Jangan Salahkan Anakku!

Jangan Salahkan Anakku!
Di Rumah Sakit


__ADS_3

"Ada yang pingsan"


"Ada yang pingsan"


"Ada yang pingsan"


"Tolongin itu mbaknya"


Orang-orang berkerumunan berlari penasaran.


Amel sudah selesai membeli tiket untuk nonton dan saat melihat banyak orang berlari heboh penasaran, Amel yang melihat pun heran dan penasaran juga.


"Mbak ada apa ya? kok banyak yang lari-larian gitu sih?" tanya Amel pada salah satu pengunjung bioskop.


"Ada yang pingsan katanya Mbak"


Amel teringat Senja yang belum menghampirinya juga.


"Senjaaa?" teriak Amel yang kemudian ingat Senja.


Amel panik langsung berlari menghampiri kerumunan orang yang sedang melihat pengunjung wanita pingsan.


"Ada yang kenal dengan Mbak ini? Mbaknya lagi hamil. Kerabatnya kemana?" ucap seorang wanita tua berkerudung yang membantu menopang kepala di tangannya dan memberikan minyak kayu putih di hidung pada si wanita pingsan.


Amel mendekati para kerumunan pengunjung dan melihat siapa yang sedang pingsan, "Ya Allah Senja, Ini teman saya Bu. Tolong bantu bopong keluar Pak, mau saya bawa ke rumah sakit dengan taksi" ucap Amel yang panik dan meminta bantuan kepada security bioskop.


"Iya Bu.." jawab Bapak security bioskop dan membopong Senja.


"Hati-Hati Pak" kata si Ibu yang membantu tadi.


Amel dan security masuk ke dalam lift bioskop dan membawa ke lobby mall, Amel pergi menggunakan taksi langsung menuju rumah sakit terdekat.


Setiba di Rumah sakit, Senja di letakkan pada Stretcher. Suster beserta petugas medis lainnya mendorong stretcher itu dibawa ke ruang IGD (Inap Gawat Darurat).


"Maaf Ibu silahkan tunggu di luar." ucap Suster rumah sakit dan menutup pintu IGD.


Amel panik dan menunggu di luar ruangan IGD, sementara Senja ditangani oleh Dokter dan para petugas medis lainnya.


"Ya Allah Senja, semoga kamu gak apa-apa ya." Amel panik mengigit ibu jari tangannya yang mondar-mandir berjalan.


Sudah 30 menit Amel menunggu, Amel panik dan bingung apakah harus menghubungi keluarga Senja atau tidak.


"Gimana nih" ucap Amel yang duduk dengan memegangi kepalanya kebingungan harus bertindak apa.


Kemudian pun Suster keluar meminta Amel untuk masuk. Amel dengan sigap langsung menghampiri.

__ADS_1


"Ibu dengan keluarganya pasien?" tanya Dokter.


"Iya Dok..." jawab Amel.


"Pasien kandungannya lemah karena banyak tekanan stress. Sebaiknya jangan dibiarkan dalam kondisi hamil mengalami hal itu, akan berpengaruh terhadap janin yang dikandung dan berisiko besar nantinya." ucap Dokter memberikan penjelasan.


"Baik Dok, terimakasih" kata Amel.


"Baiklah, saya permisi" ucap Dokter pamit, Dokter dan Suster pun meninggalkan ruang IGD.


Amel duduk dan memegangi tangan Senja yang masih belum siuman.


"Senja kamu kenapa bisa sampai begini" Amel berbicara pada Senja yang masih belum sadar, Amel tidak tega melihat Senja berbaring dengan tangan yang diimpus dan selang yang berada di hidung.


Amel menunggu Senja dan tidak beberapa lama Senja pun siuman. Senja membuka matanya melihat sekeliling pusing dan bingung.


"Aku dimana?" tanya Senja melihat sekelilingnya sedikit samar dan memegangi kepalanya yang pusing.


"Kamu di rumah sakit" jawab Amel.


"Gila kamu Nja bikin aku panik banget, kamu kenapa bisa sampai begini? " tanya Amel bingung kepada Senja bisa sampai pingsan.


"Aku gak tahu, tadi tiba-tiba kepala aku pusing banget." jawab Senja dengan wajah yang pucat.


"Kata Dokter tadi kandungan kamu lemah karena banyak stress, ini gak bisa dibiarin. Kamu jaga tubuh kamu kasian anak kamu kalau kamunya terus stress begini. Untung kamu gak apa-apa, aku gak bisa bayangin diluar dari kejadian ini. Gimana coba kalau aku gak lagi sama kamu Senjaaa." ceramah Amel yang panik dan peduli pada sahabatnya.


