
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, Rendra dan juga Marisa akan segera pulang ke rumah.
Sebab tadi malam mereka menginap di hotel tempat acara pesta pernikahan, seluruh anggota sudah pulang ke rumah tinggal mereka berdua yang masih berada di hotel.
"Cepetan, lelet banget sih! " kata Rendra terhadap Marisa.
"Tunggu sebentar ini satu lagi baju kotor belum di masukin ke tas" jawab Marisa.
"Kita harus cepat sampai rumah, seluruh anggota keluarga besar sudah menunggu kedatangan anggota keluarga baru" kata Rendra.
"Mau ngapain mereka?" tanya Marisa.
"Mau melihat kamu lah, yang sudah beruntung mendapatkan aku dan satu hal yang perlu kamu ingat! jangan pernah membahas tentang surat perjanjian atau apapun di hadapan mereka, jadilah istri yang lemah lembut dan baik hati di hadapan mereka. Jangan seperti preman pasar nggak ada manis-manisnya" kata Rendra dengan nada bicara penuh penekanan.
"Aku bukan gula dan juga air minum! ya jelas lah nggak akan ada manis-manisnya" jawab Marisa santai, dia juga bukan anak kecil lagi yang tidak tahu sopan santun dan cara berbicara dengan orang tua.
"Ngeles aja kamu seperti bajaj, ayok buru" kata Rendra.
"Iya, sudah selesai ko" jawab Marisa sambil membawa beberapa barang miliknya, meski hanya sedikit tetap saja perempuan itu selalu repot.
Rendra dan Marisa segera meninggalkan hotel, untuk segera pulang ke rumah.
Sepasang pengantin baru itu sudah berada di dalam kendaraan, Rendra sudah siap untuk memajukan kendaraan dengan kecepatan sedang.
Di sepanjang perjalanan tidak ada sepatah kata pun yang keluar di antara keduanya, mereka larut dengan pikiran masing-masing.
Setelah di tengah perjalanan Marisa baru membuka suaranya "ko jalan nya ke arah sini" kata Marisa.
"Ini kan jalan menuju rumah kamu" jawab Rendra.
"Iya, tapi kenapa ke sini bukannya kita sudah di tunggu di rumah kamu" jawab Marisa.
"Kita jemput Mentari terlebih dahulu, memangnya kamu nggak mau mengajak dia. Ibu macam apa kamu sampai lupa anak" kata Rendra, sambil tetap fokus ke jalanan.
"Bukan lupa, tapi kan bisa minta Bapak juga untuk anterin Mentari" jawab Marisa.
__ADS_1
"Dasar anak durhaka, masa orang tua di suruh" kata Rendra, memang mulut nya itu seperti bon cabai kalau ngomong suka nggak di pikir terlebih dahulu.
"Nggak begitu juga kali, aku tuh kasian sama kamu jadi capek kalau harus bolak balik " kata Marisa sambil menatap ke arah jendela, dan tidak ada percakapan lagi di antara keduanya.
Tidak ada lagi percakapan di antara keduanya, hingga kendaraan berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang di huni oleh keluarga Pak Darmawan.
"Sudah sampai, ingat bawa yang menurut kamu penting jangan ribet-ribet dan nggak pakai lama. Untuk kebutuhan Mentari biar suruh Bagas yang menyiapkan jangan bawa barang banyak dari sini, dan kita akan tinggal di sanah! " kata Rendra terhadap Marisa.
"Baik bos" jawab Marisa dengan santai, sambil membuka pintu kendaraan nya. Lalu berjalan terlebih dahulu untuk segera masuk ke dalam rumah.
Ini pertama kali bagi Marisa terpisah dari sang anak, meski hanya satu malam bagi dia sudah terasa satu tahun.
Marisa mengetuk pintu, tidak lama kemudian pintu sudah terbuka. Dan setelah pintu terbuka sosok gadis kecil yang selalu di rindukan berdiri di hadapan nya, sambil tersenyum ke arahnya.
