
Setelah diusir oleh Nabila, Senja menangisi dirinya sendiri di sepanjang koridor rumah sakit. Terduduk di lantai dengan ke 2 kaki meningkup dan wajah yang menunduk di atas lutut dengan memeluk erat kakinya itu.
"Maafkan aku ayah...." ucapnya sendu. Lutut dan wajahnya sudah basah akibat genangan air mata yang terus bercucuran.
Senja merasa dunianya hancur, ayahnya koma karena dirinya. Entah apa yang harus dilakukan, untuk melihat wajah sang ayah pun rasanya juga tidak berhak. Senja menjedotkan bahunya di tembok beberapa kali dengan posisi ke 2 kaki yang masih meningkup. Dia sudah tidak memikirkan kondisinya yang sedang hamil, pikirannya sudah kacau balau.
"Maafkan aku Ayah... maafkan aku Ayah..." ucap Senja yang berkali-kali terus menjedotkan bahunya di tembok.
"Maafkan aku A Ayaah..." kali ini suaranya sudah sangat parau. Senja menegakkan tubuhnya dan melekatkan tubuhnya di tembok yang masih terduduk di lantai dengan posisi kaki yang meningkup. Sorotan matanya kosong dengan air mata yang terus-menerus menetes di pipinya. Senja pun tidak peduli lagi orang-orang berlalu lalang melihat dirinya di koridor dengan kondisi menyedihkan seperti itu, mungkin dianggapan orang-orang yang melihat wajar karena sedang berada di rumah sakit.
Sementara di ruang ICU, Ajeng masih setia menunggu dan menemani Romi suami tercintanya, tangan Romi terus dia sentuh dan diciumi. Nabila pun yang melihat Ibundanya sangat sedih seperti itu semakin geram kepada Senja.
"Ayah... kenapa belum sadar juga? Ayah pasti kesakitan. Ayah yang kuat yaa... Ayah pasti bisa" suara Ajeng yang pilu berkata dengan melekatkan tangan Romi di pipinya dan sesekali mencium tangan suaminya. Wajar saja jika Ajeng bersedih seperti itu.
Jam menunjukan sudah pukul 03.00 , Ajeng terus merenungi dirinya. Sebagai Istri dan Ibu bagi anak-anaknya tidak boleh lemah dan cengeng seperti itu. Dirinya harus kuat dan tegar apapun yang terjadi, jika dia sebagai istri dan ibu lemah bagaimana dengan ke 2 anaknya.
"Astagfirullah hal adzim... Ya Allah maafkan hamba mu ini Ya Allah" Ajeng berucap dengan berkali-kali membaca istighfar, Ajeng menghapus air matanya itu.
"Aku tidak boleh seperti ini, semua adalah kehendak Allah. Aku serahkan semua kepadamu Ya Allah, lebih baik aku shalat tahajud." ucap Ajeng mengangkat wajahnya yang melekat tertunduk di ranjang tidur Romi. Ajeng beranjak berdiri dan mencium kening suaminya.
Terlihat Nabila tertidur di sofa penunggu pasien dan mengusap-usap kepala anak sulungnya itu. Ajeng pun melangkahkan kaki hendak pergi ke mushola rumah sakit untuk shalat tahajud.
Ajeng mengambil air wudhu dan membaca niat doa. Memutar keran, tetesan air yang keluar dia ambil. Ajeng memulai membasuh telapak tangannya, berkumur, membersihkan lubang hidung, membasuh wajah dan tangan, mengusap telinga dan terakhir membasuh kakinya. Tidak lupa membaca doa setelah berwudhu. Perasaan hatinya yang bergejolak merasa lebih baik setelah berwudhu.
__ADS_1
Ajeng memasuki mushola, mengambil peralatan shalat di lemari. Mukena dia pakaikan dan menggelar sajadah. kemudian dia pun melakukan shalat tahajud 2 rakaat, tampak khusyuk sekali melakukan kewajiban shalatnya. Setelah selesai shalat tahajud, Ajeng menengadah ke 2 tangan tangannya untuk meminta doa kepada Yang Maha Kuasa.
"Ya Allah ya Tuhanku, ampunilah segala dosaku, hanya kepada Mu lah aku berserah diri, hanya kepada Mu lah aku beriman, hanya kepada Mu lah aku bertawakal dan aku kembali. Berilah hamba kekuatan dan ketegaran menghadapi segala cobaan Mu Ya Allah. Maafkanlah hamba Ya Allah, hamba tidak bisa menjadi Ibu dan Istri yang baik untuk keluarga hamba. Maafkanlah hamba Ya Allah, yang tidak bisa menjaga anak-anakku dari segala dosa. Ampunilah segala dosa anak-anakku serta suamiku Ya Allah. Berilah ketegaran dan ketabahan untuk kami untuk menghadapi segala cobaan Mu Ya Allah. Engkaulah Yang Maha Terdahulu dan Engkaulah yang Maha Terakhir. Tiada Tuhan selain Engkau, dan tiada daya upaya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Mu Ya Allah. Aamiinn..."
