
Pagi hari semua orang sedang sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing, beda lagi dengan Marisa dia bingung harus mengerjakan apa. Sebab Rendra sudah berkali-kali berkata bahwa jangan menyentuh apapun yang ada di kamar ini, lantas apa yang harus Marisa lakukan. Dia duduk lalu berdiri duduk lagi sambil mondar-mandir, Rendra entah ke mana sudah tidak ada di dalam kamar sejak tadi.
Marisa melangkahkan kaki untuk segera keluar dari kamar dan mencari keberadaan Rendra dan juga yang lainnya, Marisa juga harus menemui anak-anak sebab mereka harus ke sekolah.
Marisa dengan perlahan berjalan menelusuri ruangan yang ada di rumah ini untuk mencari tahu kamar anak letak nya di sebelah mana, hingga pada akhirnya terdengar suara dari salah satu kamar.
"Istri kamu mana? masa yang harus melakukan ini kamu, sudah menjadi tanggung jawab nya menyiapkan semua keperluan Yasya dan Yasinta. Dasar pemalas baru sehari saja di rumah ini sudah belaga seperti ratu" oceh sanga mertua di salah satu kamar, yang terdengar jelas ke luar suaranya.
Marisa yang mendengar itu semua hanya mengelus dada, lalu menyandarkan tubuhnya di dinding untuk menetralkan perasaan nya. Walau bagaimana pun tetap saja Marisa hanyalah manusia bisa yang bisa merasakan sakit jika ada orang yang berkata tidak enak untuk dirinya.
Setelah menarik nafas dengan perlahan lalu membuangnya, dia atur kembali nafas nya. Dengan perlahan dia beranikan diri untuk mengetuk pintu kamar tersebut, lalu dia putar gagang pintu.
Pintu sudah terbuka, terlihat Rendra sedang mengikat rambut Yasinta dan Bu Eva sedang memakai kan baju Yasya sedangkan Mentari sudah terbiasa melakukan nya sendiri, tidak sulit baginya hanya untuk bersiap ke sekolah.
Marisa melangkah dengan perlahan mendekat ke arah Rendra"biar aku yang melakukan nya"kata Marisa sambil mengambil ikat rambut yang tergeletak di tempat tidur.
"Ayah kasih sisir nya ke tante Marisa, biar di ikat sama dia aku nggak mau! sakit rambut ku di sisir Ayah ini rontok semua nanti" kata Yasinta dia menolak untuk di ikat sangat Ayah rambut nya, padahal setiap hari juga Rendra yang melakukan nya. Entah kenapa hari ini terasa sakit oleh Yasinta saat Rendra menyisir rambutnya.
"Kan biasanya juga Ayah yang melakukan nya" jawab Rendra.
"Pokoknya aku nggak mau mulai hari ini" ucap Yasinta sambil mengerucutkan bibirnya, dan menyilang kan tangan di dadanya.
"Sudah kalau begitu Ayah keluar" kata Rendra sambil meletakkan sisir,lalu menggeser duduk nya agar ada ruang untuk Marisa dekat dengan Yasinta.
"Kamu itu harus tahu tugas kamu sebagai istri, nyiapin keperluan suami anak-anak dan beresin rumah itu sudah menjadi tugas istri. Jangan berharap kamu menjadi nyonya di rumah ini, ibunya Yasinta dulu selalu melakukan semuanya sendiri meskipun di sini banyak pelayanan tidak pemalas seperti kamu" kata Bu Eva dengan nada bicara yang judes.
"Ma... kalau bicara di jaga" kata Rendra.
Marisa yang mendengar itu semua hanya diam saja, sambil mengikat rambut Yasinta, dia berusaha menjadi tuli agar tidak merasakan terlalu sakit atas ucapan yang terlontar dari mulut sang mertua.
__ADS_1
"Kamu jangan belain terus jadi besar kepala nantinya, biar tahu posisi nya itu di mana. Orang miskin saja belagu " kata Bu Eva sambil pergi berlalu meninggalkan kamar anak-anak.
Rendra yang melihat raut wajah Marisa berubah seperti menahan tangis.
