
Waktu bergulir begitu cepat, seharian ini Marisa sudah di hadapkan dengan berbagai masalah. Tetapi wanita itu terus bersemangat, ini hari pertama nya memulai kehidupan baru ini yang menentukan apakah kehidupan nya akan lebih baik atau sebelum nya.
Dia sore ini untuk pertama kalinya mengirim pesan, meski di temenin sopir tetap saja dia merasa takut.
Wajar jika rasa takut Menyelimuti, sebab ini pertama kali di lakukan nya. Langsung memikul tanggung jawab sebesar ini, dengan penuh harap Marisa bisa mengemban amanah ini dan bisa membuat toko bunga ini lebih maju dan punya cabang di mana-mana.
"Bu sudah siap berangkat" kata Nana.
"Eh iya, sekarang yah berangkat nya ko aku gerogi Na... kamu ikut saja untuk kali ini saja, lagipula aku belum tahu orang nya yang mana! " Marisa meminta Nana untuk ikut bersama nya.
"Tapi Bu... " jawab Nana.
"Aku mohon kali ini saja, Na... " kata Marisa dengan penuh permohonan.
Nana berfikir sejenak dan akhirnya "Iya deh aku ikut" jawab Nana.
Setelah beberapa saat mereka sudah berada di dalam kendaraan yang akan mengantarkan pesanan, kendaraan yang mereka gunakan yaitu mobil jenis bak terbuka. Marisa, Nana dan juga pak sopir sudah siap untuk berangkat ke tempat tujuan.
Kendaraan sudah melaju dengan kecepatan sedang, semoga mereka tidak terjebak macet dan sampai ke tempat acara dengan tepat waktu.
******
Di tempat lain
"Bagas... kenapa ini pesanan bunga belum datang juga, ini sudah hampir jam tujuh malam kenapa mereka belum sampai juga? " tanya Rendra terhadap sangat asisten Bagas, tidak seperti biasa bunga selalu datang tepat waktu.
"Kurang tahu Bos... pan kemaren juga pas pesan sudah di bilangin bunga harus sampai jam enam sore" jawab Bagas.
"Ini sudah telat satu jam loh, kenapa sekarang mereka jadi lelet seperti ini" oceh Rendra dengan nada bicara yang tinggi.
Setelah beberapa saat Rendra ngoceh, dia di panggil sama orang yang lagi pasang tenda. Mereka nggak ngerti mesti di buat seperti apa.
__ADS_1
Dia berjalan mendekat ke arah orang tersebut dan memberi arahan, terus rentetan acara juga setting tempat harus sesuai dengan tema acara.
Di saat Rendra sedang sibuk menjelaskan tentang pengaturan tempat dan lain sebagainya.
Marisa sudah sampai di tempat parkir, dan pak sopir dan Nana membawa bunga yang akan di antar.
Marisa membawa bunga untuk di tabur di dalam keranjang, sebab ada bunga seperti ini yang di pesan mereka.
Marisa berjalan terlebih dahulu untuk segera bertemu dengan orang yang memesan bunga, dia akan meminta maaf atas keterlambatan nya.
Marisa terus mencari orang tersebut sampai ke dalam gedung, tidak ada yang bisa dia tanya sebab mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Hingga akhirnya Marisa melihat ada orang yang sedang berbincang, Marisa mempercepat langkahnya untuk bertanya soal orang yang memesan bunga.
Setelah dekat dengan orang tersebut, tanpa di duga orang itu balik badan hingga keranjang yang di pegang Marisa terpental ke atas dan bunga yang ada di keranjang tersebut menaburi Marisa dan Rendra, dan Rendra juga dengan reflek menarik tangan Marisa agar tidak terjatuh.
Mereka berdua di lihat sepintas sedang berpelukan di bawah taburan bunga.
Sesaat tatapan mereka saling mengunci, hingga akhirnya Marisa tersadar"Maaf Pak"kata Marisa sambil melihat ke arah tangan Rendra yang masih melingkar di pinggang Marisa.
Rendra melepaskan tangan nya dari pinggang Marisa, Bagas mendekat ke arah ke dua nya.
Setelah berada di dekat Marisa, ternyata ingatan Bagas sangat tajam.
"Mbak yang tadi bertemu di sekolah kan? " tanya Bagas terhadap Marisa.
"Eh iya, ternyata kita bisa bertemu lagi" jawab Marisa sambil tersenyum.
"Kita belum kenalan, Nama ku Bagas" kata Bagas sambil mengajak Marisa untuk berjabat tangan.
"Marisa" jawab Marisa sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
Dan senyuman Marisa membuat hati Bagas berbunga-bunga seperti bunga yang di bawa Marisa,
Di saat mereka bertiga sedang berbicara, hingga Marisa lupa untuk bertanya siapa pemesan bunga tersebut.
"Eh Maaf mau tanya, kalau Pak Rendra itu yang mana? saya mengantarkan pesanan nya! " kata Marisa terhadap Bagas.
"Rendra dia, tapi jika urusan nya soal bunga dan kamu itu tinggal cari saya" jawab Bagas sambil menunjuk ke arah Rendra lalu ke dirinya sendiri.
"Saya minta maaf atas keterlambatan pengiriman nya Pak! " kata Marisa meminta maaf.
"Kalau boleh tahu, Nona ini siapa nya Pak Darmawan? " tanya Bagas.
"Saya anaknya" jawab Marisa.
"Wih cocok ini boss" kata Bagas sambil menepuk bahu Rendra.
"Ngomong apa sih kamu" ucap Rendra sambil menarik telinga Bagas.
"Sakit boss, nanti kuping inyong putus ora bisa ngerungu! " kata Bagas sambil mengelus telinga yang merasa panas akibat di tarik oleh Rendra.
"Makanya kalau ngomong jangan sembarangan" kata Rendra.
Di saat mereka sedang berbincang yang tidak jelas, datang Nana dan juga Pak supir dengan membawa banyak bunga.
"Ini di simpan di mana yah? " tanya Pak sopir terhadap Bagas.
Dan Bagas langsung menunjuk ke arah ujung yang kosong, Nana dan juga Pak sopir meletakkan bunga yang di bawanya di tempat yang telah di sediakan.
Mereka berdua kembali ke mobil untuk mengambil bunga yang masih tersisa banyak di sanah.
Bunga sudah di turunkan semua, dan Marisa telah meminta maaf terhadap Rendra atas keterlambatan nya.
__ADS_1
Dan Rendra tidak memperpanjang itu semua, dan akhirnya Marisa berpamitan untuk pulang setelah semua bunga di bongkar.