Jangan Salahkan Anakku!

Jangan Salahkan Anakku!
Putus Asa


__ADS_3

Setelah 1 bulan yang lalu mendatangi rumah Reno, Senja semakin putus asa. Perasaan yang sudah tidak terkontrol dan rasa putus asa melekat pada dirinya. Usia Kandungan sudah 4 bulan dan mulai terlihat perutnya yang sedikit membuncit. Dia tidak tahu harus melakukan apa, dirinya masih bungkam dengan kehamilannya. Sudah berapa lama dirinya seperti manusia purba yang menghindari orang-orang di sekelilingnya, terutama Amel sang sahabat sekaligus teman sekelas sekampus nya.


Dan selama Senja berbohong kepada keluarganya, Senja masih suka berjalan sendirian menyusuri jalan tanpa arah. Merenung, duduk di tepi jalan, di taman, mengitari jalan tergantung langkah kakinya saja berjalan. Tidak tahu apa yang di lakukan selama seharian di luar rumah. Dirinya melakukan hal konyol itu sampai malam, dan orangtuanya hanya tahu Senja sibuk kuliah saja.


Entah sampai kapan dirinya harus melakukan hal itu dan menyembunyikan kehamilannya dari keluarga dan sahabat. Senja terlalu takut untuk memberitahu mereka. Senja masih belum siap bila keadaannya tidak diterima.


"Astaga Senja kamu kemana saja? kamu hampir 2 bulan gak ada kabar " Amel yang terkejut melihat Senja masuk kuliah dengan memeluk senja sangat erat.


"Maafin aku Mel" jawab datar Senja.


Wajah Senja yang sayu dan tubuh kurus yang sedikit berbeda dengan perutnya itu membuat Amel sadar melihat ada perbedaan diri pada Senja.


"Kamu sekarang kurus Nja? kamu kemana saja? kalau ada masalah cerita sama aku dong" ucap Amel yang mencoba membuka omongan tahu bahwa sahabatnya punya masalah.


Senja hanya menangis mendengar ucapan Amel, Untung saja kelas masih sepi dan belum memulai mata kuliah yang dijadwalkan.


"Hei, kenapa kamu nangis?" Amel memberi tisu pada Senja.


"Senja kita bersahabat sudah dari SMP, aku tahu kamu seperti apa. Kamu gak mungkin tiba-tiba menghilang kalau gak ada masalah besar. Kalau hanya masalah kecil gak mungkin kamu sampai menghindar dan gak ada kabar." ucap Amel yang memegang tangan Senja untuk menenangkan tangisnya itu.


"Kalau kamu belum mau cerita gak apa-apa kok tapi jangan dipendam sendirian. Kamu cerita sama aku biar mengurangi beban pikiran kamu itu." Amel melihat Senja tidak tega, matanya sangat sayu akibat jarang tidur.


"Aku hamil Mel" jawab suara berat Senja yang menangis dan menundukkan wajahnya itu.


"Apaaaaa???? Haammiiil???" Amel syok dan kaget mendengar pernyataan Senja.


Sebenarnya Senja berat memberitahu Amel, tetapi Amel benar sampai kapan dirinya menutupi kehamilannya itu. Beban pikirannya sudah tidak sanggup dia bendung sendiri terlebih pada sahabatnya. Jika dirinya masih bungkam kepada keluarganya, setidaknya masih ada tempat sandaran untuk berbagi cerita dan mengurangi beban pikiran masalahnya.


"Pantas saja badan kamu terlihat beda. Jadi yang membuatmu menghilang menjauh masalah ini?" sergah Amel.

__ADS_1


"Maafin aku Mel, aku takut kasih tahu kamu kebenarannya. Aku takut kamu gak mau terima keadaan masalah aku ini" Senja menangis sesenggukan menjelaskan.


"Ya Allah Senja, kamu kenapa mikir begitu. Kita sahabat dari sekolah. Apapun masalah kamu, kamu tetap sahabat aku Nja" Amel memeluk Senja yang masih menangis. Tidak habis pikir Amel, selama ini Senja menutupi masalahnya sendiri. Memang di wajahnya terlihat sekali banyak pikiran.


"Yaudah nanti kita bahas lagi, sekarang sudah mau masuk kelas. Biar enak ceritanya, di rumah aku saja, aku tahu kamu menutupi dari Tante dan Om." ucap Amel yang memegang tangan Senja dan menenangkannya.


"Makasih Mel masih terima keadaan aku, tapi orang tua kamu kan ada di rumah." tanya Senja.


