
Marisa sudah selesai dengan tugas dari sang mertua, dia akan segera pergi ke kamarnya untuk merebahkan tubuhnya yang sudah terasa sakit.
Pinggangnya terasa sakit akibat mengangkat beban yang berat,meskipun Marisa pernah bekerja sebagai butuh cuci tetapi yang berat tidak di cuci menggunakan tangan melainkan dengan bantuan Mesin.
Dengan langkah gontai, Marisa untuk segera menuju kamar tetapi sebelum sampai di kamar dia harus melewati ruangan yang di gunakan untuk ngumpul bersama teman-teman nya. Di sana sudah ada beberapa teman sang ibu mertua dan tante Talita, pasti ada saja perintah nya yang membuat Marisa harus kesusahan.
"Apa ada jalan lain untuk menuju kamar selain lewat ruang itu? " tanya Marisa terhadap salah satu pelayanan, yang dari tadi menemani Marisa meski tidak bisa membantu nya sebab sudah di ancam oleh Eva.
"Ada tapi lewat belakang terus naik ke atas balkon pakai tangga" jawab nya.
"Nanti kalau ketahuan naik lewat balkon pasti Mama lebih marah " kata Marisa dengan wajah lelahnya.
"Ya sudah lewat depan saja Non, tapi jalan nya pelan-pelan saja biar nggak ketahuan Nyonya besar" sang pelayan ngasih ide.
"Aku numpang istirahat di kamar Bibir saja deh" kata Marisa.
"Nanti kalau ketahuan yang di marahin saya Non" jawab pelayan tersebut.
"Ya sudah kalau begitu, terimakasih banyak atas semua bantuannya" kata Marisa sambil pergi berlalu untuk segera pergi dari belakang.
Marisa berjalan pelan agar tidak di sadari saat dia melewati ruangan tersebut, sebab dia sudah merasakan lelah di tubuhnya. Jika harus mengerjakan hal yang berat mungkin dia tidak sanggup lagi.
Saat Marisa mengendap-endap, saat itu pula terdengar suara melengking nya sang Mertua.
"Sini kamu, cepetan! " panggil Eva terhadap Marisa.
"Iya,Ma... " jawab Marisa sambil berjalan mendekat ke arah sang mertua.
"Jangan ke mana-mana layani kami di sini" kata Eva sambil tertawa.
"Kamu itu pantasnya jadi pelayan bukan menantu di keluarga ini" Talita ikut menimpali.
__ADS_1
"Apa Rendra buta ya, sehingga menjadikan perempuan kampung ini istrinya" kata teman Eva yang ikut hadir.
"Tuangkan minuman itu " perintah Eva terhadap Marisa.
"Iya Ma... " Marisa mengikuti semua perintah yang di berikan oleh ibu mertuanya.
Mereka semua yang ada di sanah menghina Marisa habis-habisan, mereka memperlakukan Marisa seolah sampah yang tidak ada gunanya.
Setelah cukup lama dan mereka puas memperlakukan Marisa seperti pelayan.
"Silakan kamu pergi dari sini dan jangan pernah kamu berani mengadukan semu ini sama Mama atau Rendra! kalau macam-macam kamu harus terima akibatnya" ancam Eva terhadap Marisa.
Marisa tidak menjawab apapun, dia hanya diam tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.
Marisa melangkah kan kakinya untuk segera masuk ke dalam kamar, rasanya sudah tidak kuasa menahan tangis.
Setelah sampai di dalam kamar air mata yang sedari tadi di tahan akhirnya tumpah juga, dia tidak pernah menunjukkan sisi rapuh nya di hadapan orang lain. Meski sakit dengan semua perlakuan sang mertua dan para sahabat nya, Marisa berusaha untuk tidak terlihat lemah di hadapan mereka padahal hatinya terasa sakit.
Setelah cukup lama Marisa melupakan kesedihan nya lewat tangisan, tidak terasa dia tertidur pulas.
Waktu bergulir begitu cepat, hari sudah sore Marisa belum juga bangun dari tidurnya.
*****
Rendra sudah sampai di rumah setelah seharian bekerja, dia langsung masuk ke dalam rumahnya.
Dengan langkah cepat Rendra langsung menuju kamarnya, sebab dia ingin segera bertemu dengan Marisa ingin segera bertanya kenapa ponsel nya tidak bisa di hubungi.
Rendra langsung membuka pintu kamar dengan kasar, terlihat dari depan pintu Marisa
sedang tertidur pulas.
__ADS_1
Rendra langsung masuk ke dalam kamar lalu berteriak "Enak bener yah kamu tidur di sini! " kata Rendra dengan nada bicara yang sangat tinggi sehingga membuat Marisa terlonjak kaget. Dengan gerakan cepat Marisa langsung duduk, meski perasaan nya belum ngumpul seutuhnya.
"Maaf aku ketiduran" jawab Marisa sambil menundukkan pandangan nya.
"Kamu enak tidur di sini sedangkan anak-anak nggak kamu pedulikan, dan kenapa ponsel mu tidak bisa di hubungi? " tanya Rendra.
"Maaf" hanya kata itu yang keluar dari bibir Marisa.
"Bisa-bisanya kamu serahkan urusan anak-anak sama Mama, sudah jelas mereka itu tangung jawab mu" oceh Rendra dengan penuh amarah, dia tidak tahu kejadian yang sebenarnya.
"Iya aku minta Maaf, nggak harus kamu bicara sambil bentak seperti itu toh aku juga nggak tuli" kata Marisa sambil menatap ke arah lain, dia usap air mata dengan jari tangan nya sendiri.
Rendra yang melihat Marisa mengeluarkan air mata, baru menyadari ternyata perkataan nya sudah membuat Marisa terluka.
Marisa melangkah perlahan meninggalkan Rendra yang masih berdiri, dia pergi ke toilet di sanah dia bisa menumpahkan tangisnya.
Setelah berada di dalam Marisa menyalakan shower dan berdiri di bawah kucuran air mengalir, di sana dia tumpah kan tangisan.
Menangis di bawah kucuran air tidak akan ada yang mendengar nya, dia merasa semua orang hanya mempermainkan hidupnya.
Setelah cukup lama Marisa di dalam.
Rendra heran dengan apa yang di lakukan nya, hingga akhirnya dia mendekat ke arah pintu toilet dan memanggil Marisa, tetapi tidak ada yang menyaut dari dalam.Hanya terdengar suara air shower mengalir.
"Kamu lagi ngapain di dalam, lama sekali! cepetan keluar saya mau mandi" teriak Rendra dari arah luar sambil di gedor pintunya.
Di tunggu sampai lima belas menit, tetapi tidak keluar juga hingga kesabaran Rendra habis.
Dengan tenaga yang kuat dia dia berusaha mendobrak pintu toilet.
Dengan kerja keras dan di bantu alat akhirnya pintu toilet sudah terbuka.Setelah terbuka betapa kaget nya Rendra saat melihat keadaan Marisa.
__ADS_1
"Marisa... " panggil Rendra dengan wajah terkejut nya.