"Jangan di dengerin omongan Mama, dia memang seperti itu tapi hatinya baik ko" kata Rendra berusaha menenangkan Marisa agar tidak merasakan terlalu sakit atas perlakuan ibu mertuanya.
"Nggak apa-apa, sudah biasa juga di perlakuan seperti ini bagi kami orang miskin. Mereka hanya melihat sebelah mata dan menganggap kami rendah" kata Marisa sambil mengusap air mata dengan jari jempol nya yang sudah membasahi ujung mata.
"Nggak begitu juga maksud Mama" ucap Rendra.
"Yuk anak-anak sudah siap semuanya kan? kita sarapan dulu! " ajak Marisa terhadap ketiga anak kecil itu.
Anak-anak mengikuti langkah Marisa untuk segera menuju meja makan dan sarapan bersama sebelum berangkat ke sekolah.
Rendra yang melihat Marisa seperti itu merasa bersalah, tidak ada niatan sedikit pun untuk menyakiti hati nya. Meski dia memperlakukan Marisa seperti itu tetapi ketika orang lain membuat Marisa sedih termasuk juga sang Mama dia merasa tidak ikhlas.
"Tunggu sebentar ya, nyiapin sarapan nya dulu" kata Marisa terhadap anak-anak nya.
Dia perlahan menuju dapur dan akan menyiapkan sarapan yang sesuai dengan pesanan anak-anak nya.
Setelah sampai di dapur terlihat beberapa pelayanan sedang sibuk mempersiapkan menu untuk sarapan.
"Ada yang bisa di bantu Nyonya? " tanya salah satu pelayanan, yang umur nya sudah tidak lagi muda dia di sini sebagai kepala para pelayan yang ada.
"Itu anak-anak minta sarapan tapi Yasinta minta nasi goreng" jawab Marisa.
"Tapi hari ini menunya bukan nasi goreng, peraturan di rumah ini harus memakan makanan yang sama" jawab kepala pelayanan.
"Owh begitu yah, ya sudah yang ada saja" jawab Marisa.
__ADS_1
"Tunggu ya Nyonya sebentar lagi akan segera di sajikan" kata sang pelayanan tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu" kata Marisa.
"Nggak usah Nyonya kami di sini bekerja di bayar jadi tunggu saja nanti kami yang menyiapkan semuanya" kata pelayan tersebut.
"Tapi saya nggak bisa diam terus seperti ini, sedangkan kalian bekerja" kata Marisa sambil mendekat ke arah salah satu pelayanan yang sedang memotong sayuran.
"Nanti kami yang di marahin Nyonya besar " jawab nya.
"Nanti saya yang bilang kalau ini semua keinginan saya" kata Marisa sambil membantu memotong sayuran yang akan di masak.
Semua pelayanan yang ada di dapur hanya saling melempar tatapan, sebab mereka takut kejadian yang dulu terulang kembali saat istri pertama Rendra ikut memasak di dapur dan yang di marahi oleh Bu Eva yaitu semua pelayan dan yang lebih di marahin itu ketua pelayan nya.
Dan nggak akan mungkin juga Bu Eva memarahi semua pelayan hanya karena Marisa ada di dapur.
Setelah cukup lama Marisa ada di dapur dan semua menu sarapan sudah siap, dan waktunya di hidangkan di meja makan.
Sedangkan di sanah sudah ada anak-anak yang menunggu untuk sarapan sebelum berangkat ke sekolah.
Marisa membawa wadah yang berisi makanan untuk di sajikan dan ternyata di sanah sudah ada sang Nenek.
Marisa menaruh wadah tersebut di atas meja dan akan menyiapkan makanan untuk ketiga anaknya.
"Kenapa kamu lakukan ini, kan masih banyak pelayanan di rumah ini kamu itu menantu bukan pembantu tidak harus melakukan semuanya sendiri" kata sang Nenek.
Dan Eva yang mendengar sang mertua bicara seperti itu merasa kesal, kenapa dulu dia tidak di perlakuan dengan baik oleh sang mertua.
"Nggak apa-apa Nek... aku suka melakukan ini semua" jawab Marisa sambil tersenyum.
__ADS_1