Jangan Salahkan Anakku!

Jangan Salahkan Anakku!
Geng Dajjal


__ADS_3

"Senja gimana sama kuliah kamu?" tanya Ajeng.


"Sepertinya, aku cuti saja Bun." Senja juga bingung mau melanjutkan kuliah bagaimana dengan kondisi seperti ini. Ayahnya koma, dia juga hamil, untuk biaya perawatan Ayahnya saja kekurangan apalagi kuliah.


"Kamu lanjutin saja kuliah kamu sayang"


"Gak bisa Bun, uang dari mana kita saja butuh banyak biaya rumah sakit Ayah."


"Tapi kamu lagi semester akhir, apa gak sayang nak?"


"Gak apa-apa kalau kuliah bisa dilanjut lain kali Nun" jawab Senja tersenyum.


Sudah 1 bulan Romi koma dan kandungan Senja sudah memasuki 6 bulan. Ajeng bingung bagaimana membayar biaya perawatan Romi kembali, tempo hari biaya perawatan rumah sakit Romi sudah dibayar selama 1 bulan penuh. Ajeng sedikit merasa lega ada yang membantu keluarganya, Ajeng ingin berterimakasih kepada orang itu tetapi juga tidak tahu siapa. Karena yang membayar tidak menyebutkan namanya.


**********


"Gimana keadaan Om Romi?" tanya Amel yang sedang berada di rumah Senja.


"Alhamdulillah semakin membaik"


"Semoga Om Romi cepat siuman dan sembuh" ucap Amel ikut bahagia mendengar keadaan Romi berkembang baik dan mendoakan.


"Aamiin"


"Mel Sepertinya aku harus menyelesaikan kuliah dulu deh sebelum cuti, aku mau menuntaskan sampai UAS (Ujian Akhir Semester) dan langsung mengurus cuti. Setelah cuti aku nanti hanya fokus menyelesaikan skripsi saja." Senja memikirkan kuliahnya meskipun keadaan keluarganya sedang ada masalah, Senja juga tidak ingin sampai meninggalkan kuliah begitu saja, apalagi sampai tidak lulus. Bagaimanapun juga setelah kuliah nanti menjadi bekal dirinya bekerja, setidaknya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.


"Yasudah kalau begitu bagus, aku senang seenggaknya aku ada yang nemenin."


"Memang selama ini gimana kamu di kampus?"


"Gak ada temennya hahaha selain kamu, kamu tahulah di kampus banyak dajjalnya"


"Huh dasar kamu" Senja melemparkan bantal di wajah Amel yang gemas dengan ucapannya itu.


"Memangnya UAS kapan Mel?"


"Sekitar 1 bulan lagi kayanya" jawab Amel, tangan kirinya sedang sibuk memegang snack dan mulut penuh mengunyah snack camilan keripik.


"Yasudah ah, sudah sore. Aku pulang dulu" kata Amel berpamit ingin pulang. Senja mengantarkan Amel sampai depan pintu rumahnya.


"Hati-hati ya Mel"


Amel mengendarai motornya dan pulang sambil melambaikan tangan kepada Senja berpamitan.


Senja sudah menelantarkan kuliah semenjak hamil, entah berapa lama. Sebenarnya dirinya tidak masalah jika sedang hamil menunda kuliahnya dulu, apalagi kondisi yang tidak memungkinkan saat ini. Tetapi karena waktu yang nanggung di sela-sela masa menjelang skripsi jadi harus menuntaskan UAS nya dulu agar lebih ringan mengerjakan. Meskipun akan mendapatkan gunjingan Senja pun sudah siap.

__ADS_1


Keesokan hari...


Hari sudah pagi, Senja bangun dari ranjang tidurnya. Senja melihat jam sudah pukul 09.00, Senja bangun dari ranjang tidur dan segera membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai mandi dan berdandan, Senja memesan ojek online untuk berangkat ke kampus. Ojek online sudah datang dan dia segera berangkat ke kampus.


Setiba di kampus, Senja berjalan ke ruang kelasnya dan mencari Amel. Banyak tatapan-tatapan mata yang melihat dirinya dengan keadaan perut besar. Senja bersabar dengan tatapan mereka dan berjalan tetap tersenyum.


Tiba-tiba datang 3 gerombolan perempuan menghalangi Senja berjalan menuju ruang kelas.


"Pantas gak pernah kelihatan di kampus, ternyata lagi hamil uuppss..." kata Nadia bersama gengnya 3 orang yang sedang menghalangi Senja berjalan.


"Wajahnya sih polos alim, kelakuan kaya pelacuurr hahaha." timpal Vani teman segengan ikut menyahut.


"Kalau aku sih malu Nad, tapi masih berani ya datang ke kampus hahaha..." kata Rere ikut nyeletuk.


"Pelacuur mana tahu malu sih"


"Eh-eh kalian lihat cewek ini, menurut kalian gimana? ada cewek hamil tapi belum nikah." Nadia mengompori orang-orang yang berada di sekeliling kampus.


