Jangan Salahkan Anakku!

Jangan Salahkan Anakku!
TESPEK !


__ADS_3

Pada malam hari...


Setelah mandi dan membersihkan tubuhnya, Senja beristirahat dan merebahkan tubuhnya di ranjang tidur.


Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan kejadian kamar yang berantakan. Sejak dari pagi Senja merasa gelisah dan gundah seperti akan mendapatkan masalah besar.


Apakah kamarnya yang berantakan suatu pertanda?


"Kenapa perasaanku gelisah terus ya dari pagi?"


Senja menepis rasa prasangka buruknya itu, Senja bangun dari tempat tidur berjalan ke meja rias. Senja mengambil tasnya yang berada di lemari meja rias, mengambil hasil USG yang ada di tas.


Lalu kembali duduk di ranjang tidurnya lagi dan menyederkan tubuhnya dengan ke 2 kaki yang berselonjor. Senja mengamati foto USG anaknya. Kali ini setiap dia merasa gundah, Senja selalu mengambil foto hasil USG. Senyuman Indah dan lucu anaknya membuat dia lega membangkitkan semangatnya.


"Kamu lagi apa nak di dalam?" Senja mengajak berbicara anaknya sambil mengelus-elus perutnya yang buncit itu.


Senja merasakan anaknya merespon dia berbicara dan menendang-nendang perutnya. Pergerakan anaknya menendang ke kiri dan kanan seperti ingin mengajak bermain bersama Ibundanya.


"Kamu sekarang menendang terus ya sayang hahaha..." tawa bahagia Senja senang anaknya aktif di dalam perut.


"Sepertinya kamu lapar nak terus menendang"


"Oke, kita sekarang makan yuk nak, kamu harus bernutrisi di dalam ya sayang."


Senja pun berdiri dan beranjak dari ranjang, melangkahkan kakinya ke pintu kamar dan berjalan menuruni tangga menuju dapur.


Terlihat Ayahnya Romi duduk di ruang tamu masih asik menonton tv acara Moto GP kesukaannya. Senja menghampiri Ibundanya dan membantu menyiapkan makan malam.


"Aku bantu Bun..."


"Iya sayang"


Senja mengambil piring mangkok berisi ayam teriyaki yang berada di atas meja kitchen dan memindahkan ke meja makan. Satu persatu hasil masakannya Ibundanya dia pindahkan ke meja makan.


"Kak Nabila kemana Bun?" tanya Senja heran tidak melihat sang Kakak dan sambil mengambil beberapa piring di rak dan di letakkan ke meja makan.


"Oh Nabila dari pagi gak ada di rumah, Nabila menjemput Adrian ke bandara." ucap Ajeng memberitahu.

__ADS_1


"Oh pantesan Bun, memang Mas Adrian balik ke Jakarta?" tanya Senja.


"Iya, makanya Nabila girang banget Mamas nya balik ke Jakarta." Ajeng terkekeh.


"Iyalah Bun, ditinggal LDR gitu" sahut Senja juga ikut senang.


"Makanan sudah siap, yuk kita makan. Panggil Ayahmu ya sayang." perintah Ajeng untuk memanggil suaminya Romi.


"Iya Buun..." Senja melangkahkan kakinya ke ruang tamu memanggil sang Ayah.


"Yah makan malam sudah siap..." kata Senja memberitahu.


"Kamu ganggu saja, sebentar lagi seru nih. Memang sudah siap semua?" celoteh Romi yang kesal di ganggu menonton tv oleh anaknya.


"Sudah Yah, nanti Bunda ngomel loohh..." kata Senja mengingatkan Ayahnya.


"Okee..."


Romi langsung beranjak berdiri dari sofa mengambil remote dan mematikan tv. Romi tidak mau sampai Istrinya itu mengeluarkan omelan yang membuatnya pusing. Lalu Romi melangkahkan kakinya berjalan ke dapur dan Senja mengikuti ayahnya dari belakang.


Mereka sudah terduduk rapi di kursi masing-masing, Ajeng menyendokkan nasi dan ayam dari piring mangkok, Ajeng meletakannya pada piring suaminya.


"Belum Yah, sebentar lagi juga pulang." Kata Ajeng memberitahu.


"Yasudah..."


Keluarga Romi Bratajaya terkecuali Nabila yang belum hadir, menikmati makan malam tampak tenang. Di saat mereka menikmati makan malam tidak lama Nabila pun datang.


"Assalamualaikum..." sapa Nabila kepada keluarganya.


