
Keesokan harinya.
Mentari pagi begitu cerah secerah harapan Marisa pada saat ini, dia selalu berharap bawa kehidupan kedepannya selalu bersinar seperti mentari pagi.
Marisa akan berangkat mengantarkan Mentari ke sekolah dan setelah itu akan pergi ke toko bunga.
Di saat Marisa sudah siap berangkat mengantar mentari tiba-tiba Bu Diah memangil nya.
"Iya, Ma...kenapa? " sahut Marisa.
"Nanti pulang nya jangan terlalu malam dan jangan jemput Mentari biar Mama saja! " kata Bu Diah.
"Iya" jawab Marisa singkat.
Setelah berpamitan Marisa melajukan kendaraan nya, untuk segera menuju ke sekolah.
Di sepanjang perjalanan Mentari tidak henti bertanya apa yang di lihat nya, hal itu membuat Marisa kewalahan menjawab pertanyaan Mentari.
Setelah cukup lama di perjalanan akhirnya sampai di sekolah, seperti bisa Marisa mengantar Mentari sampai di depan kelas.
Setelah Mentari masuk Marisa bergegas pergi dari sekolah, untuk segera menuju toko bunga.
*****
Waktu bergulir begitu cepat, Marisa sudah berada di rumah sejak jam empat sore.
Bu Diah meminta Marisa untuk segera pulang, malam ini mereka akan kedatangan tamu istimewa. Marisa membantu Bu Diah untuk mempersiapkan semuanya, sebab menurut Bu Diah tamu yang akan datang bukan sembarang tamu.Bisa di sebut salah satu yang mempunyai kekayaan terbanyak di kota ini.
"Ma...tamu siapa sih ko harus repot menyiapkan semua ini? " tanya Pak Darmawan terhadap sang istri.
"Papa jangan banyak tanya, cukup bantu Mama nyiapin semuanya" jawab Bu Diah
"Iya Deh" jawab Pak Darmawan sambil mengelap piring yang menumpuk di atas meja, Marisa masih memasak sesuai arahan dari Bu Diah.
__ADS_1
Setelah cukup lama mereka bergulat dengan peralatan dapur dan menu masakan untuk makan malam, akhirnya selesai juga.
"Sudah beres semua, kita siap-siap dulu mungkin jam delapan mereka sudah sampai" kata Bu Diah sambil menyerah kab paper bag kepada Marisa.
"Untuk apa ini Ma...? " tanya Marisa terhadap ibu Mertua nya, yang Marisa lihat di dalam paper bag isinya baju.
"Kamu pakai baju itu, semoga pas di badan kamu! " perintah sang mertua.
Setelah mengambil nya, Marisa kembali ke kamarnya untuk segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Menurut perintah dari ibu mertua dia harus memakai pakaian yang sudah di siapkan nya.
Semua orang sudah berada di ruang keluarga termasuk juga mentari, mereka sedang menunggu kedatangan tamu istimewa seperti yang telah di katakan Bu Diah.
Setelah beberapa saat mereka menunggu akhirnya tamu yang di tunggu sudah datang, mereka datang dengan membawa barang-barang seperti orang mau lamaran.
Marisa tidak bertanya apapun dia hanya diam dan tersenyum menyambut kedatangan tamu.
Para tamu sudah di persilahkan untuk duduk di tempat yang sudah tersedia, Jamuan sudah tersedia untuk tamu yang hadir.
Mereka semua berbincang sebentar, dan tamu yang hadir langsung berbicara kepada inti dari tujuan mereka.
"Dia putri kami satu-satunya dan sudah memiliki satu anak perempuan" kata Bu Diah.
"Tidak masalah toh Rendra juga sudah memiliki dua anak, semoga mereka cocok ya Bu" kata Pak Basuki.
"Papa nggak salah, mau menjodohkan Rendra sama wanita kampung ini" Bisik Eva terhadap Pak Basuki.
"Mama diam saja, dia itu pasti penurut sudah pasti menjadi menantu yang baik" bisik Basuki kembali di telinga sang istri.
