Jangan Salahkan Anakku!

Jangan Salahkan Anakku!
Mencari Kemana ? (II)


__ADS_3

Continued Before..........


**********


Senja tidak dari kejauhan bagian administrasi, melihat Ibundanya menangis seperti itu karena masalah biaya rumah sakit, juga ikut menangis. Pantas saja sejak dari pagi wajahnya terlihat murung dan cemas.


"Aku harus membantu bunda mencari uang. Apakah aku harus menceritakan ke Amel dan meminjam padanya?"


"Tapi Amel sudah terlalu baik, aku tidak ingin menyusahkannya." Senja bingung mencari uang dari mana, bekerja pun tidak mungkin dengan keadaan hamil seperti itu. Senja juga hanya memiliki ijazah SMA saja, Apa ada yang mau terima lamaran kerja lulusan SMA dengan keadaan hamil?. Tetapi apa salahnya dia mencoba.


Senja meninggalkan bagian administrasi dan kembali ke ruang ICU, Senja tidak ingin Ibundanya sampai tahu dirinya mengikuti. Tidak berapa lama kemudian, Ajeng datang. Sebelum memasuki kamar ruang ICU, Ajeng menghapus air matanya agar anaknya tidak melihat keadaan dirinya sehabis menangis.


"Maaf ya Bunda lama" kata Ajeng meminta maaf saat memasuki ruang ICU.


"Gak apa-apa kok Bun" Senja tidak menyangka mendapatkan seorang Ibu yang hebat. Dengan keadaan keluarganya yang seperti itu masih bisa tegar dan memberikan senyuman dibalik rasa kesedihannya.

__ADS_1


Ajeng duduk kembali di samping ranjang Romi, tampak sekilas Ajeng menciumi tangan suaminya. Raut wajahnya terlihat sangat merindukan suaminya yang seperti sedia kala.


"Bunda, aku ada urusan sebentar. Aku tinggal Bunda sendiri gak apa-apa ya Bun?" tanya Senja yang sengaja ingin pamit dan mencoba mencari biaya rumah sakit untuk Ayahnya.


"Gak apa-apa sayang" balas Ajeng tersenyum, Kemudian Senja meninggalkan ruang ICU.


****


Saat Senja berjalan pulang dan melangkahkan kaki ke rumah, segerombolan Ibu-Ibu 5 orang lewat depan rumahnya dan Senja mendapat nyinyiran yang pedas untuk dirinya.


"Heh Ibu-Ibu lihat deh, ada gosip baru. tuh anaknya Bu Ajeng hamil duluan loh!! " ucap Bu Denok yang bertubuh gempal, mulai menyinyir. Mereka ber 5, gerombolan Ibu-Ibu penggosip langsung melirik Senja.


"Iya ya Bu, haduh pantesan perutnya gede. Tapi kok bisa sampe gak ketahuan gitu ya hih." sahut Ibu-ibu yang bertumbuh kurus mulai menyahut, Bu Tuti.


"Pinter ya keluarganya Pak Romi ini nutupin, anak hamil duluan tetangga gak ada yang tahu. Hebaat..." kata Ibu-Ibu bertubuh pendek, Bu Juju.

__ADS_1


"Ih... jangan sampai deh anak saya seperti anaknya Bu Ajeng ini bikin aib keluarga" ucap Bu Denok lagi, mulai menyahuti nyinyiran.


"Duh gak nyangka saya ya, ternyata anaknya Bu Ajeng wanita murahan bisa sampai hamil duluan gitu." Bu Rahma yang di sebelahnya Bu Tuti mulai tertarik menggosip.


"Berarti anaknya, anak haram dong yaa." Bu Tuti mulai mengeluarkan kata-kata tidak pantas dan pedas.


Senja hanya melihat saja Ibu-Ibu itu menggosipkan dirinya, apalagi perkataan Bu Tuti yang berbicara anak haram sangatlah tidak pantas seorang Ibu berbicara seperti itu. Senja mendengar perkataan mereka seketika jantungnya panas.


"Sabar Senja" ucapnya dengan air mata yang sudah mulai menetes. Senja pun langsung masuk kerumah dan menutup pintu rumahnya. Dia tidak mau mendengarkan lebih jauh nyinyiran ibu-ibu itu lagi. Senja pun sadar itu hanya baru seberapa stigma buruk untuknya, bagaimana jika nanti?.


**********


Hallo semuanya teman-teman yang sudah membaca. Aku senang banget yang baca banyak, jadi tambah semangat .


Berikan aku semangat dan partisipasi kalian ya untuk komen, like dan votenya.

__ADS_1


Terima kasih....


Semoga sehat selalu....


__ADS_2