"Apa kamu sudah kasih tahu sama keluarga kamu?" tanya Amel yang mengerutkan dahinya.


"Mel... jangan kasih tahu mereka yaaa... aku mohon." Senja memohon dengan memegangi tangan Amel.


"Aku bingung Nja tapi keadaan kamu begini, mereka juga harus tahu."


"Pliisss..." Senja memohon dengan gestur tangan memohon dan mata yang berkedip-kedip.


"Yasudah.. nanti aku bilang om Romi kalau kamu menginap di rumah aku karena ada tugas kelompok deh." ujar Amel menghela napasnya pelan.


"Makasih Amel" ucap Senja yang memegang tangan Amel.


Amel hanya tersenyum mendengar permintaan Senja.


"Sampai kapan kamu sembunyiin kehamilan kamu itu senja?" batin Amel dalam hati.


"Yasudah, aku urus administrasi kamu dulu sekalian aku ke kantin beli bubur buat kamu makan." kata Amel yang ingin membelikan makanan dan mengurus biaya rumah sakit Senja.


"Makasih ya Mel, kamu memang sahabat terbaik aku."

__ADS_1


Amel pergi meninggalkan Senja dan melangkah kakinya menuju tempat administrasi pasien dan ke kantin. Memang keluarganya Amel cukup kaya karena Ayahnya seorang Arsitek, bukan tidak wajar lagi memang Amel sudah menganggap Senja saudaranya sendiri.


Sementara Amel ke kantin, Senja pun berbaring tidur hanya merenung. Jika dia memberitahu keluarganya yang tahu kabar dirinya berada di rumah sakit pasti buruk. Senja masih bingung entah sampai kapan masih ingin menutupi kehamilannya. Apalagi setelah keluarganya mendapatkan kabar bahagia Nabila sang kakak akan dilamar.


Perasaan dirinya berkecamuk antara ingin jujur atau tidak. Senja mengelus-elus perut merasa bersalah kepada anaknya yang dikandung karena dirinya yang egois jadi terkena dampaknya.


"Maafin bunda ya nak.... kamu yang sehat ya di perut."


Dokter dan Suster masuk mengecek keadaan Senja.


"Ibu sudah siuman?" tanya Dokter.


"Sudah Dok" balas Senja.


"Bagaimana keadaan Ibu?" Dokter memegang pergelangan tangan Senja memeriksa denyut nadinya stabil atau tidak.


"Sedikit membaik Dok" jawab Senja yang tersenyum.


"Syukurlah" ujar Dokter tersenyum.


"Oh ya Dok kira-kira saya bisa pulang kapan ya?" tanya Senja yang tidak betah berlama-lama di rumah sakit.


"Itu tergantung dari keadaan Ibu, mungkin 2 sampai 3 hari. Jika Ibu cepat pulih maka akan di pulangkan. Mengingat kondisi Ibu yang sedang hamil dalam kandungan lemah." jawab Dokter memberi penjelasan.


"Terimakasih Dok. " ujar Senja.


"Bila Ibu butuh sesuatu atau bantuan Ibu tekan tombol panggil ini saja ya Ibu, nanti petugas medis akan mendatangi Ibu." sahut Suster memberitahu dan menunjukkan alat bel perbantuan.


"Iya Suster"


"Semoga lekas sembuh ya Bu..." ucap Suster tersenyum memberi semangat dan mendoakan.


"Baiklah, saya permisi dulu" pamit Dokter.


Dokter dan Suster pun pergi meninggalkan ruangan.


"Yang benar saja 3 hari di rumah sakit" Senja memanyunkan bibirnya kesal jika harus dirawat selama itu.


Senja memikirkan jika dirinya dirawat terlalu lama keluarganya pasti akan khawatir dan curiga. Perutnya pun sudah memasuki 5 bulan sudah tampak terlihat perut besarnya dan tidak mungkin juga dirinya harus memakai pakaian yang besar terus-menerus.


Senja juga ingin seperti Ibu hamil pada umumnya yang bebas dan tenang menjalani kehamilan apa lagi jika didampingi keluarga tentu pasti sangat bahagia. Tetapi itu hanya angan-angan nya saja


"Aku harus cepat pulih agar bisa cepat pulang"


"Sabar ya nak, kita gak boleh lama-lama di sini."

__ADS_1


Senja berbicara pada anaknya yang masih di perut sambil mengelus-elus perutnya.


__ADS_2