itu marah dan tidak terima, tapi setelah mendapat penjelasan panjang lebar dari Ashika akhirnya Beny bisa mengerti dan menerimanya.
"Hei,, kok malah bengong sih..?! Pasti lagi mikirin Beny yaa.." tebak Aika saat melihat Ashika tiba-tiba terdiam, seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Gak kok Ai, aku cuma kangen sama Mamii dan Papii aja.." sahut Aika sembari tersenyum, meski sebenarnya bukan itu yang Ia pikirkan.
"Ohh,, aku kira kamu mikirin Beny, kamu kenapa sih gak mau terima ajakan Beny untuk menikah Shik..? Padahal kalian pacaran udah lama banget.." tanya Aika yang lagi-lagi membuat suasana hati Ashika menjadi tidak nyaman, karena Ia benar-benar tidak ingin membahas soal hubungannya bersama Beny..
"Kan udah pernah aku ceritain ke kamu, kalau aku masih pengen menikmati karir aku, Ai.. Kan kamu juga tau, kalau nanti aku udah menikah Beny melarang aku untuk bekerja.." jawab Ashika..
"Iyaa sih Ai, yaa udah jangan manyun gitu. Aku gak tanya-tanya lagi kok,hee.." sahut Aika yang menyadari, bahwa Ashika terlihat tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan yang Ia ajukan.
Kini mobil yang di kendarai oleh Ashika pun telah tiba di sebuah pabrik garmen, tempat mereka berdua bekerja selama ini. Usai memarkirkan mobilnya, Aika dan Ashika pun segera masuk ke dalam pabrik dan berjalan menuju ke bagian kantor...
__ADS_1
Bersambung...
🙏😊 A59⭐