
Hari sudah pagi...
Senja bangun dari ranjang tidurnya dan melihat jam di meja sudah pukul 09.00. Senja merasakan kembali mual, dia berlari ke kamar mandi. Memuntahkan semua isi perutnya.
Huek.. huek... huek...
"Aduh perutku mual lagi" ucapnya yang memegang perut terasa mual dan sakit.
Senja mengecek ponselnya kembali, berharap Reno sudah membalas pesan WhatsApp tetapi lagi-lagi tidak ada balasan. Biasanya sebelum pergi ke kampus, Reno mengirimkan pesan WhatsApp dan memberitahu menunggu di kampus tetapi ini tidak. Senja bergegas cepat berangkat ke kampus agar bisa menemui Reno.
"Bun aku pergi ke kampus ya" pamit Senja mencium tangan bundanya.
"Hati-hati ya sayang" ucap Ajeng mengusap kepala Senja.
Senja meninggalkan rumah dan pergi ke kampus.
Senja yang berada di kampus memasuki ruangan kelas terlihat tidak bersemangat. Amel sahabat Senja yang kebetulan duduk di sebelahnya melihat Senja tampak murung dan tidak bersemangat.
"Hei... kamu Kenapa Nja?" tanya Amel heran melihat wajah Senja murung.
"Gak apa-apa kok" Senja membalas tersenyum.
"Kamu lagi ada masalah? wajah kamu murung gitu?" tanya Amel yang perhatian pada sahabatnya itu.
"Kecapekan saja Mel" jawab Senja Singkat.
"Kalau ada masalah cerita dong, gak biasanya kamu murung gitu" ujar Amel yang tidak percaya melihat Senja tidak biasanya tidak bersemangat.
"Aku belum siap cerita sama kamu Mel"
ucap Senja dalam hati.
"Yasudah, tapi kamu gak lagi bertengkar kan sama Reno?" tanya Amel ragu dan masih penasaran.
"Gak kok" jawab Senja singkat tersenyum tipis.
"Kenapa aku tidak melihat Reno hari ini dikampus" tanyanya dalam hati. Untuk memastikan kebenaran, Senja akan menemui Reno setelah jam kuliah dirinya selesai.
Setelah jam kuliah selesai, Senja pergi ke kelas Reno. Memang Senja dan Reno masuk semester yang sama tetapi beda Fakultas. Senja mondar-mandir di depan kelas Reno melihat sudah banyak yang meninggalkan kelas, tetapi tidak melihat keberadaan Reno juga.
"Sorry... mau tanya, Reno masuk kelas gak ya?" tanya Senja pada laki-laki salah satu teman sekelas Reno.
"Reno hari ini gak masuk" jawab singkat laki-laki itu lalu pergi.
Kecewa karena tidak bisa bertemu Reno kembali, Senja mencoba menghubungi Reno tetapi nomor hpnya masih tidak aktif.
"Kamu kemana Ren?"
Senja pun meninggalkan kelas Reno.
Rasanya Senja Ingin menghampiri rumah Reno, tetapi enggan karena selama berpacaran hanya 1 kali ke rumahnya dan itupun dapat perlakuan yang tidak enak dari keluarga Reno dan langsung diusir. Senja masih terus percaya bahwa Reno akan bertanggung jawab, dia menepis semua pikiran buruk tentang Reno.
Deringan ponsel Senja berbunyi, Senja sangat senang dan berpikir itu Reno yang menghubungi. Senja langsung mengambil ponsel hp nya di tas saat dirinya melihat layar ponsel yang menelpon bukan Reno tetapi Amel.
"Halloo Nja, kamu di mana? tadi kamu langsung kabur gitu saja ninggalin aku" cerocos Amel lewat telpon.
"Sorry Mel" jawab Senja.
"Kamu di mana sekarang? aku laper nih, makan yuk." celoteh Amel mengajak makan.
"Aku yang nyamperin kamu saja, kamu di mana?" ujar Senja.
Senja memang sejak pagi belum makan tetapi dia tidak lapar, perutnya yang ada tidak enak. Dia pun juga tidak mau sampai menolak ajakan Amel.
