Jangan Salahkan Anakku!

Jangan Salahkan Anakku!
Senyuman Indah


__ADS_3

"Aku harus cepat pulih agar bisa cepat pulang"


"Sabar ya nak, kita gak boleh lama-lama di sini" Senja berbicara pada anaknya yang masih di perut sambil mengelus-elus perutnya.


Senja membangkitkan semangatnya, dia juga tidak mau terlalu lama dirawat. Senja mencoba bangun dari ranjang dengan kepalanya yang masih pusing. Senja merasa bosan berbaring terus, Senja mengambil ponselnya di tas yang tergeletak di atas meja samping ranjang tidurnya.


Senja berpikir juga harus memberitahu keluarganya, agar keluarganya juga percaya sedang berada di rumah Amel untuk tugas kelompok. Jika Amel yang menghubungi keluarganya nanti takut akan kurang percaya. Senja membuka hp nya dan mengetik pesan WhatsApp pada sang Ayah.


Senja : Ayah, aku menginap di rumah Amel 3 hari. Ada tugas kuliah yang harus kita kejar minggu ini.


Romi : Tugas apa memangnya sampai menginap?


Senja : Tugas Manajemen Pemasaran, karena aku harus menyurvei tempat juga untuk makalah yang dikerjakan.


Romi : Yasudah, kamu hati-hati ya nak.


Senja : Makasih Yah ❤️


Senja sudah mengirim text WhatsApp kepada Ayahnya, memang sudah biasa dirinya menginap di rumah Amel jadi Ayahnya juga tidak mempermasalahkan.


"Kamu ngapain Nja?" tanya Amel yang datang membawa tentengan plastik hitam berisi bubur ayam hangat.


"Aku WhatsApp Ayah memastikan agar tidak curiga" jawab Senja.


"Hmm.. Nih bubur ayam hangat buat kamu" kata Amel yang menaruh tentengan plastik hitam di atas meja.


"Kamu sudah makan Mel?" tanya Senja.


"Sudah tadi di kantin sekalian, itu bubur kamu makan. Apa mau aku suapin?" ucap Amel yang gemas dengan Senja tidak membuka bungkusan bubur itu.


"Aku saja" Senja mengambil bubur ayam yang di plastik hitam. Senja duduk di ranjang tidur sambil memakan bubur ayam yang dibelikan Amel.


"Kamu makan yang banyak biar cepat sehat dan pulih" kata Amel yang perhatian.


"Oh ya Nja... kamu sudah USG (Ultrasonografi)?" Amel penasaran.


"Belum Mel" ucap Senja yang sedang menyuapkan bubur di mulutnya.


"Kenapa gak sekalian saja USG di sini. Kamu gak penasaran memang jenis kelamin nya apa? aku saja penasaran" Amel menyarankan.


"Boleh nanti aku coba, aku juga penasaran anak aku kira-kira kelaminnya apa ya?"


"Tapi Apapun kelamin nya semoga kamu selalu sehat ya nak, maafin bundanya ya sayang " ucap Senja mengajak berbicara dan mengelus-elus perutnya.


Senja merasakan gerakan pada perutnya, suatu hal yang luar biasa baru kali ini dia merasakan anaknya merespon dia berbicara.


"Mel... dia merespon Mel, barusan menendang." seru Senja yang bahagia merasakan pergerakan janinnya.


"Kamu serius, mana aku mau ngerasain dong." Amel antusias dan memegang perutnya senja.

__ADS_1


"Hei... baby gemas, Kamu harus jadi anak pintar ya." Amel senang merasakan pergerakan pada janinnya Senja.


"Wah jadi gak sabar aku melihat ponakan" seru Amel tersenyum dengan menepuk-nepuk tangannya.


Senja sangat bahagia dan terharu melihat Amel antusias dengan anaknya, tak sengaja air matanya tiba-tiba terjatuh. Di saat keadaan kehamilannya yang dia tutupi dan tidak ada yang tahu, hanya Amel lah yang berada di sampingya.


"Kenapa kamu nangis Nja?" tanya Amel bingung melihat Senja tiba-tiba menangis.


"Aku bahagia punya sahabat seperti kamu Mel, makasih Mel kamu selalu ada disaat keadaan aku seperti ini." ucap Senja yang menghapus air matanya di pipi.


"Kita ini kan sahabat Senja" Amel terharu dan memeluk Senja.


"Senja, maaf aku gak bisa temani kamu. Papa dan Mamaku hari ini pulang dari Surabaya. Kamu gimana ya di sini? " tanya Amel yang bingung dan khawatir meninggalkan senja sendiri di Rumah Sakit.


"Gak apa-apa kok Mel, kamu pulang saja." jawab Senja tidak masalah ditinggal.


"Tapi benar gak apa-apa, aku gak tega ninggalin kamu sendiri."


"Gak apa-apa kok, di sini kan ada Dokter dan Suster." kata Senja memastikan Amel jangan khawatir.


**********


Keesokan Hari...


Hari sudah pagi, Senja sudah bangun dari tidurnya. Dokter dan Suster datang mengecek keadaan Senja.