"Ibu sudah pulang? kata Nenek jemput Ayah ya? " rentetan pertanyaan itu yang keluar dari mulut sang anak menyambut kedatangan nya.
Marisa belum menjawab pertanyaan dari mentari, terdengar dari belakang ada suara deheman dari seorang lelaki
"Hallo Mentari" sapa Rendra terhadap Mentari dengan senyuman terbaik nya.
"Om ko bersama Ibu? apa kalian temenan yah? oh iya aku lupa kemaren itu Ibu sama Om pakai baju pengantin yah seperti di film itu loh" kata Mentari panjang lebar.
"Oh iya lupa, Om masuk dulu" Mentari mempersilahkan Rendra untuk masuk sambil memegang tangan sang Ibu.
Setelah sampai di dalam Rendra di persilahkan untuk duduk di ruang tengah.
"Siapa yang datang, sayang? " tanya Bu Diah terhadap Mentari.
"Aku Ma.. " Marisa menyatukan.
Bu Diah langsung berjalan menuju ke ruang tamu di mana terdengar suara Marisa.
"Kalian sudah sampai" kata Bu Diah.
"Baru juga saja Ma.. " jawab Marisa.
__ADS_1
"Ya sudah istirahat saja dulu, bisa di kamar langsung" kata Bu Diah.
"Nggak lama ko, Bu" jawab Rendra dengan ragu-ragu.
"Emang kalian nggak menginap di sini dulu? " tanya Bu Diah.
"Sudah di tunggu keluarga besar di sanah, mumpung belum pada pulang mereka ingin kenal lebih dekat sama Marisa. Kemarin kan hanya sekilas saja" jawab Rendra.
"Owh begitu ya, Mentari di sini saja sama Nenek? kata Bu Diah sambil menatap ke arah Marisa lalu ke Mentari.
" Mentari ikut yah, kan di sana ada Yasya sama Yasinta pasti seru kalau main bareng "bujuk Rendra terhadap Mentari, padahal tanpa di bujuk juga Mentari sudah pasti ikut toh Ibunya pergi.
" Ibu ikut nggak? "tanya Mentari terhadap sang Ibu.
" Ikut, Ibu beresin barang-barang yang akan di bawa dulu ya"kata Marisa sambil menatap lekat wajah sang anak.
"Kalau Ibu ikut aku juga mau ikut" kata mentari dengan raut wajah di penuhi kegembiraan.
Marisa beranjak dari duduk nya untuk mempersiapkan apa yang harus di bawa, sebab Mentari juga harus sekolah sudah pasti peralatan sekolah yang wajib di bawa. Meski Rendra sudah berkata bahwa keperluan Mentari sudah di siapkan tetap saja Marisa tidak percaya sebab belum melihat nya.
Setelah cukup lama Rendra menunggu akhirnya, Marisa turun dengan membawa dua koper.
"Sudah siap untuk berangkat? " tanya Rendra.
"Ayok" jawab Marisa.
"Kalian mau berangkat sekarang nggak nunggu Bapak pulang dulu? " tanya Bu Diah.
"Nanti Besok atau lusa kita ke sini lagi" jawab Rendra.
"Sering-sering tengokin kami di sini, pasti Mama rindu kalian berdua" kata Bu Diah.
"Kita nggak pergi jauh, Ma... tiap hari masih bisa bertemu ko" jawab Marisa.
"Hati-hati di jalan nya, jangan lupa kabarin kalau sudah sampai" Pesan Bu Diah terhadap Rendra dan juga Marisa.
__ADS_1
Akhirnya mereka berpamitan, Marisa dan juga Rendra menjabat tangan Bu Diah dan meminta ijin untuk membawa Marisa dan Mentari pergi.
Ada rasa sedih di hati Bu Diah saat melihat cucu dan menantunya akan pergi meninggalkan rumah ini, sekarang tinggal Bu Diah dan Pak Darmawan yang tinggal di rumah ini. Satu bulan terakhir Marisa dan Mentari telah memberi warna di rumah ini dan sekarang wana itu pergi.