Janji Di Atas Ingkar

Janji Di Atas Ingkar
Part 35


__ADS_3

Di kediaman pak Darmawan


sepasang suami istri yang sudah tidak lagi muda, sedang duduk bersantai menikmati acara televisi yang biasa mereka tonton. keduanya sedang asyik berbincang membicarakan perkebunan bunga yang sebentar lagi akan panen, sebab setelah toko bunga dikelola oleh Marisa pak Darmawan hanya fokus ke perkebunan saja.Sebab toko sudah ada yang mengelola, jadi dia tidak harus berpikir untuk kemajuan.Hanya fokus ke perkebunan bunga yang ditanamnya, menurut pak Darmawan lebih aman dan nyaman ketika berada di perkebunan menatap bunga-bunga yang indah dan cantik ketika akan segera panen.


Di saat keduanya sedang berbincang sambil menikmati teh dan juga cemilan yang sudah tersedia.


Terdengarlah suara pintu diketuk, Bu Diah pikir itu adalah Marisa yang datang kembali ke rumah ini.


Bu Diah, bangkit dari duduknya lalu berjalan perlahan selangkah demi selangkah menuju pintu masuk.


Tangan Bu Diah digerakkan dengan perlahan untuk memutar gagang pintu dan membukanya, di saat pintu terbuka berdirilah sosok yang sangat dirindukannya di dalam hati yang paling dalam.Tetapi dia berusaha untuk menyembunyikannya ketika sudah berhadapan dengan orang tersebut, rasa kecewanya sudah melebihi batas terhadap orang tersebut.


Bu Diah menatap heran orang yang berdiri di hadapannya, dia tidak menyangka bahwa hari ini mereka akan berada di hadapannya dan menginjakkan kaki kembali di sini.


Cukup lama Bu Diah bengong dan menatap lekat wajah sang anak, tetapi dia tidak berkata sedikitpun bahkan mempersilakannya untuk masuk saja tidak.


Pak Darmawan yang melihat sang istri mematung di depan pintu, dia berjalan perlahan megat mendekati sang istri.Dia takut terjadi sesuatu terhadap istrinya, sebab tidak ada percakapan di antara istrinya dan orang yang berdiri di depan.

__ADS_1


Saat sudah berada di belakang sang istri, begitu terkejutnya sa ketika melihat yang berdiri di depan pintu itu ternyata sang anak dan juga seorang perempuan yang baru saja dilihatnya.


"Pak, Bu, aku minta maaf selama ini telah meninggalkan tanpa berpamitan terlebih dahulu sama kalian berdua "Angga berbicara dengan nada penuh permohonan, beda lagi dengan seorang wanita yang sedang mengandung berdiri di samping Angga. Perempuan itu masih saja terlihat angkuh, seolah dia adalah putri raja yang harus dihormati dan semua orang harus tunduk terhadapnya.


Hingga pada akhirnya pak Darmawan memberanikan diri untuk bertanya,siapakah perempuan yang bersama Angga pada saat ini.


"Siapa perempuan ini?" tanya pak Darmawan sambil menatap ke arah Alina.


"Perkenalkan namaku adalah Alina istri dari Angga, yang akan tinggal di rumah ini mulai dari sekarang" Alina menjawab pertanyaan sang mertuanya tanpa menunggu Angga terlebih dahulu, sebab dirinya sudah merasa pegal berdiri terus di depan pintu tanpa dipersilahkan untuk masuk.


Bu Diah, dengan Pak Darmawan hanya menggelengkan kepala melihat sikap Alina pada saat ini.Baru saja sampai di rumah ini, tidak ada sopan-sopannya terhadap orang tua, bagaimana nanti jika sudah lama berada di sini.


"Jadi kamu pulang ke rumah ini di saat ada kesusahan, kalau saja kamu masih bekerja dan menghasilkan uang yang banyak.Apakah tidak akan pulang ke rumah ini menemui Ayah dan ibumu?" tanya Bu Diah dengan sorot mata yang sangat tajam terhadap Angga.