Setelah selesai melakukan shalat tahajud, Ajeng merasa tentram, dia mencoba berdamai pada diri sendiri. Ajeng pun membereskan kembali peralatan shalatnya di lemari mushola dan kembali ke ruang ICU.
Saat berjalan ke koridor, Ajeng melihat Senja sedang terduduk meningkup tubuhnya. "Ya Allah Senja" Ajeng merasa bersalah kepada anaknya, Ajeng tidak boleh menyalahkan anaknya, Senja tidak bersalah. Bagaimanapun juga sebagai orangtua Ajeng merasa tidak bisa menjaga anaknya, janin yang dikandung Senja pun juga tidak bersalah. Semua sudah kehendak Allah yang memberikan.
Ajeng menghampiri anaknya, terlihat Senja tertidur dengan tubuh meningkup seperti itu. Ajeng berjongkok dan mengusap-usap puncak kepala Senja.
"Sayang..."
Senja bangun dengan wajah sembab dan kelopak mata yang bengkak, tubuhnya lemas. Senja melihat Ibundanya menghampirinya langsung memeluk tubuh sang bunda.
"Kamu dari tadi di sini sayang?" tanya Ajeng yang membalas pelukan anaknya.
"Iya Bun..." jawab Senja pelan.
"Maafin Senja pun, Senja yang sudah membuat Ayah koma seperti itu. Maafin Senja yang tidak berguna menjadi anak Ayah dan Bunda. Maafin Senja Bun... maafin Senja..." Senja menangis sesenggukan dan memeluk Ajeng kembali.
Ajeng meneteskan air mata melihat Senja menyalahkan dirinya sendiri. "Sudah sayang, semua sudah di atur oleh Allah. Kamu gak boleh menyalahkan diri sendiri begitu, kamu kan juga lagi hamil." ucap Ajeng yang menghapus air mata di wajah anaknya
"Taaapiii... Ayah Bun..." kata Senja yang masih dengan isak tangisnya.
__ADS_1
"Sudah sayang, sekarang kita masuk ke ruang ICU ya" sahut Ajeng yang tersenyum dan mengajak anaknya ke ruang ICU.
Senja bahagia mempunyai seorang Ibu seperti Ibundanya, jelas-jelas yang salah dirinya. Tetapi Ibundanya masih meminta maaf karena tidak bisa menjaga anak-anaknya dengan baik.
Senja dan Ajeng pun menuju ke ruang ICU, Senja yang melihat kakaknya tertidur di sofa penunggu pasien, tampak pulas dengan tubuh yang meliuk ke kiri, wajahnya terlihat lelah. "Maafin aku Kaak..."
Senja mendudukkan tubuhnya di samping ranjang tidur Ayahnya, Senja memegang jemari Romi. Tangannya kaku tidak bergerak, wajahnya pucat pasi. Senja memeluk tubuh Romi yang terbaring koma. Air matanya jatuh kembali, hatinya teriris tidak tega melihat sang ayah yang banyak dipasangkan peralatan medis di tubuhnya.
"Ayah maafin Senja, Senja tidak bisa menjadi anak yang baik. Apa Ayah kesakitan dengan peralatan ini?" ucap Senja menangis dan masih memeluk tubuh Romi yang terbaring di ranjang.
"Heh jallaang...! ngapain kamu ada di sini?"
Suara keras Nabila yang terdengar tiba-tiba mengagetkan Senja. Nabila terbangun dari tidurnya, saat melihat Senja yang berada di ruang ICU geram. Senja menoleh kepada kakaknya hanya terdiam, sorotan mata tajam yang menatap Senja, sorotan mata yang penuh kebencian.
Nabila menghampiri Senja, Nabila mendorong bahu Senja dengan tanganya, Senja pun hampir jatuh karena didorong dengan keras. Kakaknya kali ini memang sudah benar-benar membencinya.
"Nabila, kamu gak boleh gitu sama Senja. Dia itu lagi hamil" bentak Ajeng kepada anak tertuanya.
"Bunda masih saja ya membela wanita murahan ini! apa peduliku dengannya hamil? anaknya itu juga anak haram." teriak Nabila yang tidak terima Ibundanya itu masih membela Senja.
PLAAAAKKKKK
Sebuah tamparan keras melayang di pipi kanannya Nabila, Ajeng tahu Nabila emosi tetapi sangat tidak pantas mengatakan bayi yang tidak berdosa itu anak haram.
__ADS_1
"Buuuunnn....." Nabila mengepalkan ke 2 tangannya, yang sudah sangat emosi kepada Senja. Bisa-bisanya Ibundanya menampar hanya karena wanita murahan itu. Nabila yang tidak terima langsung pergi dan meninggalkan ruang ICU.