
"Tunggu...bawa makan untuk siapa ke kamar! " tanya orang tersebut.
"Ini katanya untuk Non Marisa" jawab pelayan.
"Memangnya kenapa Marisa harus makan di kamar segala? " tanya Sang Nyonya besar.
"Lagi nggak enak badan" jawab pelayan tersebut.
Setelah mendengar penjelasan dari pelayan, Nenek Kamila langsung masuk ke dalam kamar sang cucu.
Setelah berada di dalam kamar, Nenek kamila mendekat ke arah tempat tidur lalu duduk di samping Marisa yang sedang di tutup selimut seluruh tubuhnya.
"Marisa... " panggil sang Nenek sambil menarik pelan selimut yang menutup tubuh Marisa.
Mendengar namanya di panggil, Marisa langsung membuka mata dan terkejut setelah melihat orang yang ada di hadapan nya.
Marisa reflek langsung bangun dan duduk.
"Nggak usah bangun, tiduran saja nggak apa-apa" kata sang Nenek dengan suara lembut nya, beda lagi dengan ibu mertua nya.
"Tapi ,Nek.. " jawab Marisa.
"Apa perlu panggil dokter! "kata sang Nenek dengan penuh rasa khawatir.
"Ngakak usah, Nek, aku nggak kenapa-kenapa" jawab Marisa sambil menatap lekat wajah sang Nenek yang di penuhi dengan cinta, beda lagi saat menatap sang Ibu mertua yang penuh kebencian.
"Yakin Nggak perlu panggil dokter"
"Iya, Nek, " jawab Marisa
Di saat sang Nenek sedang berbincang dengan Marisa, Rendra datang.
"Eh ada, Nenek, " sapa Rendra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Rendra sudah mencium aroma yang tidak baik jika sang Nenek sudah menatap nya seperti itu.
"Kamu apakan, Marisa, sampai sakit seperti ini! " kata sang Nenek sambil menatap Rendra dengan tatapan tajam.
"Nggak ko, dia hanya kelelahan saja" jawab Rendra dengan gugup.
"Awas saja kamu jika membuat Marisa, tidak betah di rumah ini gara-gara ulah kamu" kata sang Nenek dengan nada bicara ancaman, sebab sang Nenek sudah tahu bahwa Rendra itu tidak memperlakukan Marisa dengan baik berkat laporan dari Bagas.
"Apaan sih, Nek, jangan ngarang dia itu istriku masa memperlakukannya nggak baik" jawab Rendra.
"Pokoknya, Nenek, nggak percaya sama kamu" kata sang Nenek.
__ADS_1
"Astaga, Nek, sampai segitu nya aku ini cucu mu kenapa yang di bela dia lagian dia itu istriku masa mau celakain" jawab Rendra.
"Sudah kamu jangan banyak omong, tidur sanah di kamar tamu biar Nenek yang temenin Marisa! "Nenek Kamila menyuruh Rendra untuk keluar dari kamarnya sendiri untuk tidur di kamar tamu.
" Nggak bisa begitu, Nek, ini kamar ku kenapa di usir"kata Rendra dengan wajah terkejut nya, bisa-bisanya sang Nenek mengusir dirinya dari kamar sendiri.
"Sanah nggak usah banyak omong! "
"Iya" jawab Rendra dengan nada bicara pelan.
Akhirnya Rendra melangkah perlahan keluar dari kamar untuk segera menuju kamar tamu, sebab dirinya merasa sangat lelah ingin sekali segera beristirahat.
Setelah kepergian Rendra, sang Nenek menyuruh Marisa untuk segera menghabiskan makanan yang di bawa oleh bibi.
"Habiskan makanan nya! " perintah sang Nenek.
"Tapi, Nek, udah kenyang" jawab Marisa.
Akhirnya Marisa menyerah dan menghabiskan makanan yang sudah tersedia, meskipun rasanya sudah mual.
Setelah beberapa saat makanan juga sudah habis di makan, dan Nenek Kamila menyuruh Marisa untuk beristri di temenin sang Nenek.
"Istirahat lah, Nenek keluar dulu nanti balik lagi" kata sang Nenek Kamila sambil meraih selimut lalu lalu menutup tubuh Marisa sampai ke dada.
