
Sudah 2 bulan Reno tidak ada kabar, selama itu Senja sudah menghubungi Reno dan menanyakan kepada semua teman-teman Reno. Tetapi keberadaan Reno pun tidak ada yang tahu, entah memang sengaja disembunyikan atau benar tidak tahu.
Usia Kandungan Senja sudah memasuki 3 bulan, Senja masih menutupi kehamilannya itu. Tubuhnya semakin kurus dan tak terurus, kuliah pun juga terbengkalai.
Ingin sekali rasanya pergi ke rumah Reno menemui langsung, namun tak diiringi nya. Entah perasaan apa yang membuatnya berat pergi ke rumah Reno, mungkin karena dulu mendapatkan perlakuan buruk.
Duduk di tepi jalan meratapi situasi keadaan, rasa pasrah dan putus asa yang memegangi perutnya itu.
"Aku lelah" suara sendu dan rasa letih yang sudah tidak bertenaga. Menyelonjorkan kaki dan memijit kakinya itu. Kakinya merasa kebas dan sakit akibat banyak berjalan.
Semenjak menghilangnya Reno, Senja sering berjalan kaki sendirian tanpa arah. Dia berharap bisa menemukan Reno di jalan tanpa kesengajaan.
"Apa kamu benar-benar meninggalkan aku begitu saja?" Senja menghapus keringat di kepalanya sambil meneguk air di botol yang dia pegang, tubuhnya lemas dan kakinya keram karena lelah berjalan terus.
Senja terus-menerus berbicara meracau, menangis, tatapan mata yang sedih dan pikiran kosong seperti sudah tidak punya semangat hidup. Entah sudah berapa lama Senja duduk di tepi jalan yang hanya melihat kendaraan berlalu lalang.
Senja Bingung tidak tahu harus melakukan apa, dia masih belum menerima bahwa dirinya hamil. Terlebih sang pacar menghilang begitu saja tanpa kabar. Senja tidak tahu bagaimana untuk memberitahu kepada keluarganya, apa lagi jika Reno benar-benar tidak mau bertanggung jawab.
Memang perbuatannya itu salah tapi apakah serumit itu keadaan dirinya? dulu dia menyerahkan wanitanya kepada Reno karena dia berpikir Reno mencintainya apapun yang terjadi.
Sadar dirinya berada di tepi jalan sedari tadi, Senja pun berdiri dan pergi dari tempat itu. Sudah beberapa hari
perutnya belum terisi nasi, dia pun memutuskan untuk mencari makan dan mengisi perutnya. Senja berhenti berjalan di depan gerobak nasi goreng yang tidak jauh dari tepi jalan tadi.
Cukup ramai tempat makan nasi goreng, Senja memesan 1 porsi nasi goreng.
"Bang nasi goreng 1 porsi ya. Gak pedas sama telornya di ceplok" ucap Senja pada si Abang nasi goreng.
"Siap neng" kata si Abang nasi goreng yang sedang sibuk dengan sotel dan wajan penggorengan.
Senja duduk di dekat pasangan bersama anak kecil, sepertinya suami istri dan bersama anaknya. Senja tersenyum melihat gadis kecil itu makan begitu lahapnya yang disuapi sang Ibu, sedangkan sang Ayah yang berada di samping gadis kecil itu mengusap-usap rambut anak gadis kecilnya menandakan senang gadis kecilnya makan dengan pintar dan lahap. Senja merasakan iri melihat sepasang suami istri bahagia bersama anaknya. Senja berangan-angan dapat seperti itu bersama Reno, dirinya dan anaknya nanti. Tetapi nasibnya berkata lain.
Setelah selesai mengisi perutnya dengan nasi goreng, Senja menghampiri Abang nasi goreng dan membayar.
Hari sudah petang dan langit menjadi gelap, sudah cukup seharian berjalan tidak karuan tanpa arah. Senja merasakan letih sekali, tubuhnya lemas seharian di jalanan. Senja pun memutuskan untuk pulang.
Ceklek
__ADS_1
Pintu rumah yang dibuka oleh Senja, dirinya baru sampai rumah pukul 20.30 . Sebelum masuk rumah Senja menghapus pipi basahnya dari tetesan air mata yang terus-menerus mengalir. Senja mempersiapkan senyum terbaiknya untuk bertemu keluarganya agar tidak terlihat situasi keadaan yang dia punya.
"Assalamualaikum" ucap salam Senja tersenyum saat masuk rumah.
"Waalaikumsalam" sahut sang Bunda menghampiri sang anak. Senja mencium tangan Ibunda tercintanya dan tersenyum.
"Kamu pulang terlambat nak?" tanya Ajeng heran melihat anaknya baru sampai rumah malam hari.
"Iya Bun, ada tugas kerja kelompok" Senja menjawab terpaksa berbohong.
"Kamu capek banget, mandi sana dan langsung makan. Bunda buatkan nasi goreng ya" kata Ajeng sang Ibunda yang mempedulikan kelelahan anaknya itu dan mengusap rambutnya.
"Aku sudah makan tadi Bun, Ayah dan Kak Nabila kemana?" tanya Senja.