"Kita ini sahabat harus saling support. Kebetulan Mama dan Papa lagi ke Surabaya nengokin Tante aku yang baru lahiran. Kamu nginap saja di rumah aku, aku kesepian plus Kangen kamu juga hehe." ucap Amel dengan senyuman gigi kudanya yang juga meminta Senja menginap. Amel memang anak tunggal jadi wajar saja kesepian di rumah sendirian. Memang sudah biasa senja menginap di rumah Amel.


"Nanti aku bilang bunda dulu buat menginap" sahut Senja.


Jam kuliah sudah selesai, mereka berdua pun pulang. Senja berada di rumah Amel untuk curhat dengan masalahnya yang belum semua dia ceritakan.


"Nja kamu ke kamar duluan saja, aku ke dapur dulu ambil camilan." ucap Amel, Senja pun naik ke atas dan masuk ke kamar Amel.


Amel berada di dapur membuatkan es coklat kesukaan Senja agar Senja merasa hatinya lebih baik. Amel mengambil camilan dari kulkas. 1 bungkus keripik kentang, wafer keju dan juga 2 gelas es coklat yang dia buat. Amel meletakannya di nampan dan membawa nampan itu ke kamarnya.


"Makasih Mel" sahut Senja.


Glek... glek... glek...


Senja meneguk es coklat itu sampai habis, kehausan belum meminum apapun sejak pagi.


"Eh buset langsung habis tuh es, haus neng" kata Amel yang tertawa melihat Senja menghabiskan langsung minumannya.


"Aku kan belum minum dari pagi" ujar Senja juga tertawa.


"Kamu laper juga gak? kalau laper, kita pesen online saja" tanya Amel menyarankan.

__ADS_1


"Nanti saja Mel, masih capek. Mau rebahan dulu." kata Senja yang langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Usia kandungan kamu berapa bulan?" tanya Amel langsung ke topik cerita.


"Mmmm... Sekitar jalan 5 bulan" jawab senja berpikir sekitaran itu.


"Sudah tahu jenis kelaminnya apa?" tanya Amel penasaran.


Senja bangun dari rebahannya, "gak tahu Mel, aku belum periksa" Senja menggelengkan kepalanya tidak tahu, memang dari awal hamil Senja belum periksa kandungan ke rumah sakit. Tidak sampai berpikir ke arah itu.


"Wah kamu ini usia kandungan sudah jalan 5 bulan belum ke dokter sama sekali" Amel menggelengkan kepala mengecap bibirnya dengan heran.


"Memang ya si brengsek Reno itu gak mau tanggung jawab. Aku gak suka dari awal kamu berhubungan sama dia" Amel melipatkan ke dua tangannya yang kesal dan tidak suka.


Senja hanya diam saja mendengar ucapan Amel,


"Mel jangan kasih tahu ayah dan bunda yaaa" Senja memegang ke 2 tangan Amel dengan sorotan mata memohon.


"Hmmm" Amel menghela napasnya kasar.


"Mau sampai kapan kamu nyembunyiin semua ini?" tanya Amel heran.


"Aku belum siap Mel, aku takut mereka gak terima keadaan aku yang hamil" jawab Senja yang tiba-tiba menangis.


Amel memberikan tisu pada senja dan memeluknya, "Yasudah, tapi kan belum dicoba. Saran aku kamu secepatnya kasih tahu sama mereka Nja sebelum mereka tahu duluan. Perut kamu kan juga nanti tambah buncit. Sejelek-jeleknya kelakuan anak, tetap saja orang tua sayang pada anaknya." tegas Amel menyarankan memberi nasihat dan semangat.


Senja hanya diam dengan ucapan Amel. Mungkin memang benar dirinya harus mencoba. Tetapi mental nya belum siap jika di luar dari bayangannya itu.


"Senja meskipun kamu sedang hamil, kamu harus lanjutin kuliah kamu. Sayang loh, kita udah semester akhir." ucap Amel menyarankan agar Senja melanjutkan kuliahnya meskipun sedang dalam masalah.

__ADS_1


"Hmm aku belum tahu Mel, belum mikirin sampe situ. Mungkin nanti aku cuti kuliah dulu." Senja menjawab dengan bingung, dirinya takut dan belum siap bila kuliah akan mendapatkan gunjingan jelek di kampus.


"Yasudah, aku selalu support kamu kok" ujar Amel menyemangati apapun keputusan sahabatnya. Amel prihatin melihat keadaan Senja seperti itu, dia tahu jika Senja masih belum siap dengan semuanya.


__ADS_2