"Bagaimana dengan keadaan Ibu? Apa ada keluhan yang dirasakan?" tanya Dokter.


"Sudah lebih baik dok" balas Senja.


"Syukurlah" sahut Dokter.


"Selamat pagi Ibu Senja... ini sarapan dan obatnya Bu, Sarapannya dimakan ya Bu... setelah itu obatnya di minum agar kondisi Ibu cepat pulih."


ucap seorang Suster yang baru datang dan mengambil piring beserta obat dari troly makanan dan diletakkan di atas meja.


"Iya Suster, terimakasih."


"Oh ya Dokter, kalau mau USG di sini apakah bisa ? " tanya Senja penasaran.


"Bisa Bu, apa Ibu mau USG?" Dokter menanyakan.


"Baik, nanti akan saya bantu antarkan Ibu ke spesialis SpoG. Ibu mau melakukan USG nya sekarang?" tanya Dokter Joshua.


"Iya Dok, Terimakasih."


"Suster Ana tolong bawakan kursi roda untuk Ibu Senja" perintah Dokter Joshua pada Suster Ana.


"Baik dok." ucap sang Suster.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Suster Ana datang membawa kursi roda untuk Senja. Suster Ana membantu Senja duduk di kursi roda, karena memang keadaannya belum pulih jadi dibantu memakai kursi roda.


Dokter mengantarkan Senja ke spesialis kandungan SpoG yang dibantu suster mendorong Senja dengan kursi roda yang digunakan. Mereka menuju ke lantai 3 ruang khusus kebidanan dan spesialis kandungan (SpoG).


"Selamat pagi Dokter Vivian" sapa Dokter Joshua kepada Dokter Vivian khusus di bagian SpoG.


"Selamat pagi Dokter Joshua, ada yang bisa saya bantu?" balas sapa Dokter Vivian.


"Begini Dokter Vivian, Ibu Senja ingin melakukan USG tolong dibantu ya Dokter." ucap Dokter Joshua menjelaskan.


"Baik Dok."


"Hallo Ibu Senja, saya Dokter Vivian. Saya periksa kandungan Ibu dulu ya." ucap ramah Dokter Vivian.


Dokter Joshua pamit meninggalkan ruangan, sedangkan Dokter Vivian dan Suster Ana membantu Senja untuk berbaring di ranjang periksa.


"Kita periksa Ibu dulu yuk" ucap Dokter Vivian yang membuka baju Senja sedikit naik sampai dada.


Dokter Vivian mengolesi gel di perut Senja, dan meletakkan alat transduser. Dokter Vivian memutar-mutar transduser itu di perut Senja.


"Kapan Ibu Senja terakhir periksa kandungan?" tanya Dokter Vivian.


"Belum pernah Dokter, baru ini saya periksa."


"Loh kenapa belum Bu? harusnya Ibu rutin control kehamilan Ibu, penting loh untuk mengetahui perkembangan janin." ucap Dokter Vivian menasehati.


Senja hanya diam, mau menjawab pun juga bingung. Dirinya merasa bersalah tidak pernah control kehamilan. Seharusnya sebagai calon Ibu memperdulikan perkembangan dan kesehatan janin yang diperut.


Dokter Vivian melihat Senja hanya diam dan tidak menjawab sepertinya tahu dan tidak ingin bertanya lebih banyak lagi.


Dokter Vivian masih sibuk dengan transduser dan tangannya yang memutar-mutarkan transduser itu di perut Senja. Masih mencari jenis kelamin bayi dan perkembangan janin sang pasien pada layar monitor mindray.


"Wah selamat ya Ibu, bayi nya laki-laki" kata Dokter Vivian memberi selamat.


"Benarkah Dokter" Senja tersenyum bahagia mendengar anaknya laki-laki.


"Ibu Senja jangan sering stress ya Bu... kondisi kandungan tergantung dari sang Ibunya loh. Kalau dari pengecekan yang saya lihat masih normal." Dokter Vivian lagi-lagi menasihati.


"Iya Dok..." Dokter Vivian benar, Senja pun bahagia anaknya di dalam perut baik-baik saja. Meskipun kondisi dirinya tidak stabil masih sering berubah-ubah dengan emosinya.


"Sekarang kita lihat ya... wajah dedeknya."


Dokter Vivian memutar-mutar dan menggeser-geser transduser di perut Senja, terlihat jelas wajah bayi mungil sedang tertidur dengan posisi tubuh miring sambil tersenyum. Indah sekali rasanya melihat pemandangan wajah bayi nan lucu dan mungil ditambah pergerakan kaki dan tangannya itu.


"Dedeknya ganteng nih bu, lucu banget yaa..." ucap Dokter Vivian yang antusias senang melihat.


Senja melihat meneteskan air mata, sangat bahagia rasanya melihat layar monitor mindray. Terlihat jelas senyuman anaknya yang indah dan gemas. Anaknya menggerakkan tangannya dan meletakkan tangannya itu di wajah semakin lucu saja kegemasan bayi mungil itu.


"Kamu lucu banget nak, bunda bahagia melihat senyuman kamu yang lucu dan indah." ucap Senja dengan tetesan air mata bahagia.

__ADS_1


__ADS_2