
Hari sudah pagi Senja bangun dari ranjang tidur, meregangkan tubuhnya yang lelah. Usia kandungan yang memasuki 5 bulan, perutnya sudah terlihat buncit memang tidak kelihatan besar seperti ibu hamil pada umumnya. Karena Senja juga menutupi perutnya dengan pakaian yang besar agar orang-orang tidak mengenali perut buncitnya itu, ditambah juga memiliki tubuh yang kecil jadi orang-orang juga tidak terlalu menyadari keberadaan kehamilannya.
Senja berjalan ke cermin, menatap cermin dan memutar tubuhnya ke kiri dan kanan terlihat perutnya yang sudah membesar. Senja sudah mulai merasakan tubuhnya yang berat.
"Ini wekeend. Apa aku sebaiknya memberitahu Ayah dan Bunda sekarang ya?" ucapnya yang mengelus-elus perutnya itu.
Setelah memberitahu masalah kehamilannya dengan sang sahabat Amel beberapa hari yang lalu, Senja
merasa pikirannya lebih baik dan sedikit lega. Senja sedikit mempunyai rasa semangat dan tidak melalaikan kuliahnya lagi. Mungkin sebaiknya memang dirinya harus mengungkapkan kejujuran kepada keluarganya.
Senja tahu dirinya tidak boleh terus-menerus seperti ini yang kalut dalam permasalahan. Meskipun Reno tidak bertanggung jawab dan pergi begitu saja meninggalkan dirinya. Dia harus menyelesaikan masalahnya, bagaimanapun juga anak yang dia kandung tidak bersalah.
"Sabar ya nak, Bunda akan menjagamu. Kita gak boleh nyerah sayang." ucapnya yang tersenyum dan mengajak berbicara pada anaknya yang di perut dengan mengelus-elus perutnya
Senja sudah yakin ingin memberitahu kepada keluarganya sekarang , Senja melangkah kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai mandi dan berdandan dirinya turun dan menemui keluarganya.
Senja melihat Ayahnya sedang duduk di teras membaca koran dengan kopi yang berada diatas meja dan ditemani sang Bunda. Senja menghampiri ke 2 orangtuanya.
"Pagi Ayah Bunda" Senja mengucapkan selamat pagi kepada orangtuanya dengan senyum.
"Tumben kamu sudah bangun, biasanya masih molor." ucap Romi pada anaknya itu heran pagi-pagi sudah menyapa.
"Lagi bangun pagi saja Yah, Kak Nabila kemana?" Senja terkekeh.
"Biasa masih tidur ini kan weekend" ujar Romi.
"Apa Ayah hari ini di rumah saja?" tanya Senja memastikan agar keluarganya berada di rumah untuk mengungkapan kejujurannya.
"Iya... kenapa memang?" tanya Romi heran.
"Gak apa-apa kok Yah" sahut Senja singkat.
"Kamu sudah sarapan nak ?" tanya Ajeng.
__ADS_1
"Belum Bun" jawab Senja.
"Sarapan dulu gih, Bunda sudah masak ayam teriyaki sama capcai." Ajeng memang sangat perhatian kepada anak-anaknya. Terlebih kepada Senja anak bungsunya itu.
"Nanti saja Bun, Aku ke kamar dulu Yah Bun." ucap Senja yang kemudian meninggalkan teras.
Senja melangkahkan kakinya ke dapur, saat dirinya merasa lapar. Sepertinya memang benar kata Ibunda nya harus makan, karena sudah tidak lagi sendiri dan tidak boleh egois. Senja harus memberikan gizi kepada anaknya yang masih di perut, dia harus menjaga anaknya, siapa lagi jika bukan dia yang menjaga.
Senja membuka kulkas, dia menghirup udara sejuk dingin dari kulkas yang terasa enak.
"Kita cari sesuatu buat kamu makan dulu nak"
Senja mengambil kotak susu di kulkas, memang sang Ibunda sudah masak tetapi rasanya malas masih pagi memakan makanan yang berat. Dia juga mengambil kotak sereal. Kotak susu dan sereal dia tuangkan di mangkuk dan gelas, Senja menarik kursi dan duduk memakan sarapan yang dia buat itu.
Setelah selesai menyantap sarapan, Senja pergi ke kamarnya. Merebahkan tubuhnya, tangan dan kakinya sering merasakan kebas keram mungkin karena kandungannya sudah mulai membesar.