"Kalau boleh tahu tujuan datang ke sini itu apa yah dan semua perlengkapan ini? " tanya Pak Darmawan, sungguh dia juga tidak tahu dengan semua ini. Ini semua rencana istrinya yang menjodohkan Marisa dengan anak nya Pak Basuki.
"Tujuan kami datang yaitu ingin melamar putri Bapak yang bernama Marisa untuk anak kami" kata Pak Basuki, dia memberi tahu maksud dan tujuannya datang ke rumah ini.
Seketika mata Pak Darmawan membulat melihat ke arah sang istri dan meminta penjelasan tetapi Bu Diah tetap santai dengan semuanya.
__ADS_1
"Melamar! " jawab Pak Darmawan dengan ekspresi wajah sangat kaget.
"Iya, Pak! apakah lamaran kami di terima atau tidak? " tanya Pak Basuki terhadap Pak Darmawan, dia sungguh tidak bisa menjawab apapun. Sebab secara hukum negara Marisa masih sang sebagai istri dari anaknya, tetapi jika di lihat dari hukum agama jelas sudah tidak ada nafkah lebih dari tiga bulan itu artinya. Marisa berhak mengajukan ke pengadilan untuk menggugat cerai tetapi itu semua tidak Marisa lakukan sebab dia selalu berharap bahwa suaminya akan pulang besok atau lusa.
"Dengan senang hati kami menerima lamaran ini" jawab Bu Diah sambil tersenyum lebar, dia sangat bahagia malam ini bahwa Marisa sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga Basuki.
Marisa tidak bisa berkata apapun,dia sebenarnya tidak setuju atas semua ini.
Tetapi apalah daya dia tidak bisa menolak nya, hanya mampu diam dan mengikuti semua apa yang di minta ibu mertua nya.
Setelah beberapa saat mereka berbincang ,dan akhirnya mengakhiri pertemuan mereka dengan makan malam bersama.
Selama berada di meja makan, Marisa tidak selera untuk makan dia hanya menyuapkan beberapa sendok makanan ke mulutnya, beda lagi dengan Bu Diah dia sangat bersemangat untuk menghabiskan makannya.
setelah beberapa saat, acara makan malam sudah selesai dan keluarga Pak Basuki sudah pamit untuk segera pulang.
Dan mereka sudah mengatur pertemuan Rendra dan juga Marisa, mereka ingin secepatnya untuk segera menikah.
Setelah kepergian keluarga Basuki tinggal mereka bertiga yang ada di ruang keluarga, sebab Mentari sudah berada di dalam kamar dan tertidur.
"Maksudnya apa? Mama jodohin Marisa, dia kan belum resmi bercerai dari Angga" kata Pak Darmawan.
"Apa Papa masih menganggap dia masih hidup! Meskipun dia masih hidup,sudah jelas tidak ada nafkah lahir batin untuk Marisa dan itu semua sudah jelas di atur di dalam hukum agama jika tidak ada nafkah selama tiga bulan dan istri merasa keberatan maka bisa mengajukan gugatan cerai" kata Bu Diah.
"Tapi, Ma... aku belum ke pikiran untuk menikah kembali" Marisa mulai membuka suaranya.
"Mama lakukan semua ini untuk ke baikan kamu dan juga mentari, agar ada yang menjaga kalian. Papa dan Mama sudah tidak lagi muda, dan mungkin umur kami tidak lama lagi dan tidak bisa menjaga kalian untuk selamanya. Mama sangat berharap bahwa kamu bisa menerima lamaran ini dengan ikhlas tanpa ada rasa terpaksa" kata Bu Diah dengan panjang lebar.
Marisa tidak bisa menjawab apapun dia hanya diam dan menunduk, sungguh bukan seperti ini yang di harapkan nya.
Dengan penuh harapan bisa mengubah hidupnya dan bisa membuka lembaran baru dan ternyata lembaran seperti ini yang akan Marisa lalui.
Setelah beberapa saat, mereka kembali ke kamar masing-masing dan Marisa juga tidak menjawab Iya.
__ADS_1
Bahwa dia setuju atas perjodohan ini, dan Pak Darmawan juga tidak setuju, tetapi Bu Diah sangat keras kepala. Apalah daya bagi Pak Darmawan hanya bisa pasrah dan mengikuti apa yang di katakan sang istri.