
Hening seketika, tidak ada yang memulai pembicaraan terlebih dahulu.
Hingga pada akhirnya Rendra mulai bicara terlebih dahulu.
"Kenapa kamu mau di jodohkan? " tanya Rendra terhadap Marisa.
"Dan kenapa juga kamu menerima nya? " tanya balik Marisa.
"Aku tidak menerima perjodohan ini hanya saja tidak mau di sebut anak durhaka, telah melawan permintaan orang tua. Lagipula meskipun kita menikah tidak akan pernah juga jatuh cinta sama kamu! " kata Rendra dengan nada bicara sedikit penekan.
"Hai siapa juga yang akan jatuh cinta sama laki-laki macam dirimu! udah tua sombong pula" jawab Marisa kesal.
"Yakin kamu tidak akan jatuh cinta sama aku? " tanya Rendra sambil menatap wajah Marisa dengan lekat.
"Yang ada kamu nanti jatuh cinta sama aku, lagian pesona janda semakin di depan! " kata Marisa dengan nada bicara jutek nya.
"Seperti yamaha saja semakin di depan" ledek Rendra.
Di saat mereka sibuk berdebat, sampai melupakan anak-anak nya yang duduk di samping nya.
Hingga tidak di sadari anak kecil itu turun secara bersama menuju tempat bermain, tanpa pamit terhadap kedua orang tua mereka.
Hingga beberapa saat mereka belum sadar bahwa anak-anak sudah tidak ada lagi di dekatnya, Rendra mengubungi Bagas untuk membawa sesuatu yang ada di dalam mobil. Rendra mengajak Bagas untuk ikut tetapi di suruh menunggu nya di parkiran, setelah beberapa saat Bagas datang dengan membawa map dan menyerahkan nya terhadap Rendra.
"Ini Bos" kata Bas sambil menyerahkan map tersebut, dan Rendra mengambil nya lalu menyerahkan map itu terhadap Marisa.
"Baca dan tandatangani! " perintah Rendra terhadap Marisa, lalu Marisa mengambil map tersebut dan di bacalah dengan cermat semua yang tertulis di kertas.
"Maksudnya ini apa? " tanya Marisa.
"Itu isinya surat perjanjian pernikahan kita! Mau tidak mau kamu harus setuju dengan semua point yang tertulis di situ! " kata Rendra.
"Kenapa poin nya banyak sekali, terus kenapa juga ini poin satu aku harus tidur di sofa. Pokoknya aku tidak setuju mana bisa seperti itu! " tolak Marisa dengan point pertama.
"Terus kamu mau tidur di kasur yang sama dengan ku? " ucap Rangga.
"Bukan seperti itu! kamu itu laki-laki sudah sepantasnya kamu ngalah terhadap perempuan" kata Marisa.
"Dan tidak ada sejarah nya seorang Rendra mengalah! sudah cepat tanda tangan perjanjian itu, kita akan menikah satu minggu lagi dan kamu harus diam jangan sampai ada yang tahu soal perjanjian ini. Apalagi ayah jangan mencoba untuk memberi tahu nya, awas saja kalau berani! " kata Rendra dengan nada bicara penuh ancaman.
"Dasar tua bangka, berani nya mengancam perempuan" gerutu Marisa dengan nada bicara sangat pelan, tetapi itu semua masih mampu di dengar Rendra dengan baik.
__ADS_1
"Jangan menggerutu seperti itu, aku bisa dengar dan awas kamu nanti jatuh cinta sama laki-laki tua bangka" kata Rendra dengan wajah angkuh nya.
"Amit-amit jatuh cinta sama aki-aki" jawab Marisa sambil bergidik ngeri, dia tidak bisa membayangkan jika sudah menikah dan harus tinggal satu rumah dengan orang seperti Rendra bisa-bisa dia gila.
Bagas yang menyaksikan ini hanya diam, dan dia aneh dengan sikap Rendra yang tiba-tiba berubah seperti ini.
Menurut Bagas ini seperti di sengaja agar Marisa membencinya dan menolak perjodohan ini.
Setelah beberapa saat mereka berdebat, dan baru di sadari bahwa anak-anak nya sudah tidak ada lagi bersama nya setelah Bagas bertanya.
"Bos, Yasya sama Yasinta ke mana? " tanya Bagas terhadap Rendra.
"Astaga Mentari...! " Marisa juga kaget setelah melihat ke samping bahwa anaknya juga sudah tidak ada.
"Kenapa kamu tanya saya! " jawab Rendra sambil menatap Bagas dengan penuh pertanyaan.
"Dari tadi kan Bos, yang bersama mereka" kata Bagas.
"Cepat cari di mana mereka! " perintah Rendra terhadap Bagas.
Marisa langsung mencari ke setiap sudut yang ada di sanah, dan hasil nya belum di temukan juga.
Begitu juga dengan Rendra dia mencari keberadaan anak-anak nya, memang tempat ini sudah tidak asing lagi bagi Yasya dan Yasinta tetapi Mentari baru pertama kali datang ke tempat ini.
"Bukan nya dia itu anak mu! " tunjuk Marisa kepada anak kecil yang sedang berdiri di luar, dia melihat dari kaca.