"Yasudah, Ayah sedang beristirahat di kamar, Nabila ada di kamar" ujar Ajeng.
"Aku ke kamar dulu ya Bun, mau mandi dan istirahat." pamit Senja dan pergi ke kamar.
Suara Shower di kamar mandi yang dia putarkan gagangnya, desiran air shower membasahi tubuhnya. Dia terduduk di lantai kamar mandi dengan meningkup kedua kakinya sambil memeluk kakinya dan menundukkan wajahnya diatas dengkul. Menikmati sentuhan setiap tetesan air yang membasahi tubuhnya itu, menutupi air mata yang terjatuh tidak terlihat dari pipinya.
"Sudah 2 bulan aku mencari dan menunggu keberadaan Reno tapi hasilnya gak ada info apapun" ucapnya yang membenturkan kepalanya pelan di tembok bingung harus bagaimana.
Satu setengah jam berada di kamar mandi yang hanya merenungi keadaan nasibnya itu, tubuhnya menggigil dan telapak tangannya pun keriput dan pucat. Jika dibiarkan di kamar mandi terus-menerus dirinya bisa mati karena kedinginan.
Senja akhirnya memutuskan ingin mencoba datang ke rumah Reno, meskipun berat hati tapi dia tidak punya pilihan lain. Meskipun akan diusir kembali setidaknya menemukan jawaban.
**********
Keesokan hari...
Senja mencoba untuk datang ke rumah Reno dan mencari jawaban. Taxi online yang dipesan sudah menunggu di depan rumah.
"Bun aku, berangkat ke kampus ya." ucap Senja pamit mencium tangan sang Ibunda, dia Terpaksa berbohong.
"Hati-hati kamu ya sayang" balas Ajeng tersenyum kepada anaknya.
"Aku berangkat Assalamualaikum" Senja lalu pergi meninggalkan rumah dan berjalan memasuki taxi online yang dipesan.
__ADS_1
Jalan yang tampak tidak asing Senja lihat, 2 tahun yang lalu dirinya pernah mengunjungi jalan tersebut. Senja menghela napasnya pelan, tangannya memegangi dada. Senja turun dari taxi online, berdiri di depan gerbang besar hitam dengan perasaan takut. Senja memencet bel, seorang laki-laki tua berperawakan cukup tinggi, perut buncit dengan pakaian seragam hitam membuka gerbang.
"Maaf siapa ya?" tanya si Bapak security rumah Reno.
"Saya Senja Pak" jawab Senja.
"Ada yang bisa saya bantu? mau cari siapa?" tanya heran si Bapak security.
"Mmmm... maaf Pak, saya temannya Reno. Apa Reno nya ada di rumah?" sahut Senja yang juga menanyakan keberadaan Reno.
"Oh den Reno nya kan sudah pindah ke Inggris sama Tuan dan Nyonya juga, rumah ini sepi non. Tinggal saya dan pembantu saja yang menjaga rumah ini." jelas Bapak security memberitahu.
Deg.... deg.... deg.... deg...
Sekita jantung Senja berdetak cepat, tubuhnya terasa panas, wajah pucat dan keringat dingin. Syok dan kaget mendengar penjelasan Bapak security itu
bagaikan petir di siang bolong. Tanpa diduga Reno meninggalkannya begitu saja.
"Maaf Pak, pindahnya dari kapan ya?" Senja bertanya dengan tangan gemetar dan tangannya basah berkeringat dingin.
"2 bulan yang lalu non. Memang non gak tahu?" jawab security itu.
"Saya gak tahu pak, maaf Pak kalau boleh tahu alasan pindahnya kenapa ya?" tangan yang berkeringat dingin dengan memeras-meras tangannya yang basah itu, masih tidak percaya dengan menghilang perginya Reno secara mendadak.
"Memang mendadak banget non pindahannya, saya juga gak tahu kenapa pindahnya" jelas Bapak security.
"Yasudah Pak, terima kasih" balas Senja singkat, dirinya pun langsung pergi meninggalkan komplek rumah itu.
Setelah beranjak dari rumah Reno, Senja berjalan dengan tatapan kosong langkah kaki entah kemana melangkah tanpa arah menyusuri jalan. Pergi 2 bulan yang lalu berarti setelah Reno mengetahui dirinya hamil.
"Kamu menghilang pergi begitu saja setelah mengetahui aku hamil Ren" tatapan mata pilu menyanyat hati dan rasa kecewa yang dirasakan. Air mata yang terus menggenangi kelopak matanya membuat wajah cantiknya menjadi sembab.
"Kamu jahat Ren, jahaaatt...!! bahkan kamu tidak menemui aku dulu buat nyelesain masalah kita" Senja berteriak di jalan yang terus menangis.
Senja masih tidak percaya dengan semua ini, dunianya merasa hancur. Lalu bagaimana dirinya menghadapi kenyataan bahwa dirinya hamil tanpa tanggung jawab dari laki-laki.
Bagaimana dia bisa menghadapi semua keadaannya sekarang? apa yang harus senja lakukan?.
__ADS_1