"Waalaikumsalam..." ucap kompak mereka.


Nabila ikut duduk dan bergabung pada keluarganya, Nabila sekilas melirik Senja dengan tatapan sorot mata yang tajam dan sinis. Senja melihat sang kakak meliriknya dengan tatapan tidak mengenakan seperti itu jantungnya berdebar cepat.


"MASIH BERANI WANITA MURAHAN INI MAKAN DI RUMAH INI?!" suara geram Nabila dari kursi duduknya, jari telunjuknya menunjuk pada wajah Senja dengan wajah yang sudah memerah sangat emosi.


Senja mendengar ucapan Nabila, wajahnya berubah menjadi pucat pasi, jantungnya berdebar kencang. Tangannya gemetar dan tubuhnya berkeringat dingin. Kerongkongan nya terasa sangat kering, Senja menelan salivanya, meremas jari tangannya yang basah berkeringat. Senja tahu apa yang dimaksud dengan kakaknya itu. Entah dirinya sekarang harus berbuat apa. Bak di hantam hujan es tubuhnya terasa kaku, rasanya dirinya ingin menangis.

__ADS_1


Ajeng dan Romi langsung melirik Nabila, bingung dengan ucapan Nabila yang berkata kasar pada adiknya itu.


"Kenapa kamu berbicara begitu sama adik kamu Bil." tanya Ajeng bingung.


"Anak itu sudah mencoreng nama baik keluarga. Lihat ini apaaa?" Nabila melemparkan TESPEK di meja makan yang dia temui dari kamar Senja pagi tadi.


Suasana makan yang tadinya nikmat dan tenang berubah menjadi mencekam, ruangan terasa panas dengan ucapan Nabila yang menunjukan hasil tespek Senja.


"Apaaaaa...!!!" Romi membanting piring yang berada di depannya dan beranjak berdiri dari duduknya.


BRAAAAKKKK


Suara gebrakan meja makan terdengar keras, tangan Romi mengepal dan menonjok meja. Wajah Romi memerah emosi dengan tatapan mata yang melototi Senja.


"Kamuuuuuu.....!!!" bentak Romi yang menunjukan jari telunjuknya pada wajah Senja.


Ajeng melihat suaminya dengan emosi yang tidak bisa terkontrol itu lalu menghampiri suaminya untuk menenangkan.


"Tenang Yah, kita tanya baik-baik dulu pada Senja." Ajeng mengusap-usap bahu suaminya untuk tenang.


Senja hanya pasrah dan menangis, tubuhnya lemas. Senja menundukkan wajahnya tidak berani menatap mata sang Ayah yang sudah memerah sangat emosi padanya. Bibirnya terasa kaku, mengucapkan kata pun juga rasanya tidak sanggup. Senja sadar dirinya bersalah, tidak mungkin juga dirinya membela diri. Harga diri pun rasanya juga tidak punya di hadapan keluarganya.


"Tenaang??!!! anak ini sudah membuat malu kitaa!!" Romi menolehkan tatapan mata tajam pada istrinya. Bagaimana bisa anak yang sudah mencoreng nama keluarga tetapi istrinya masih bersikap tenang dan membela anaknya itu.


Ajeng melihat sorotan mata suaminya takut dan tidak berani berucap lagi, Ajeng lebih baik membiarkan suaminya mengeluarkan emosinya dulu. Ajeng tahu Senja bersalah pantas memang Romi sangat emosi pada Senja.


"Kaamuuuuu...." suara terbata - terbata Romi memegang dada kanannya dan menundukkan bahu yang tangan kirinya memegangi kursi. Romi merasa tubuhnya panas, Romi tidak sanggup membendung emosinya yang sudah tidak terkontrol. Dada terasa sesak, paru-parunya berat seperti diremas-remas. Tidak ada ruang oksigen untuk menghirup udara lagi, jantungnya berdetak sangat cepat tidak beraturan.


"Ayah... Ayah... kenapa?" Ajeng melihat suaminya merasakan sakit seperti itu panik.


Romi tidak sanggup menahan dadanya yang sangat sakit, tangan kanannya memeras baju sangat kencang di bagian dada, tangan kirinya yang memegangi kursi terus bergemetar.


BUUUUKKKK


Romi terkapar di lantai pingsan karena serangan jantung.


Senja, Nabila, dan Ajeng sang istri panik langsung menghampiri Romi.

__ADS_1


Ayaaaaaaaahhhhh......


__ADS_2