
Senja, Nabila, dan Ajeng sang istri panik langsung menghampiri Romi.
Ayaaaaaaaahhhhh......
"Cepat panggilkan ambulance" teriak perintah Ajeng panik melihat suaminya terkapar di lantai. Ajeng mengangkat kepala suaminya dan meletakkan di lengan tangannya. Ajeng terus menangis dan mendekap kepala suaminya yang pingsan.
Nabila berlari ke meja makan mengambil hp di tasnya dan menghubungi 119 telepon darurat.
Nabila : Saya butuh ambulance sekarang, tolong bawakan ambulance ke rumah saya secepatnya.
119 : Selamat malam... tenangkan diri Ibu dulu. Dengan siapa kami berbicara? keadaan darurat bisa di ceritakan detailnya ?
Nabila : Saya Nabilaa... Ayah saya pingsan serangan jantung. Tolong datangkan ambulance ke alamat Jalan Bunga Melati Putih No.26 Jakarta Selatan. Secepatnya mbak sekaraaang...!!!
119 : Baik, mohon ditunggu.
20 menit kemudian, mobil ambulance pun datang.
2 petugas laki-laki berseragam putih langsung sigap mengeluarkan emergency stretcher dari mobil ambulance. Petugas ambulance meletakkan emergency stretcher di lantai dan mengangkat tubuh Romi pada bed stretcher. Lalu memasukan stretcher emergency ke dalam mobil. Ajeng ikut masuk dan menemani Romi yang berada di dalam ambulance. Sementara Senja dan Nabila menyusul karena hanya boleh 1 orang yang menemani pasien darurat. Kemudian mobil ambulance pergi melaju cepat menuju rumah sakit terdekat.
Di dalam ambulance Ajeng tak henti-hentinya menangis dengan memegang jemari tangan Romi yang dingin tidak bergerak.
Setiba di rumah sakit, emergency stretcher diturunkan dari ambulance, terlihat para petugas medis sudah siaga menunggu dan mendorong emergency stretcher pasien menuju ruang ICU (Intensive Care Unit). Ajeng terus memegangi tangan suaminya saat di dorong emergency stretchernya itu ke ruang ICU.
"Silahkan Ibu menunggu di luar" kata suster dan menutup pintu ruang ICU.
Ajeng menunggu Romi dan terduduk di depan ruang ICU. Air matanya menutupi wajah cantiknya yang sudah mulai keriput itu, terlihat sedih dan tubuh yang melemas.
Sementara di Ruang ICU, Dokter dan team medis memindahkan tubuh Romi dari stretcher emergency pada bed hospital. Ventilator dimasukkan pada hidung dan mulut pasien, Dokter menyuntikkan infus ke dalam pembuluh darah pasien beserta alat-alat medis lainnya dipasangkan. Tubuh Romi terdapat banyak peralatan medis yang dipasangkan pada dirinya.
"Detak jantung pasien tidak normal Dok" ucap Suster yang mengecek grafis monitor ICU.
__ADS_1
"Baiklah ini bahaya, kita tangani keadaan pasien " perintah Dokter kepada para teamnya untuk memberi tindakan secepatnya pada pasien.
**********
Senja melihat ayahnya terkapar pingsan terus mengutuki dirinya sendiri. Dia tidak pantas disebut anak, Senja merasa dunianya hancur. Senja merasa gagal sebagai anak yang seharusnya membuat orangtua bangga malah membuat ayahnya tersungkur serangan jantung.
"Maafkan aku ayah" suara Senja bergemetar dengan isak tangis yang masih terduduk bersimpuh di lantai.
"Lihat karena dirimu Ayah seperti itu, apa kamu puas haaahh!!!" teriak Nabila emosi dan berlalu meninggalkan Senja begitu saja tanpa mengajaknya pergi bersama ke rumah sakit.
Senja bangkit dan berdiri dari duduknya di lantai, menghapus wajahnya yang sudah basah sembab dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan rumah untuk menyusul Ibundanya yang berada di rumah sakit.
Setiba di rumah sakit, Senja melihat Ibundanya terduduk di ruang ICU dengan kondisi lemas, wajah pucat dan berantakan karena menangis, suara isak tangis pilu terdengar. Senja melihat Ibundanya seperti itu hatinya teriris, merasa bersalah, dirinya tidak berguna menjadi anak.
Senja memberanikan diri duduk di samping Ajeng "Maafin Senja Buunn..." ucapnya lirih gemetar.
Ajeng hanya terdiam dengan wajah yang menunduk menangis.