Sontak Rendra melihat ke arah luar,dan dia langsung bangkit dari duduknya lalu berlari ke arah luar di ikuti oleh Marisa.
Setelah sampai di luar dan ternyata itu benar Yasinta.
"Yasya sama mentari mana? " tanya Rendra terdapat putrinya yang sedang berdiri melihat ke sebrang jalan.
"Mereka ke sanah, sudah ku larang tapi Yasya kekeh terus mengajak mentari untuk pergi ke sana! " jawab Yasinta dengan rasa takut yang luar biasa, sebab Yasinta paling takut jika ayah nya sudah marah.
"Kenapa kamu nggk ijin dulu sama ayah? " tanya Rendra.
"Tadinya Yasya cuma ngajak main di permainan yang ada di dalam, terus dia bilang kurang seru dia ngajak ke tempat itu! " jawab Yasinta sambil menundukkan pandangan nya.
Marisa yang melihat Yasinta ketakutan dia langsung mensejajarkan tubuhnya, lalu memegang tangan nya.
"Ya sudah jangan takut, sekarang kita ke sanah cari Yasya sama mentari! " ajak Marisa sambil meraih tangan Yasinta lalu di ajak untuk menuju di mana, Mentari dan Yasya berada.
__ADS_1
Rendra yang merasa di abaikan dan di tinggalkan merasakan kesal, dan langsung mengikuti langkah Marisa.
"Hai dia anak ku.. kenapa kamu membawa nya tanpa ijin dari ku" kata Rendra sambil mengejar Marisa.
"Bodo amat, kan aku calon Mama nya" jawab Marisa tanpa melihat ke arah Rendra yang merasa kesal terhadap dirinya.
Setelah beberapa saat mereka berjalan ke tempat yang di tunjukkan Yasinta, dan ternyata Yasya dan Mentari ada di sanah mereka sedang asik bermain sambil tertawa seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama. Seperti nya Yasya dan Mentari mempunyai sifat yang sama yaitu pemberani, tidak seperti Yasinta yang suka nangis dan selalu takut terhadap semua hal.
Marisa mendekat ke tempat di mana mereka sedang bermain,setelah beberapa saat Marisa sudah berdiri dekat mereka tetapi Yasya dan Mentri belum menyadari keberadaan Marisa.
"Kalian ternyata ada di sini ya! " ucap Marisa berbicara dengan nada sedikit tinggi dari biasanya.
Seketika Mentari tersadar, bahwa dia tidak meminta ijin terhadap sang ibu untuk bermain ke tempat ini.
"Maaf Bu... " hanya kata itu yang terucap dari bibir Mentari sambil menundukkan pandangan nya.
"Dan kamu! kenapa setiap mau pergi ke manapun tidak pernah meminta ijin? " tanya Rendra terhadap Yasya.
"Aku sudah minta ijin tadi sama Ayah, tetapi nggak menjawab nya malah sibuk dengan Mamanya Mentari " jawab Yasya tanpa rasa takut sedikit pun terhadap sang Ayah.
Seketika Rendra memutar kembali ingatan yang, apa benar tadi Yasya meminta ijin tetapi kenapa dia tidak mengingatnya sama sekali.
"Ya sudah kita kembali ke sana!, om Bagas sudah menunggu kalian dan kita makan bersama di sana kalau main nya belum puas kita lanjut setelah makan! " kata Marisa dengan lembutnya, dan perkataan Marisa sudah membuat Yasinta jatuh hati terhadap nya.
"Tante boleh aku ngomong sesuatu" kata Yasya tiba-tiba.
"Katakan, mau ngomong apa" jawab Marisa sambil tersenyum ke arah Yasya.
"Jangan mau sama Ayah dia kalau tidur ngorok aku saja nggak mau tidur bareng dia" kata Yasya terhadap Marisa.
Seketika Marisa ingin tertawa terbahak-bahak tetapi dia tahan saat melihat wajah Rendra yang mulai tidak bersahabat.
"Ya sudah kita kembali ke sana! " ajak Marisa terhadap ketiga anak kecil itu, dan mereka pergi berlalu untuk menuju tempat semula. Tanpa menghiraukan Rendra yang ada bersama mereka.
"Belum jadi Ibunya saja sudah berani mengambil anak-anak ku, awas saja nanti kamu ya! " Rendra menggerutu sambil mengikuti langkah mereka.
Setelah beberapa saat mereka sudah sampai di tempat semula dan duduk di kursi masing-masing, Marisa langsung memesan makanan karena dia tahu bahwa ketiga anak kecil itu sudah lapar.
Setelah beberapa saat mereka menunggu dan makan yang di pesan sudah datang.
"Kenapa kamu pesan makan hanya untuk kalian? " tanya Rendra terhadap Marisa.
__ADS_1
"Ya kalau mau makan pesan sendiri! " kata Marisa sambil menyiapkan makanan ke mulutnya.
"Astaga kenapa hidupku hari ini seperti ada di masa penjajahan Belanda tidak ada seneng-seneng nya yang ada kesel menghadapi manusia macam dia" kata Rendra tetapi semua itu hanya mampu di ucapkan nya dalam hati, sebab dia takut di tampol saos sambal yang mereka gunakan untuk memakan kentang goreng.