
Continued Before..........
**********
"Ayah mendengar Bunda?" Ajeng bahagia sekali melihat suaminya mendengar. Setitik harapan membuat Ajeng percaya suaminya bisa sembuh sedia kala.
Perkembangan reaksi yang baik dari suaminya. Ajeng langsung sigap memanggil Dokter dari alat bel pemanggil, Dokter pun langsung datang.
"Dokter, suami saya tadi ada reaksi merespon Dok." kata Ajeng antusias memberitahu kabar baik.
"Wah, benarkah bu? baik saya periksa dulu." Dokter memeriksa saluran pernapasan dan mengukur tingkat kesadaran pasien.
"Bagaimana Dokter?" tanya Ajeng.
"Perkembangan yang baik Bu, semoga Bapak Romi memberikan reaksi yang lebih baik lagi ya Bu."
"Tapi suami saya pasti bisa sembuh kan Dok dengan reaksi ini?"
"Insyaallah Bu, perkembangan saat ini sudah bagus. Saya permisi dulu" Dokter pamit meninggalkan ruang ICU.
"Alhamdulillah, semangat ya Ayah." ucap Ajeng tersenyum sambil menciumi tangan sang suami.
"Assalamualaikum tante Ajeng" sapa Amel. Senja dan Amel yang baru datang. Amel mencium tangan Ajeng, Amel Ingin melihat kondisi Romi.
'"Waalaikumsalam, Amel..."
"Tante Ajeng sehat?"
"Sehat sayang"
"Maaf ya Tante, aku baru jenguk sekarang. Gimana kondisi Om Romi?"
__ADS_1
"Gak apa-apa Mel, kamu ke sini saja Tante sudah senang. Alhamdulillah ada perkembangan baik tadi."
"Perkembangan apa Bun?" tanya Senja penasaran senang mendengarnya.
"Tadi ayah bereaksi, merespon bunda waktu diajak ngobrol. Ayah keluarin air matanya, Bunda bahagia banget." ucap Ajeng tersenyum lebar memberitahu kabar baik.
"Wah Alhamdulillah" sahut Amel turut ikut bahagia mendengarnya.
"Alhamdulillah, semoga ayah perkembangannya lebih baik lagi ya Bun" ucap Senja senang dan memeluk ibundanya.
"Aamiin Ya Allah..." ucap mereka kompak.
Mereka ber 3 pun duduk di sofa yang berada di ruang ICU sambil mengobrol.
Senja dan Amel sepakat untuk biaya pengobatan Romi tidak memberitahu pada Ajeng. Amel menyetujui dan paham jika Ajeng sangat tidak suka merepotkan orang lain apalagi bila Ajeng sampai tahu bahwa yang membantu adalah Amel. Senja juga tidak ingin membebani Ibundanya karena merasa berhutang budi pada orang lain nantinya. Cukup Senja saja yang melakukan balas budi untuk Amel nantinya. Mereka ber 2 akan mengurus biaya rumah sakit dengan tanpa nama yang membayar.
Drrrrrtttt.... drrrrttttt.... drrrrttttt.......
"Assalamualaikum Bun" sapa salam Nabila dari sambungan telepon.
"Waalaikumsalam, akhirnya kamu mengabari bunda juga sayang." kata Ajeng yang senang mendengar suara anak tertuanya akhirnya mengabari juga setelah 3 minggu menghilang tanpa kabar.
"Maafin Nabila Bun, gimana Bunda sehat?" tanya Nabila menanyakan kabar Ibundanya.
"Alhamdulillah sayang, kamu di mana sekarang Nabila?."
Nabila tidak menjawab pertanyaan Ibundanya, "Ayah bagaimana keadaannya bun?."
"Alhamdulillah sedikit ada perkembangan"
"Alhamdulillah, semoga Ayah perkembangannya semakin maju" kata Nabila bahagia mendengar kabar Ayahnya ada perkembangan baik.
__ADS_1
"Aamiin"
"Kamu kapan pulang Nabila? bunda khawatir sama kamu nak" tanya Ajeng khawatir ingin anak sulungnya itu pulang dan berharap sudah mereda amarahnya.
"Aku akan pulang, tapi wanita jalaang itu harus keluar dulu dari rumah" perintah Nabila meminta persyaratan.
Ajeng tidak menyangka Nabila berkata seperti itu, bukannya semakin membaik emosinya. Ini malah semakin meluap emosinya, memang Senja sudah melalui hal fatal tetapi juga tidak baik menyalahkan keadaan terlebih membenci kehamilan anak yang tidak mempunyai dosa. Semua sudah kehendak Tuhan, bayi mungil itu adalah titipan dari-NYA.
Tuhan menguji hamba-NYA memberikan cobaan untuk mendapatkan kebahagiaan nantinya, karena hidup itu tidak instant semua butuh proses bukan? Ingin bahagia juga pasti mendapatkan lika-liku cobaan.
"Nabila kamu gak boleh berkata begitu. Bagaimanapun juga Senja itu adik kamu dan Nabila sebagai kakak harus melindungi apapun keadaannya." ujar Ajeng memberikan pengertian pada Nabila.
"Apa aku melindunginya? wanita jalaang itu sudah dewasa. Semenjak dia mencoreng nama keluarga dan membuat Ayah koma, aku gak sudi punya adik murahan kaya gitu."
"Memalukan, Bunda usir wanita jalaang itu pergi dari rumah. Aku akan pulang." ucap Nabila menegaskan Ibundanya. Sebenarnya Nabila juga tidak tega meninggalkan Ibundanya dalam kondisi prihatin seperti ini, Nabila juga sadar seharusnya dia mendampingi Ibundanya di saat Ayahnya terbaring koma. Tetapi kebenciannya pada Senja sudah tidak bisa dimaafkan dan sudah sangat fatal kesalahan itu.
"Nabilaaaa" Nabila langsung memutuskan sambungan teleponnya setelah berbicara seperti itu.
Senja melihat raut wajah Ibundanya langsung berubah setelah menerima telepon.
"Siapa yang telepon Bun?" tanya Senja penasaran.
"Kakak kamu Nabila" jawab Ajeng.
"Kak Nabila sekarang di mana Bun? kapan Kak Nabila mau pulang?" kata Senja sumringah senang Kakaknya ada kabar.
"Nabila belum bisa pulang sayang, masih sibuk bekerja dan tidak bisa ditinggal" Ajeng tersenyum, terpaksa berbohong kepada anaknya, Ajeng tidak mau sampai Senja sedih mendengar ucapan Kakaknya di telepon tadi.
Senja tahu jika Ibundanya itu berbohong, mana mungkin Kakaknya secepat itu memaafkan kesalahan dirinya. Senja juga sadar kesalahannya itu tidak bisa dimaafkan, jikapun Kakaknya harus membenci dirinya seumur hidup dia pun paham dan pantas menerima itu semua.
"Yasudah Bun" balas Senja tersenyum.
__ADS_1