"Anak gak tahu malu!! Kalau sampai terjadi apa-apa sama Ayah awas saja kamu!" bentak Nabila yang masih memeluk Ibundanya sambil mengusap bahu.
"Maafin aku Kak..." suara gemetar Senja masih terduduk di samping Ajeng.
Senja takut dan meremas-remas tangan. Tangannya basah berkeringat, tubuhnya lemas, pikirannya melayang tidak karuan. Dia mengutuki dirinya sendiri. Begitu bodohnya dirinya, lagi-lagi Senja menyalahkan dirinya sendiri. Semangatnya mulai runtuh lagi, Ayahnya terkapar karena dirinya. Senja tidak bisa menjaga kehormatan keluarga.
Suasana tampak pilu, mereka sudah menunggu 2 jam namun Dokter tidak kunjung keluar memberikan kabar, mereka menunggu dalam keadaan kecemasan luar biasa.
Ajeng melepaskan pelukan dari anak tertuanya Nabila. Ajeng menarik napas dari duduknya, mulai menenangkan pikiran. Ajeng tahu anaknya itu bersalah, dia mencoba bersikap bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Kenapa Dokter belum keluar juga sih" gerutu Nabila kesal yang menggoyang-goyangkan kaki dari duduknya, gelisah Dokter tidak kunjung keluar memberikan kabar.
2 jam sudah mereka menunggu dan akhirnya seorang Dokter perempuan keluar dari Ruang ICU bersama Suster.
__ADS_1
Ajeng langsung sigap berdiri dari duduknya dan menghampiri Dokter perempuan tersebut.
"Bagaimana keadaan suami saya Dokter ? " Tanya Ajeng dan diikuti ke 2 anaknya yang langsung menghampiri Dokter.
"Keadaan pasien kritis, pasien koma karena kekurangan oksigen dan infeksi otak. Untung saja segera di bawa ke Rumah Sakit. Jika tidak nyawanya tidak dapat tertolong." jawab Dokter Jessi, menjelaskannya tidak tega memberikan kabar tersebut.
Ajeng terisak menangis tidak menyangka bahwa suaminya yang dia cintai koma. "Tapi suami saya bisa sembuh kan Dokter?" tanya Ajeng dengan wajah yang berkaca-kaca menatap Dokter.
"Ayah koma? maafkan aku ayah." ucap Senja dalam hati yang menyesali kesalahannya.
"Kita serahkan semua pada Tuhan Yang Maha Kuasa ya Ibu, kami para medis hanya bisa membantu yang terbaik." ucap sendu Dokter Jessi dengan mengusap-usap bahu Ajeng menenangkan.
Nabila mendengar keadaan Ayahnya yang koma syok, langsung melirik Senja dengan sorotan mata tajam menyalahkan perbuatan adiknya itu.
"Apa saya sudah bisa melihat keadaan suami saya?" tanya Ajeng.
"Sudah Ibu... yang sabar ya Ibu, percayakan semua takdir kepada Tuhan. Baik saya permisi dulu." ucap Dokter dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
Mereka langsung masuk Ruang ICU dan menemui Romi. Ajeng terduduk di samping ranjang suaminya, hatinya teriris melihat sang suami dengan keadaan yang menyedihkan, tubuhnya kaku tidak bergerak, banyak peralatan medis yang terpasang di tubuh suaminya itu.
"Ayah..." ucap Ajeng lirih memegang jemari Romi yang tidak dapat bergerak ataupun merespon diajak mengobrol.
"Apa kamu puas membuat ayah seperti ini hah? Anak tidak tahu diuntung! pergi dari sini! aku tidak Sudi mempunyai adik jaalaang sepertimu." bentak Nabila yang terus memaki menyalahkan Senja. Wajar saja jika Nabila sangat geram dan emosi, Ayahnya yang dia cintai terbaring koma.
"Sudahlah Nabila, jangan membuat keributan di rumah sakit." ucap Ajeng yang tidak mau ada keributan dalam keadaan kondisi seperti ini.
"Bunda masih saja membela wanita jaalaang ini" ucap Nabila dengan mata sinis dan senyum miringnya.
"Pergi kamu dari sini!!" teriak Nabila mengusir Senja.
Senja yang diusir oleh kakaknya pergi meninggalkan Ruang ICU, Senja sadar Nabila sangat emosi padanya.
__ADS_1
Sepanjang koridor rumah sakit berjalan terus menangis dengan menjambak rambutnya penuh rasa sesal.