
"TESPEEKK????!!!"
"Kenapa bisa ada di sini??!!"
Nabila terkejut melihat temuan tespek dari meja belajar Senja, seketika suasana hati Nabila berubah menjadi sangat emosi. Seharusnya hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi dirinya dapat bertemu dengan Ardian tetapi dikejutkan dengan kejadian yang di luar bayangan.
Tidak menyangka adiknya melakukan hal memalukan dan menjijikkan itu. Bagaimana bisa Senja mencoreng nama baik keluarga. Bahkan dirinya yang sudah menjalin hubungan dengan Ardian 8 tahun lamanya tidak berani melakukan hal tersebut.
"PEREMPUAN TIDAK TAHU MALU, MURAHAN!!" ucapnya yang begitu geram, Nabila kali ini benar-benar geram dan sangat emosi. Nabila menggebrak meja belajar Senja sangat keras. Tangan Nabila mengepal keras di atas meja.
BRUUUUKKKK
Nabila keluar dari kamar Senja dengan menutup pintu kamar sangat keras.
BRAAAAKKKK
Nabila masuk ke kamarnya dan duduk di tempat tidur, Nabila terus mengutuki perbuatan adiknya itu awas saja jika akan berimbas pada dirinya dan keluarga. Nabila mencoba menenangkan emosinya. Nabila tidak ingin karena masalah ini, dia tidak sampai bertemu Ardian.
"Kurang ajaarr...!! anak siaallaaannn...!!" Nabila berteriak dan memukul ranjang tidur sangat emosi.
"Aku akan menemui Mas Ardian dulu, baru mempermasalahkan masalah tespek ini kepada Ayah dan Bunda."
**********
Amel masih menemani Senja di Rumah Sakit. Amel begitu setia menemani Senja yang sedang di rawat.
Senja sedang berbaring dengan tidurnya yang pulas. Sementara Amel duduk di samping ranjang tidur Senja sambil asik bermain hp nya.
Tidak lama kemudian Senja terbangun, Senja bangun tidur dengan perasaan yang tidak enak dan gelisah di hati. Entah apa yang di rasakan Senja seperti akan mendapatkan masalah besar.
"Eh kamu sudah bangun Nja..." tanya Amel yang tidak sadar melihat Senja bangun tidur, karena asik bermain hp.
"Mel, kok perasaan aku gak enak ya?" ucap Senja yang memegang dadanya, jantungnya merasa berdebar-debar.
"Gak enak gimana maksudnya?" tanya Amel bingung.
"Gak tahu" Senja terlihat wajahnya sedikit pucat merasakan perasaan yang gelisah tidak enak sedari malam.
__ADS_1
"Itu karena kamu sedang hamil saja" jawab Amel menenangkan agar tidak khawatir.
Senja masih memikirkan perasaan yang tiba-tiba gundah dan gelisah itu. Tetapi apa memang perasaan yang dia rasakan sekarang karena hormon hamil?.
Perasaan tidak enak yang terus-menerus menghantui dirinya itu lenyap dengan datangnya Dokter dan Suster masuk untuk memeriksa keadaan Senja.
"Selamat sore Ibu Senja... " sapa Dokter Joshua.
"Bagaimana dengan kondisi Ibu?" tanya Dokter Joshua.
"Sudah lebih membaik Dok." Balas Senja.
"Saya periksa dulu yaa... " Dokter Joshua mengecek keadaan Senja dengan meletakkan stetoskop di dada atau area jantung, Dokter Joshua menggeser stetoskop itu kiri dan kanan memastikan suara jantung pasien normal atau tidak.
"Saya cek tekanan darah ibu juga yaa..." timpal Suster Mona yang juga ikut mengecek keadaan pasien.
Suster Mona meletakkan manset tensimeter di lengan pasien yang berada di atas siku. Menggulung tensimeter dan merekatkan tensimeter itu, kemudian Suster Mona memompa dengan meletakkan diagfragma stetoskop di arteri siku dan mendengarkan denyut nadi pasien normal atau tidak.
"Tekanan darah pasien normal Dok..." kata Suster Mona memberitahu hasil pemeriksaannya.
Dokter mengecek keadaan pasien merasa sudah membaik dan pulih, pasien di izinkan pulang.
"Ibu sudah diperbolehkan pulang, kondisi Ibu sudah membaik."
