
Rumah masih sepi, Ibunya sedang pergi sedangkan Ayah dan Kakaknya masih bekerja. Untung saja mereka belum ada di rumah jika sudah ada pasti sudah terlihat jelas wajah berantakan Senja yang terus menangis.
Senja berjalan menuju kamarnya, bercermin melihat wajahnya tampak sekali matanya bengkak dan sembab akibat terus menangis.
"Mataku bengkak banget, bagaimana ini? aku harus mengompres mata sebelum ayah bunda dan kakak datang, bisa-bisa mereka melihat curiga." Senja memegang ke 2 matanya yang merah dan bengkak.
Ayah dan kakaknya biasa pulang jam 7 tiba di rumah.
Ayahnya staff biasa di perusahaan ekspor impor dan kakaknya menjadi asisten manager hotel. Sementara Ibunya hanya IRT yang mengurusi segala keperluan keluarga. Keluarga mereka memang tidak kaya, keluarga mereka sederhana tetapi hidup bercukupan dan Senja pun dari kecil tidak kekurangan. Seharusnya Ibunya berada di rumah tetapi hari ini sedang pergi menemui saudara jauh.
Senja menuruni tangga dan turun ke dapur untuk mengambil es batu dan handuk kecil untuk mengompres mata. Senja merasakan sangat pusing pada kepala dan perutnya juga terasa tidak enak.
"Kepalaku pusing banget" Senja memegang kepalanya terasa berat. Senja duduk di dapur menghilangkan pusing pada kepalanya agar sedikit membaik dan juga mengompres mata. Senja memijit pelan pelipis kepalanya.
Setelah mata merasa membaik, Senja pun naik ke atas menuju kamar. Senja bercermin kembali dan mengusap-usap perut yang masih kecil. Dia membayangkan jika perutnya sudah membesar.
"Perutku pasti akan bertambah besar"
Senja masih mengelus-elus perut dengan wajah sendu.
Senja merebahkan tubuh di ranjang tidur, tubuhnya sangat lelah apa lagi dirinya sedang hamil. Senja merogoh hp di tasnya dan mengecek ponsel berharap Reno membalas whatsApp tetapi pesan yang dikirimkan masih ceklis 1 dan belum dibaca juga.
Senja mencoba kembali menghubungi Reno di telepon tetapi nomor Reno masih tidak aktif. Setelah kejadian pertengkaran tadi siang di kampus, Reno langsung mematikan ponsel.
"Kamu di mana Ren?"
Senja masih mempercayai bahwa Reno akan bertanggung jawab dan menerima dirinya beserta anak dikandungan senja. Lagi-lagi Senja melamun menatap kosong langit kamar, air mata yang mengalir kembali membasahi tempat tidur.
Merasakan lelah menangis terus-menerus, genangan air mata sudah membanjiri pelupuk matanya itu. Senja beranjak bangun dari ranjang tidur untuk ke kamar mandi membersihkan tubuh. Sebentar lagi ayah dan kakaknya pulang, ibunya juga.
"Aku baru saja mengompres mata tapi sudah menangis lagi, untung mataku tidak sebengkak tadi." Senja menatap cermin dan menghapus genang air mata yang membasahi pipinya.
"Aku lebih baik mandi, Ayah dan Kak Nabila sebentar lagi pulang".
__ADS_1
Setelah selesai mandi, Senja berdandan sedikit agar tidak terlalu kelihatan banyak menangis. Dia mengoleskan concealer pada kelopak matanya dan bb cream untuk menutupi wajah yang masih terlihat sedikit bengkak menangis.
"Tok...tok..tok..."
Suara ketukan pintu di kamar terdengar.
"Senja sayang, makan malam nak" suara Ibundanya memanggil untuk makan malam.
Ceklek
Senja membuka pintu kamar.
"Bunda sudah pulang? Ayah dan Kak Nabila juga sudah pulang?" tanya Senja.
"Sudah, mereka di bawah sekarang." Ajeng tersenyum mengusap kepala anaknya itu.
"Bunda kan seharian pergi, memang memasak?" tanya Senja bingung Ibundanya menyuruh untuk makan malam, padahal sedang tidak berada di rumah seharian.
"Kamu kayanya capek banget , apa baik-baik saja di kampus?" tanya Ajeng melihat wajah anaknya terlihat pucat.
"Lagi banyak tugas saja kok Bun" balas Senja tersenyum.
Ajeng sang Bunda merangkul bahu anaknya menyuruh makan malam. Mereka pun turun kebawah dan menuju ke ruang makan. Terlihat Ayah dan Kakaknya sudah berkumpul di meja makan, Senja duduk ikut bergabung.
"Bagaimana kuliahmu nak?" tanya Romi pada gadis kecilnya.
"Lancar kok yah" Senja menjawab tersenyum paksa.
"Kamu kelihatan pucat Nja'" sahut Nabila melihat wajah sang adik tampak pucat.
"Kamu gak apa-apa sayang?" Ajeng bertanya sedikit panik.
"Gak apa-apa kok Bun, aku hanya kelelahan saja karena banyak tugas" Senja menjawab memastikan baik-baik saja kepada keluarganya.
__ADS_1
"Yasudah, jangan terlalu capek. Jaga Kesehatanmu nak." kata sang Ayah mengingatkan.
Saat sedang makan, tiba-tiba senja merasakan pusing.
Makanan yang dimakan pun terasa pahit dan tidak enak.
"Haduh Kepalaku pusing banget"
Senja tidak bisa menahan rasa pusing dan perut juga terasa ingin muntah. Senja panik, apakah hamil merasakan gejala seperti itu pusing dan mual? saat sedang makan dia mengumpatkan tangannya di dalam meja terus memegangi perutnya yang mual.
Senja tidak mau tampak kelihatan jika sedang hamil , dia berpamitan pergi meninggalkan meja makan dan ke kamar. Karena sudah tidak tahan ingin sekali memuntahi semua isi yang berada di perutnya itu.
"Yah Bun, aku ke kamar duluan ya. Aku masih ada tugas kuliah yang harus dikumpulkan besok" kata Senja tersenyum bersikap tenang agar tidak terlihat.
"Kok cepat banget, baru juga makan" timpal Nabila melihat sang adik sedikit aneh.
"Habisin makanannya dulu nak, kamu juga belum makan dari pagi" ujar Ajeng sang Bunda yang khawatir.
"Setelah selesai tugas kuliah nanti aku akan makan lagi kok" ucap Senja tersenyum dan memastikan akan makan kembali.
Kemudian Senja meninggalkan meja makan dan menuju kamar. Jika tidak ada keluarganya ingin langsung ke wastafel dapur saja karena sudah tidak tahan lagi.
Senja mengeluarkan semua isi yang berada di perut dan memegangi perut yang sangat tidak enak.
"Kepalaku pusing, perutku mual" Senja berjalan lesu ke ranjang tidur.
Senja merebahkan tubuhnya di ranjang tidur, mencoba memejamkan mata dan beristirahat sejenak agar sedikit membaik. Dia Mengecek ponsel kembali berharap Reno merespon pesan WhatsApp nya. Masih tidak ada balasan dan kabar dari Reno.
"Reno masih tidak membalas WhatsApp aku" Senja menghela napas kecewa.
"Lebih baik aku menghilangkan pusingku yang terus sakit. Besok aku akan menemui Reno kembali"
Senja pun tidur agar keesokannya segar ketika ke kampus, dan bisa menemui Reno kembali.
__ADS_1