"Nggak begitu juga, Bu,tadinya juga aku akan pulang cuma belum saatnya"jawab Rangga sambil menundukkan pandangannya, dia tidak berani lagi untuk menatap mata sang ibu, yang terlihat dipenuhi dengan rasa kecewa untuk dirinya.


Alina yang masih berdiri, perempuan itu tidak merasa bersalah sedikitpun, bahkan terlihat angkuh sekali di hadapan Bu Diah dan juga pak Darmawan.

__ADS_1


"Aku sudah pegal berdiri terus di sini, kapan disuruh masuknya!" kata Alina sambil menggerak-gerakan kakinya, dia merasa kesemutan berdiri terlalu lama dalam keadaan hamil seperti ini.


"Ya sudah kalian masuk terlebih dahulu,nggak baik juga dilihat tetangga tuh pada kepo "kata pak Darmawan mempersilakan Angga dan juga Alina untuk segera memasuki rumah. Apapun itu permasalahannya nanti di bicarakannya di dalam rumah tidak di depan pintu seperti ini.


Bu Diah bergeser sedikit ke samping pintu masuk, dan memberi ruang terhadap Angga dan juga Alina untuk segera masuk ke dalam rumah.


Setelah berada di dalam, Alina langsung bertanya di mana kamar untuk dia beristirahat.Sama sekali perempuan itu tidak ada hormatnya kepada orang yang lebih tua, bahkan dia sudah menempatkan diri bahwa dia di rumah ini adalah ratu yang harus dihormati.


Sedangkan Bu Diah dan pak Darmawan hanyalah melempar tatapan, meskipun tidak suka tetapi apalah daya mereka orang tua yang harus bisa menerima anaknya dalam keadaan apapun walaupun pada dasarnya hati tidak mengizinkannya.


"Silakan kamu pergi ke kamar yang sebelah sana, jangan pernah berani menempati kamar yang ada di atas.Sebab itu masih ada barang-barang Marisa dan juga mentari di sana, sesekali mereka juga akan menginap di sini!"kata Bu Diah sambil menunjuk ke arah salah satu kamar yang ada di lantai bawah.


"Kenapa dia masih belum membawa barang-barangnya, bukannya sudah mempunyai suami dan tidak ada hak lagi di rumah Ini.Dia hanya menantu,itu juga dulu sekarang kan sudah tidak ada ikatan lagi ikatan dengan keluarga ini tidak pantas dia datang lagi ke rumah ini "kata Alina sambil menatap tajam ke arah Angga, Angga tidak bisa berkata apapun mendengar semua perkataan dari Alina. saat ini dia hanya diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun, dia merasa sangat malu terhadap Ayah dan ibunya.


"Mentari itu cucu kami kata siapa dia tidak ada hak di rumah ini, bahkan rumah ini saja sertifikatnya atas nama mentari jadi sebetulnya kalian tidak ada hak di rumah ini "jawab Bu Diah dengan ada bicara dengan penuh penekanan, dia berusaha untuk menahan sabar tetapi menantu yang tidak tahu malu dan minim akhlak itu sudah memancing kemarahannya.


Pak Darmawan yang melihat istrinya seperti itu, dia langsung menarik tangan sang istri digenggamlah kuat-kuat.Dia memberi isyarat agar menahan emosinya sedikit saja, sebab itu juga bisa mengakibatkan kesehatannya terganggu.

__ADS_1


Perempuan seperti Alina tidak bisa dibantah, kecuali dibiarkan saja bahkan anggap saja perempuan itu tidak ada di rumah ini mungkin itu lebih baik ketimbang terpancing oleh semua perkataannya.


Bu Diah menghentakkan kakinya, lalu pergi meninggalkan Angga dan juga Alina yang masih berada di lantai bawah , diikuti dengan pak Darmawan.


__ADS_2