"Benarkah Dok?" tanya Senja yang tidak percaya.
"Ibu Senja sudah boleh pulang, tetapi harus dijaga ya kesehatan Ibu dan juga kandungan Ibu." jelas Dokter menasihati agar tidak terjadi kembali kejadian Senja yang pingsan.
"Alhamdulillah, sudah boleh pulang Nja." sahut Amel senang mendengar kata Dokter.
Senja senang sudah bisa pulang dan tidak berlama-lama dirawat, Senja hanya dirawat 2 hari saja. "Saya akan memberikan obat untuk memulihkan keadaan Ibu dan juga vitamin penguat kandungan. Obatnya saya resepkan, nanti diambil di ruang Farmasi ya Ibu." ucap Dokter memberitahu.
"Baik Dok... terima kasih..."
"Sama-sama, saya permisi dulu." ucap Dokter pamit.
Dokter Joshua dan Suster Mona meninggalkan kamar pasien.
__ADS_1
Setelah kabar dari Dokter Joshua, Senja sudah diperbolehkan pulang. Senja membereskan barang-barangnya yang dibantu Amel. Senja bergegas membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian untuk segera pulang.
Senja dan Amel juga tidak lupa untuk mengambil obat di Farmasi. Setelah mengambil obat di farmasi kemudian mereka ke basemen untuk pulang.
Amel mengantar Senja menggunakan mobil, Amel berjaga-jaga jika Senja sudah diperbolehkan pulang. Dan prediksinya ternyata benar, tidak mungkin juga dalam keadaan sakit pakai motor, memang Amel sahabat yang sangat perhatian.
"Mau aku bantu masuk ke rumah?" ucap Amel yang sudah sampai di rumah Senja dan menawari untuk menuntun Senja berjalan masuk rumah.
"Gak usah kok Mel, aku gak apa-apa." jawab Senja memastikan. Senja membuka pintu mobil dan keluar dari mobil.
"Yasudah, aku pulang yaa..." Amel pamit, Senja menutup pintu mobil dan melambaikan tangan pada Amel.
"Makasih Amel, hati-hati yaa..." Amel pun pergi mengemudikan mobilnya dan meninggalkan rumah Senja.
Setelah kepergian Amel mengantar Senja pulang, Senja melangkahkan kakinya berjalan ke pintu dan membuka pintu rumah.
"Assalamualaikum"
"Kok gak ada orang di rumah? mungkin Bunda sedang ada urusan."
Senja memasuki rumah tidak melihat Ibundanya, karena memang seperti biasa Nabila dan sang Ayah bekerja. Melihat sang Ibunda tidak ada di rumah, Senja berjalan ke kamarnya.
Saat memasuki kamar, Senja terkejut melihat kamarnya yang berantakan. Meja belajarnya berantakan, buku kuliah dan barang-barang lain berserakan begitu saja di atas meja. Laci Meja belajar yang terbuka begitu saja ditambah meja riasnya juga berantakan, banyak peralatan make up dan riasan berserakan di atas meja.
Terakhir Senja meninggalkan kamarnya dalam keadaan rapi dan tidak berantakan seperti itu. Senja bingung dan mulai panik gelisah. Kenapa dengan kamarnya?.
"Kenapa kamar aku berantakan kaya gini?"
Senja mulai merasakan gelisah dan panik, entah perasaan apa yang dia rasakan sekarang seperti akan terjadi masalah besar. Senja sedikit merasa takut.
Senja melihat keadaan kamar yang berantakan, segera membereskan kamarnya itu. Senja merapikan peralatan make up ke tempatnya, memasukan barang-barang lainnya ke laci, menata buku kuliah dan memasukkan nya ke lemari meja belajar.
Setelah selesai membereskan kamar, Senja bergegas mandi dan membersihkan tubuhnya yang lelah seusai membereskan kamarnya yang berantakan.
Senja menyalakan shower, membuka pakaiannya hingga tak tersisa. Membiarkan tubuhnya terjatuhi air yang menetes. Menikmati setiap sentuhan air yang menetes dan rasanya melegakan.
Senja masih memikirkan kejadian kamarnya yang berantakan, tidak biasanya kamarnya seperti itu. Apakah ada maling yang masuk? tetapi jika ada maling kenapa rumahnya rapi dan hanya kamarnya saja yang berantakan? lalu siapa yang melakukan pada kamarnya itu?
__ADS_1