"Aku di taman, kita makan diluar saja ya. Aku tungguin di sini nih jangan lama-lama loh" cerewet Amel.
__ADS_1
Senja menghampiri Amel yang berada di taman kampus. Senja dan Amel pergi meninggalkan kampus untuk mencari tempat makan yang enak.
"Nja kita makan di mana ya enaknya?" tanya Amel dari motor sembari menyetir motornya.
Senja melamun dan tidak mendengar pertanyaan Amel, hanya terdiam saja.
"Nja kamu denger gak sih" teriak Amel kesal.
"Kamu ngomong apa Mel?" tanya balik Senja yang tidak mendengarkan ucapan Amel.
"Huh Kamu gak dengar aku tadi ngomong ya??" kesal Amel menghela napasnya kasar.
"Sorry... habis jalanan berisik" jawab Senja mencari alasan.
"Yaudah kita makan di Caffe Rainbow saja, aku lihat di akun Instagram lagi ada menu baru tuh ada diskonan juga" Amel tertawa yang antusias senang berbau hal diskonan.
"Terserah" jawab Senja singkat mengikuti permintaan Amel.
Setiba di caffe Senja dan Amel mencari kursi. Caffe cukup ramai dan kesulitan mencari kursi. Jika bukan karena Amel sahabatnya, Senja malas sekali berada di tempat keramaian, Senja merasa pusing dan lelah melihat banyak orang ditambah susah mencari kursi kosong. Mereka berdua akhirnya dapat kursi yang kosong di ujung tembok.
"Huh akhirnya ada kursi kosong juga, aku capek plus kelaperan banget" celoteh Amel menepuk-nepuk perut kelaparan.
"Makanan terus yang kamu ingat" Senja melihat tingkah sahabatnya itu tersenyum menggelengkan kepala.
"Cus... kita langsung pesan makan" kata Amel tidak sabar untuk makan.
Amel memanggil waitress caffe untuk memesan makan, waitress wanita datang menghampiri mereka berdua.
"Permisi, ini menunya" kata waitress wanita tersenyum memberikan buku menu caffe di atas meja.
Amel membolak-balik menu yang kebingungan saking banyaknya hidangan lezat.
"Mbak... Mbak... gak ada diskon? tadi saya ngecek di Intagram ada loh. Ini kok di menu gak ada ya?" cerewet Amel tidak tahu malu sekali Amel bertanya seperti itu.
"Promo diskon hanya untuk menu baru, diskonan sampai akhir bulan ini saja. Menu baru kami ada cheesy soup, grilled ham, vanilla cola float, chocolate whipped cream" jawab waitress itu panjang menjelaskan.
Senja melihat Amel pusing banyak memesan makanan. Bagaimana dia bisa habis dengan semua makanan itu?.
"Kamu diam saja Nja? itu menu kamu diamin saja gak mau pesan makan?" cerewet Amel heran melihat senja tidak memesan makanan.
Jangankan makan mencium aroma ruangan caffe saja tidak berselera.
"Kamu habis memangnya? makanan yang kamu pesan banyak banget Mel."
Timpal Senja keheranan.
"Habis dong tenang, mumpung lagi diskon. kamu pesan apa? kasian Mbak waitress berdiri nunggu terus tuh" celoteh Amel.
"Hot Chocolate sama Strawberry Waffles saja" ucap Senja.
"Yasudah Mbak, itu saja pesannya" kata Amel pada waitress.
Mbak waitress caffe pun mencatat semua makanan yang dipesan tersebut dan mengulangi pesanan memastikan agar tidak salah.
"Apa ada tambahan lagi?" tanya Mbak waitress kepada mereka berdua.
"Itu saja Mbak" jawab mereka kompak.
"Baik, silahkan menunggu 30 menit pesanannya" ujar Mbak waitress tersenyum kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
40 Menit mereka sudah menunggu dan Mbak waitress yang tadi melayani menghampiri membawa makanan yang dipesan.
"Permisi... ini makanannya" kata Mbak waitress sambil menaruh semua makanan di atas meja.