"Aku akan memberitahu Ayah,Bunda dan Kak Nabila saat makan malam nanti." Ucapnya.
**********
Keluarga Romi Bratajaya sudah berkumpul di ruang makan. Senja melihat keluarganya yang sudah berada di ruang makan pun ikut bergabung, Senja menarik kursi dan duduk. Masing-masing dari keluarganya mengambil piring dan menuangkan makanan di atas piringnya masing-masing itu.
Melihat keluarganya tampak menikmati makan malam dengan tenang, inilah waktunya dirinya membuka omongan.
"Ayah Bunda, ada yang mau Senja omongin." ucap Senja kepada Ayahnya.
"Mau ngomongin apa?" tanya Romi serius.
"Senja mmm..." Senja gugup dan gemetar untuk mengatakan.
"Kamu mau ngomongin apa?" tanya Romi melihat heran Senja tidak jelas berbicara.
Tetapi di saat Senja ingin berbicara, Nabila menghalanginya.
__ADS_1
"Ayah, Mas Ardian memberitahu kalau dia akan ke sini untuk melamar ku Yah." Nabila berbicara dengan raut wajah yang girang dan heboh dengan tangannya yang menepuk-nepuk di dagu.
"Kapan Ardian mau ke sini?" ujar Romi bertanya.
"Yang benar nak? kapan?" Ajeng ikut bahagia mendengar anak sulungnya akhirnya dilamar juga.
Senja hanya menarik napas dan diam, bukannya dia tidak senang kakaknya akan dilamar tetapi kali ini malah dia semakin bingung dan pusing. Bagaimana menjelaskan kepada keluarganya jika situasinya seperti ini. Tidak mungkin memberitahu kabar kehamilannya saat ada kabar bahagia dari kakaknya.
"Aku ikut senang kak." ucap Senja singkat memberi senyum ikut berbahagia.
Memang Nabila dan Senja terpaut umur 7 tahun, Nabila sudah 28 tahun dan belum juga menikah padahal sudah berpacaran selama 8 tahun dengan Ardian pacarnya itu meskipun LDR (Long Distance Relationship). Ibarat jika membeli rumah KPR sudah mau lunas, dan pastinya Keluarganya sangat bahagia akhirnya sang anak sulung dilamar juga.
Senja yang menarik-narik pelan jarinya di bawah meja makan gelisah.
"Aku harus Bagaimana ya Tuhan." gumamnya dalam hati.
Senja hanya bisa menyaksikan percakapan keluarganya, dengan pertanyaan kapan dan kapan. Sangat bosan haduh rasanya dirinya ingin kabur dari ruangan makan. Di saat dirinya hamil harus menyaksikan kabar itu, bukan karena tidak senang tetapi di dalam hatinya terbesit ke irian pada kakaknya. Meskipun Reno meninggalkan dirinya tetapi masih terbesit sedikit rasa cinta dan khyalan masa depan bersama anaknya.
"Sepertinya dalam bulan ini Yah" ucap Nabila memperkirakan sekitaran itu
"Syukurlah, bukankah Ardian berada di Surabaya?" tanya Romi.
"Tugas Mas Ardian di Surabaya sudah mau selesai dan dia bulan ini akan balik ke Jakarta." jawab Nabila.
"Wah, kita harus mempersiapkan baju lamaran buat kamu nanti nak, sepertinya Bunda harus booking baju kebaya di butik teman." sahut Ajeng antusias ingin mendandani anaknya. Seakan mau menggelar pesta pernikahan padahal lamaran saja belum.
"Iya nih Bun, aku harus membeli kebaya yang cantik buat lamaran nanti." kata Nabila yang girang penuh semangat.
"Yasudah kita lanjutin makan malamnya dulu." ujar Ajeng untuk menyelesaikan makan malam.
Senja hanya bergeming dan mendengarkan dengan ke dongkolannya itu tidak ikut berbicara. Dia hanya menunjukkan senyuman untuk sang kakak yang ikut berbahagia.
Setelah selesai makan, senja pergi ke kamarnya. Duduk di depan cermin dengan tangan membuka yang menopang wajahnya. Menatap cermin dengan tatapan perasaan yang campur aduk bingung, sedih, kecewa, gelisah, menjadi satu.
__ADS_1
"Ya Tuhan, apakah aku setega itu memberitahu tentang kehamilanku saat Kak Nabila dan Orangtua ku sedang berbahagia ?" ucapnya dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipi.