
"Terus kenapa kamu sampai minum minuman keras dan mabuk seperti itu, Er..?" tanya Aika yang merasa tidak puas dengan penjelasan yang di berikan oleh Erin padanya, meski Ia tahu pembicaraan itu pasti akan berujung dengan pertengkaran.
"Yaa itu,mmm.. Karena aku cuma iseng aja, aku kan udah lama banget gak minum yaa jadi aku coba minum lagi tadi. Itu juga cuma sedikit kok, kalau kamu gak percaya tanya aja sama Sella.." jawab Erin yang berusaha untuk membela diri.
"Buat apa aku tanya sama Sella, dia itu teman dekat kamu dan udah pasti dia bakal lebih membela kamu dari pada harus berkata jujur tentang semuanya.." sahut Aika yang bisa merasakan, bahwa ada sesuatu yang sedang Erin coba tutupi darinya.
"Terserah kamu aja Ai, mau mikir apa dan mau percaya atau gak. Aku gak mau bahas apapun lagi, karena percuma juga kamu gak akan percaya sama aku. Sama perasaan aku selama ini.." ujar Erin yang tidak ingin Aika tahu tentang bagaimana perasaannya yang sesungguhnya.
"Gimana aku mau percaya Er, kalau ternyata selama ini kamu masih memikirkan Niko atau mungkin kamu juga masih mengharapkannya.." balas Aika yang tak mau kalah.
"Cukup, Ai..! Aku gak mau kamu bahas soal Niko lagi.." seru Erin dengan nada tinggi, membuat pengunjung yang lain di tempat itu kini mulai menoleh ke arah mereka.
Tidak lama setelah itu, Erin pun bangkit dari tempat duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Aika yang bergegas mengikutinya dari belakang. "Kamu mau kemana..? Aku belum selesai ngomong sama kamu.." ucap Aika sembari memegang tangan Erin untuk tidak pergi.
"Lepasin..!" seru Erin seraya menepis tangan Aika yang memegang erat tangannya.
"Aku mau kemana, itu bukan urusan kamu.." ucap Erin yang terdengar sangat kesal.
__ADS_1
"Yaa udah kalau gitu, aku anterin kamu pulang aja.." Aika kembali memegang tangan Erin, lalu menariknya untuk ikut bersamanya menuju ke tempat parkiran. Karena Ia juga tidak ingin kalau Erin sampai kembali mengkonsumsi minuman keras, terlebih saat suasana hatinya sedang tidak baik seperti saat ini.
"Aku bisa pulang sendiri..!" seru Erin melepaskan pegangan tangan Aika pada tangannya, lalu melangkah pergi ke arah sebuah taksi yang kebetulan saat itu sedang melintasi tempat itu.
"Erin, tunggu..!" teriak Aika sembari melajukan motornya untuk mengejar taksi yang membawa Erin pergi. Meski Ia melihat Aika berusaha untuk mengikutinya dari belakang, tapi Erin tetap tidak peduli.
"Kenapa sih Aika harus ngikutin terus, aku jadi gak bisa ke rumah Sella kalau begini,mmmh.."
Gumam Erin seraya berdecak kesal, karena dalam suasana hatinya yang tidak baik seperti sekarang ini. Ia ingin pergi menemui Sella, teman baiknya yang selama ini selalu bisa mengerti dan mendengar tentang keluhan serta ceritanya. Namun, karena Aika terus mengikuti akhirnya Ia memilih untuk pulang ke rumah saja.
"Er, tunggu..! Erin..!" seru Aika sembari menarik tangan Erin yang baru saja turun dari taksi, dan berjalan menuju ke rumah.
"Iyaa Er, aku memang salah dan aku minta maaf. Aku gak akan bahas soal Niko lagi, dan aku akan percaya sama apa yang udah kamu omongin ke aku.." ujar Aika sembari menarik nafasnya dengan dalam. Ia tidak ada pilihan lain selain dari mengalah dan mengaku salah, karena Ia tidak ingin hubungannya dengan Erin jadi bermasalah apa lagi sampai harus berpisah.
Mendengar suara ribut-ribut dari luar, Ibu Ermi pun segera keluar dari rumah dan menghampiri keduanya. "Kalian sudah pulang rupanya, kenapa tidak masuk ke rumah..?" tanya Bu Ermi yang berusaha untuk mencairkan suasana, karena Ia tahu bahwa Erin dan Aika sedang bertengkar.
"Tidak usah Bu, terimakasih. Hari juga sudah malam, aku pamit pulang dulu yaa, Bu.." sahut Aika sembari mencium punggung tangan Ibu Ermi, lalu bergegas pergi dengan mengendarai sepeda motornya.
__ADS_1
⭐
Sementara itu, Erin yang sudah berada di dalam kamar segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Lama-lama aku jadi pusing sendiri, apa lagi kalau Aika bertanya terus tentang Niko,mmmh.." ucap Erin sambil menghela nafasnya dengan berat.
Tokk,, tokk,, tokkk..
Terdengar suara ketukan pintu kamar, dan tidak lama kemudian pintu kamar Erin pun terbuka. "Kamu belum tidur kan Erin, Ibu mau bicara.." Bu Ermi berjalan perlahan menuju ke arah Erin, lalu duduk di tepi tempat tidur tidak jauh dari Erin berada.
"Ibu mau bicara apa lagi..? Aku lagi pusing Bu, besok-besok aja bicaranya. Aku mau istirahat.." seru Erin yang langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, sembari menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
Melihat hal itupun, Bu Ermi hanya tersenyum dan menarik nafasnya. "Yaa sudah kalau begitu, kamu istirahat. Jangan tidur larut malam.." ucap Bu sembari keluar dari kamar Erin yang terlihat hanya diam saja tanpa membalas ucapan dari Ibunya.
Sedangkan di tempat yang lain, Aika yang baru saja tiba di rumah segera masuk ke dalam kamar. Beruntung saat itu Alya sudah tidur, jadi Ia tidak akan mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari Kakaknya itu.
Aika pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sambil menarik nafas panjang Ia mengambil ponsel miliknya dari dalam saku djaket yang masih Ia kenakan.
"Lebih baik aku jangan menghubungi Erin dulu, pasti gak akan di balas atau di angkat juga kalau telepon.." gumam Aika dalam hati, seraya memikirkan kembali semua yang sudah terjadi antara dirinya dan Erin akhir-akhir ini...
__ADS_1
Bersambung...
🙏😊 A59⭐