*****
Keesokan harinya
Semua orang sudah berkumpul di ruang makan, begitu juga dengan Marisa.
Pagi ini Marisa di perlakuan seperti ratu sebab ada sang Nenek yang selalu bersama nya, Bu Eva dan juga Rendra tidak bisa berkata apapun. Dan mereka tidak bisa melawan nenek Kamila.
Eva yang melihat Marisa di perlakuan dengan baik oleh sang mertua merasa geram sekali.
Hari ini Marisa sudah berencana akan pergi ke toko bunga, setelah mengantarkan ketiga anak nya.
Nenek Kamila sudah melarang Marisa untuk pergi ke manapun jika masih tidak enak badan, berkat Marisa yang bisa meyakinkan sang Nenek bahwa dia tidak apa-apa.
Setelah cukup lama, acara sarapan sudah selesai.
Sudah saat nya mereka untuk memulai aktivitas di luar rumah.
Marisa mengajak ketiga anak nya untuk segera berangkat ke sekolah,setelah berpamitan terhadap semuanya.
__ADS_1
"Ayok masuk! " ajak Rendra terhadap Marisa ketika sudah membuka pintu mobil nya.
Entah ada angin apa hari ini dia memperlakukan Marisa dengan baik, entah karena takut atau apa.
"Iya, Terimakasih" kata Marisa sambil masuk ke dalam mobil lalu duduk di samping kemudi. Setelah Marisa berada di dalam kendaraan, Rendra juga langsung masuk. Ketiga anaknya duduk di kursi tengah, mereka terlihat sangat akur.
Setelah semuanya siap Rendra langsung menginjak gas dengan perlahan, dia memacu kendaraan nya dengan kecepatan sedang.
Perjalanan yang di tempuh untuk segera sampai di sekolah tidak terlalu lama, jalanan juga belum begitu macet sebab hari masih pagi. Belum banyak orang yang menggunakan jalan.
Setelah sampai di sekolah, Rendra memarkirkan kendaraan nya. Lalu Marisa mengajak ketiga anak nya untuk segera turun, akan segera di antar sampai ke depan kelas.
Marisa memegang tangan Yasya dan Yasinta dan membiarkan Mentari berjalan sendiri di depan.
Setelah beberapa saat mereka berjalan, akhirnya sudah sampai di depan kelas. Di sana sudah di sambut kedatangan mereka oleh guru piket.
"Selamat pagi, Bu Guru" sapa Marisa sambil tersenyum tipis terhadap seorang Guru yang sedang menantikan kehadiran para peserta didiknya.
"Pagi juga" jawab Bu Guru sambil tersenyum menatap ketiga anak kecil yang sedang berdiri di hadapan nya.
Mereka bertiga bersalaman terhadap Bu Guru yang sudah menanti kehadiran nya.
"Baiklah anak-anak kita masuk! Pamit dulu sama Mama! " perintah sang Guru, untuk berpamitan terlebih dahulu sebelum masuk ke kelas.
Setelah ketiga anak nya berpamitan dan sudah memasuki kelas.
Marisa segera pergi dan segera menuju tempat parkir di mana sudah di tunggu sang suami.
Setelah beberapa saat Marisa sudah sampai lalu membuka pintu kendaraan.
Setelah berada di dalam kendaraan dia kaget melihat tatapan tajam dari Rendra.
"Kamu ngapain saja di dalam? lama banget" tanya Rendra terhadap Marisa.
"Ngobrol dulu sebentar sama Bu Guru" jawab Marisa.
"Kamu tahu kan, sebelum ke kantor aku harus mengantar kamu terlebih dahulu ke toko. Sedangkan arah toko sama kantor itu beda, jadi besok-besok kalau nganterin mereka ke depan kelas jangan ngobrol di sanah! " kata Rendra sambil menatap tajam Marisa.
"Tapi kan nggak enak, masa kita nyelonong saja" jawab Marisa.
"Pokoknya saya paling nggak suka kalau di bantah" kata Rendra dengan nada bicara penuh penekanan.
Marisa yang mendengar Rendra bicara seperti itu tidak menjawab apapun, sebab bicara juga tidak ada gunanya. Tetap saja yang menang dan tidak pernah salah itu hanya Rendra.
__ADS_1