Jangan Salahkan Anakku!

Jangan Salahkan Anakku!
Mencari Kemana ? (I)


__ADS_3

"Sialan....!! Bunda berani menamparku hanya karena wanita jallaang itu!" ucap Nabila yang sangat geram mengepalkan ke 2 tangannya. Nabila langsung mengambil koper dan mengemasi pakaiannya. Nabila sudah tidak tahan jika terus berhadapan dengan Senja dan ditambah kondisi ayahnya yang koma. Nabila ingin menenangkan pikirannya sementara, dan Nabila pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan rumah.


**********


Setelah kejadian Ajeng menampar Nabila, Nabila menghilang 2 minggu. Nabila sengaja pergi dari rumah, bukan karena tidak sayang dengan ayahnya. Namun karena masih kesal dengan Ibundanya itu. Nabila masih belum terima dengan kondisi Senja yang hamil. Senja sudah mencoba mencari Nabila ataupun menghubunginya tetapi tidak direspon panggilan teleponnya. Lagi-lagi Ajeng pun sebagai Ibu yang baik hati memaklumi sikap anak tertuanya itu yang belum menerima kondisi keluarganya saat ini.


2 minggu Romi koma, Ajeng kelimpungan mencari uang untuk biaya rumah sakit suaminya. Tidak tahu harus mencari kemana. Ketika kabar Romi koma, kantor tempat bekerja suaminya langsung mem-PHK-kan begitu saja tanpa pesangon. Padahal suaminya sudah mengabdi bekerja selama 25 tahun, sungguh miris dan keji perusahaan itu. Jaminan atau tunjangan pun tidak ada.


Ajeng hanya mengandalkan tabungan miliknya dan suaminya yang mereka kumpulkan selama menikah, namun tidak seberapa banyaknya. Ajeng pun tidak menyangka jika biaya perawatan rumah sakit Romi perharinya 10 juta. Biaya inap rawat ICU Romi sudah dibayarkan semua dan tabungannya sekarang sudah habis, Ajeng tidak tahu bagaimana setelah hari-hari selanjutnya dan membiayainya rumah sakit suaminya, terlebih dia pun juga tidak bekerja hanya seorang IRT.


"Bunda sudah makan?" tanya Senja yang baru datang dan melihat raut wajah Ibundanya gundah.


"Kamu sudah?" Ajeng tidak menjawab dan malah menanyakan kembali kepada anaknya.


"Aku sudah tadi, ini aku bawakan makanan buat bunda makan. Bunda kan belum makan dari pagi." Senja menaruh tentengan omprengan di atas meja.


"Iya sayang, nanti bunda makan. Bunda belum lapar." ucap Ajeng tersenyum.


"Bunda harus makan, nanti kalau Bunda sakit yang jagain Ayah siapa?" Senja tahu bila Ibundanya itu sedang gundah dan banyak pikiran, Senja seraya membujuk.

__ADS_1


"Aku masak sendiri loh Bun itu ayam goreng dan capcainya. Aku suapin ya Bun..." Senja mengambil omprengan dan membuka satu-persatu omprengan itu. Senja mengambilkan nasi mencampurkan dengan lauk dan sayuran.


"Bunda makan sendiri saja sayang" Ajeng tidak mau bila disuapi anaknya seperti anak kecil makan, Ajeng mengambil omprengan di tangan Senja dan mulai menyuapkan sendok ke dalam mulutnya.


Senja tidak tega melihat Ibundanya seperti itu, Ayahnya koma ditambah kakanya pun belum ada kabar. Namun Ajeng terkadang masih bisa menyembunyikan raut wajah sedihnya itu. "Bunda kenapa? gak biasanya bunda begini?" Senja memberanikan diri bertanya karena merasa tidak nyaman melihat Ibundanya seperti itu.


"Gak apa-apa kok sayang" ucap singkat Ajeng memberikan senyum masih dengan menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Jangan berbohong Bun, cerita sama aku dong"


sahut Senja, Ajeng tidak mau membebani anaknya. Apalagi anaknya sedang mengandung, bagaimanapun juga semua tanggung jawab dia sebagai orangtua.


"Yasudah Bun, nasinya dihabisi ya Bun." kata Senja yang tidak ingin melihat Ibundanya makan hanya sedikit.


"Aku harus ke bagian administrasi untuk menanyakan biaya rawat inap selanjutnya. Aku harus mencari cara agar Romi tetap dirawat." batin Ajeng dalam hati.


Setelah selesai makan, Ajeng pamit dengan anaknya Senja untuk keluar sebentar. "Sayang bunda keluar dulu ya, kamu tunggu Ayah di sini.'


Senja tidak bertanya kepada Ibundanya itu akan pergi kemana, Senja hanya menganggukkan kepala saja. Tetapi Senja merasa ada yang tidak beres, Senja pun merasa curiga dengan sikap Ibundanya itu yang tidak biasa. Senja memutuskan untuk mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Ajeng melangkahkan kakinya menuju bagian administrasi dengan perasaan gundah, dia menanyakan kepada petugas administrasi perempuan dibagian itu.


"Mbak, saya mau tanya biaya rawat inap suami saya berapa ya?" tanyanya pada petugas administrasi perempuan.


"Atas nama pasien siapa ya Ibu?" tanya si Mbak petugas itu.


"Atas nama Romi Bratajaya Mbak" jawab Ajeng.


"Tunggu sebentar ya Ibu, saya cek terdahulu." sahut si Mbak petugas. Si petugas itu pun sibuk mengescroll mouse dan menatap layar komputernya.


"Saat ini sudah 35 juta Bu, sudah termasuk biaya dan peralatan medis pasien." sahut Mbak petugas.


Ajeng menelan salivanya tercengang mendengar biaya rumah sakit yang sudah membesar, baru 3 hari sudah 35 juta. Wajahnya langsung menjadi pucat. "Yasudah Mbak terimakasih" Ajeng pun meninggalkan bagian Administrasi dan terduduk di tempat antrian Administrasi dengan perasaan sedih dan gelisah.


"Aku mendapatkan uang dari mana sebanyak itu? Ya Allah... tabungan pun juga sudah habis, apakah harus menggadaikan sertifikat rumah?" Ajeng terduduk dengan perasaan yang sedih dan cemas, air matanya sudah membasahi wajah cantiknya yang mulai keriput.


**********


To Be Continued..........

__ADS_1


__ADS_2