Orang-orang di sekeliling kampus langsung menatap Senja dengan tatapan menghina.


"Eh iya iya"


"Murahan banget"


"Cantik sih tapi pelacuurr"


"Dasar cewek murahan"


"Dasar pelacuurr kampus"


"Bikin nama kampus jelek"


"Jadi cewek murahan banget"


"Wajah polos tapi kelakuan jalaang"


"Perempuan menjijikkan"


Ucap-ucapan menghina yang keluar dari mulut mereka yang menatap Senja dengan hina. Senja mendengar ucapan mereka hatinya tersayat, apakah sekotor itu disamakan pelacuur? apakah serendah itu harga dirinya?


Air mata Senja langsung terjatuh menetesi pipinya.


"Kenapa menangis?" tangan Nadia menyentuh pipi Senja dengan tatapan yang masih menghina.

__ADS_1


"Sudah berapa banyak laki-laki yang kamu tiduri?" kata Vani lancang mengucapkan kata berlebihan seperti itu di depan umum.


"Dia mana inget sih Van, dia aja gak tahu siapa yang menghamilinya hahaha..." Nadia tertawa penuh kemenangan menghina Senja di depan umum.


Geng Nadia ini adalah orang-orang yang sirik dan sangat membenci Senja. Mereka 1 kelas yang sama dengan Senja. Nadia sangat membencinya, apalagi hubungan Senja dengan Reno. Siapa yang tidak mengenali Reno di kampus? laki-laki paling ganteng di kampus dan bonus dari keluarga yang kaya raya. Tetapi Reno hanya melirik dan tertarik dengan Senja saja, tidak menyangka laki-laki ganteng, tidak akan menjamin bertanggung jawab dengan kelakiannya itu.


Tiba-tiba tangan Nadia memegang perut Senja, Senja sudah kesal dengan perlakuan gengnya Nadia semakin pedas perkataannya.


PLAAKKKK


"Kalian boleh menghinaku semua tapi tangan kotormu itu jangan menyentuh anakku!" teriak Senja yang sudah geram dengan kelakuan mereka ber 3, tamparan keras mendarat di pipi Nadia.


"Kurang ajaarr!! dasar cewek sialaan!" tangan kanan Nadia sudah siap menampar Senja.


"Eh emak lampir" Amel tiba-tiba datang dan langsung sigap mencengkeram pergelangan tangan Nadia yang sudah siap ingin menampar Senja.


"Kalian kenapa lihatin? Gak punya kerjaan hah?" teriak Amel kepada orang-orang di sekeliling itu untuk menyuruh pergi.


"Ini juga emak lampir main nampar orang. Cewek kelakuannya kaya dajjal!" sergah Amel melirik tajam pada Nadia.


"Gak usah ikut campur! minggir!" bentak Nadia yang mendorong bahu kanannya Amel.


"Kamu gak malu? ngajak ribut sama perempuan hamil? Benar-benar wujud dajal ini cewek!" kata Amel membalas omongan Nadia.


"Kenapa harus malu? harusnya tuh dia gak punya suami tapi hamil hahaha..." kata Nadia dengan senyuman miring menghina.


"Lagian memang kamu masih suci Nadia?" Amel melirik Nadia tajam.


"Perempuan kaya kamu juga pasti sudah dijamah kan, baju kamu saja sudah kaya tante girang begini" ucap Amel tersenyum merekah membalas ucapan Nadia.


Nadia hanya terdiam dengan ucapan Amel,


"Jangan kurang ajar ya!" celetuk Rere membela Nadia dan mendorong bahu kirinya Amel.


Amel tahu jika Nadia menyukai Reno, jika saja Nadia tahu siapa ayah pada bayi dikandungan Senja pasti mendengar langsung serangan jantung. " kamu mau tahu siapa bapak dari anak ini!" ucap Amel membalas dengan senyum miring.


Nadia menatap Amel dengan tatapan menyelidik.


"Kita pergi dari sini saja Mel" Senja menarik lengan Amel untuk pergi dari geng Nadia, Senja tidak mau sampai Amel keceplosan mengatakan kepada Nadia siapa Ayah dari anak yang Senja kandung. Senja takut dengan perilaku Nadia dan gengnya yang akan membahayakan anaknya nanti.


"Aku juga males sama dajjal bar-bar ini!"


Amel dan Senja meninggal geng Nadia, geng Nadia kesal menatap kepergian Amel dan Senja. Amel dan Senja pun melangkah ke ruang kelas dan sudah terduduk di kursi mereka masing-masing.


"Kamu diapain saja tadi sama emak lampir?" tanya Amel kesal memukul meja.

__ADS_1


"Aku gak apa-apa kok, sudah biasa Mel aku dapat perlakuan itu sekarang." Senja tersenyum dan mengelus bahu Amel untuk menenangkan kekesalan Amel.


__ADS_2