"Makasih Mbak..." ucap Senja pada Mbak waitress dan si waitress pun pergi.
__ADS_1
Belum ada 5 menit makan, Senja tiba-tiba mual dan pergi begitu saja ke toilet tanpa pamit dengan Amel.
"Senja mau kemana? main pergi gitu saja" gerutu Amel kesal.
Huek...Huek...Huek...
"Perutku mual banget."
Terus-menerus merasakan mual, Senja memegangi perutnya yang tidak kuat menahan mual. Tampak wajahnya sedikit pucat, Senja menyalakan air keran wastafel toilet membasuh wajahnya agar terlihat segar. 30 menit sudah berada di toilet , Senja kembali pada Amel.
"Kamu habis dari mana Nja? nyelonong gitu saja gak bilang" cerewet Amel yang kesal ditinggal begitu saja dengan Senja.
"Sorry tadi aku ke toilet, aku mules banget" ujar Senja mencari alasan.
"Lama banget sampai 30 menit, punyaku sampai mau habis makanannya" celoteh Amel kesal yang mengerucutkan bibirnya.
"Hot chocolate nya sudah dingin, aku pesan lagi saja buat hangatin perut" kata Senja.
Amel melihat Senja aneh memangnya kenapa jika sudah dingin apa hubungannya dengan perut?.
Senja memanggil waitres dan meminta untuk dibuatkan hot chocolate yang baru.
Hot chocolate yang baru dipesan sudah datang, Senja meminum dan menikmatinya. Merasakan perutnya sedikit membaik sambil mengelus-elus perut yang mengumpat di meja tidak terlihat.
Saat menikmati Hot chocolate Senja seperti melihat Reno yang baru saja berjalan keluar caffe bersama wanita yang tidak Senja kenal.
"Seperti Reno"
"Bersama wanita?"
gumamnya dalam hati.
"Kamu lihat apa Nja?" tanya Amel melihat Senja Serius menatap pintu.
"Aku tadi seperti melihat Reno Mel, Reno bersama wanita" ucap Senja dengan wajah sedih.
"Kamu salah lihat kali, gak mungkin Reno seperti itu" Amel menenangkan Senja.
"Apa aku salah liat?" ujarnya dalam hati.
Senja menyakini bahwa yang dia lihat memang Reno pacarnya, Memang sudah 2 hari Reno tidak memberi kabar dan ditemui juga sulit bahkan membalas chat nya pun tidak. Tetapi Senja mencoba menipis pikiran buruk itu jika itu bukanlah Reno yang dia lihat.
"Mel pulang yuk, aku gak enak badan" Senja meminta Amel untuk pulang merasa tubuhnya sedang tidak fit.
"Kamu sih gak makan nasi jadi sakit" cerewet Amel yang perhatian.
Amel memanggil waitress dan meminta bon sebelum pulang. Merekapun berdua pergi dan meninggalkan caffe.
"Aku Pamit ya"
pamit Amel mengantarkan Senja sudah sampai depan rumahnya.
"Makasih Mel, hati-hati"
Senja langsung masuk ke kamarnya untuk beristirahat dan tanpa sengaja air mata terjatuh di pipinya. Mencoba untuk menghubungi Reno kembali dan nomor hpnya masih tidak aktif juga.
Tubuh Senja terasa lelah sekali, perasaan bergejolak takut dan khawatir dengan situasi dirinya hamil terlebih Reno tak kunjung dapat dihubungi.
Senja memikirkan bagaimana jika anak yang dikandungnya lahir tanpa seorang ayah?.
Bagaimana keluarganya mengetahui dan menerima dirinya hamil diluar nikah?.
Bagaimana dia membesarkan anak seorang diri?.
Apakah sanggup?.
__ADS_1
Sesungguhnya Senja belum siap menjadi seorang ibu, apa lagi masih kuliah. Masih Banyak cita-cita yang ingin digapai, tetapi senja juga tidak ingin mengugurkan kandungannya. Bagaimanapun anak yang dia kandung tidak berdosa. Pikiran yang bergejolak membuatnya lelah dan tidak terasa Senja memenjamkan mata tertidur.