Jangan Salahkan Anakku!

Jangan Salahkan Anakku!
Minah Menelpon


__ADS_3

Drrrrtttt..... drrrrttttt..... drrrrttttt.....


Getaran suara hp Senja terus bergetar di atas meja, Senja merasa terganggu pagi-pagi sudah ada yang telepon dirinya.


"Siapa yang masih pagi sudah telepon?" gerutu Senja lalu mengambil ponselnya di atas meja.


Senja mengangkat panggilan telepon itu dan melihat layar ponselnya yang telepon adalah Minah, yang tempo hari bertemu di taman. Senja senang, mungkin ada kabar baik tentang pekerjaannya.


"Haloo ini Mbak Senja?" tanya suara sambungan telepon.


"Iya Mbak ini aku Senja, Mbak Minah ya?"


"Iya Mbak Senja, aku mau kabarin tentang kerjaan. Nyonya besar minta Mbak Senja datang hari Minggu besok. Bisa Mbak?" ujar Minah memberitahu kabar baik mengenai pekerjaan tempo hari.


"Bisa Mbak bisa..." jawab Senja tersenyum sumringah senang.


"Alhamdulillah Mbak, soalnya saya juga senin nya sudah berangkat ke kampung."


"Kira-kira jam berapa ya Mbak Minah, saya ke sana?"


"Jam 10 pagi Mbak Senja, nanti ketemu sama Nyonya Dewita ya Mbak. Alamatnya saya kirimin di WhatsaApp."


"Oh iya Mbak"


"Yasudah Mbak, makasih ya"


"Sama-sama Mba Minah" tuuutttt.... Minah langsung menutup sambungan teleponnya.


Senja bahagia akhirnya ada kabar juga dari Minah setelah hampir 1 minggu menunggu. Senja pikir majikan Minah menolak Senja karena kehamilannya.


"Alhamdulillah ada kabar baik juga" Senja beranjak bangun dari ranjang tidurnya dan membersihkan tubuhnya sekalian berangkat kuliah. Setelah selesai mandi, Senja turun ke bawah.


"Pagi Bun..." sapa Senja kepada Ibundanya yang sedang menyiapkan roti untuk sarapan.


"Pagi nak... Bunda hanya bisa buat ini maaf ya sayang, sementara kita berhemat." ucap Ajeng memberikan pengertian kepada anaknya untuk berhemat mengingat keadaan ekonomi keluarganya kurang baik.

__ADS_1


"Gak apa-apa Bun..." Senja menarik kursi dan duduk.


"Kamu kayanya lagi senang banget nyengir-nyengir sendiri." tanya Ajeng bingung melihat anaknya senyum-senyum sendiri.


"Iya Bun... aku dapat pekerjaan Bun, gak apa-apa ya aku kerja?" ucap Senja meminta izin kepada Ibundanya, Senja memang belum mengatakan mengenai keinginannya untuk bekerja.


"Tapi kamu lagi hamil nak" Ajeng sebenarnya tidak ingin anaknya bekerja, apalagi keadaan anaknya sedang hamil.


"Gak apa-apa kok Bun, Alhamdulillah dedeknya pintar. Aku mau bantu keuangan kita sementara dulu Bun." ujar Senja tersenyum.


"Kamu memang kerja apa nak, kerjanya berat gak?" tanya Ajeng penasaran. Ajeng juga khawatir jika Senja mendapat pekerjaan yang berat bisa membahayakan kandungannya.


"Gak kok Bun, aku jadi baby sister, lumayan Bun sembari belajar mengurus anak kan hehe. Tapi hanya sampai aku lahiran saja kebetulan teman aku mau cuti pulang ke kampung, jadi aku sementara yang menggantikan." jawab Senja menjelaskan sambil mengunyah roti tawarnya.


"Oh... terus kapan kamu mulai kerjanya sayang?"


"Minggu besok, aku ke sana dulu buat ketemu majikan teman kenalan aku. Karena Senja dapat referensi."


Ajeng mendengarnya sedih, bagaimana bisa sedang hamil seperti itu anaknya masih memikirkan kerja.


"Tapi janji ya, kamu harus jaga Kesehatan dan kandungan kamu." Ajeng mengiyakan asal Senja bisa menjaga dirinya sendiri.


"Yasudah" Ajeng dan Senja menghabiskan sarapan mereka di dapur. Setelah selesai sarapan, Senja siap-siap pergi kuliah.


"Aku berangkat kuliah dulu ya Bun..." Senja pamit pada Ibundanya untuk pergi kuliah.


"Iya sayang, hati-hati ya."


"Iya Bun... Assalamualaikum" Senja mencium tangan Ajeng dan melangkah pergi berangkat kuliah.


"Waalaikumsalam"


Setelah sampai di kampus Senja masuk ke kelasnya, sekarang Senja sudah biasa mendengar gunjingan jelek dari para mahasiswa-mahasiwi kampus. Lagipula menghindar juga untuk apa, biarkan semua mengalir seperti air meskipun perih.


"Pagi Mel..." sapa Senja pada Amel yang sudah duduk di kelas.

__ADS_1


"Hai.... Aku kirain kamu gak kuliah"


"Kan sudah aku bilang aku kuliah sampai UAS tiba saja, aku mau mengejar nilai IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) dulu sebelum cuti." Senja menarik kursi dan duduk.


"Kamu sudah 1 minggu gak masuk terus gak kabarin aku juga" celoteh Amel kesal.


"Hahaha... iya maaf, selama 1 minggu aku ketemu Kevin."


"Kevin?" tanya Amel bingung, Amel baru mendengar nama laki-laki itu.


"Iya Kevin sahabat kecil aku"


"Kok kamu gak pernah cerita punya sahabat kecil hmm..." ucap Amel dengan tatapan menyelidik dan mengerutkan dahinya.


"Aku gak pernah ketemu dia lagi setelah pergi ke Aussie, kita terakhir ketemu 11 tahun yang lalu"


ujar Senja menjelaskan.


"Oh begitu..."


Memang setelah Senja bertemu Kevin, mereka jadi akrab kembali. Kevin sering mengunjungi Romi ke rumah sakit dan melihat perkembangan Romi. Senja menghabiskan 1 minggu bersama Kevin jalan-jalan keliling Jakarta. Karena Kevin sendiri yang meminta Senja menjadi tour guide untuk traveling ke Jakarta, Ada-ada saja tingkah anak itu.


Tiba-tiba geng Nadia menghampiri Senja dan mengusik lagi, "yeeehhh si jalaang satu ini masih saja ke kampus, kirain sudah musnah." celetuk Nadia.


"Punya malu gak sih?" pekik Vani menyahut.


"Hahaha... pakai ditanya lagi Van, ya gak lah!" timpal Rere ikut komentar.


"Pffttt, kamu cantik tapi mulut kamu bau sampah ya" Senja menghela napasnya kasar kesal melihat kelakuan geng dajjal itu.


DUUKKK


Nadia memukul meja kesal dengan perkataan Senja, "kurang ajaar....!!"


"Kasih pelajar ini jalaang Nad" sahut Rere.

__ADS_1


"Sudahlah cabut saja, males berurusan sama jalaang ini." ucap Nadia.


"Awas saja ya kamu Senja lihat pembalasan aku nanti!" kata Nadia dalam hati yang mengepalkan tangannya sambil meninggalkan Senja.


__ADS_2