
Satu minggu telah berlalu
Seperti biasa kegiatan rutin Marisa setiap hari, Mengantar mentari ke sekolah dan pergi ke toko bunga.Tidak ada kegiatan lain selain melakukan itu semua,dan selama itu juga Marisa berharap bahwa ibu mertuanya akan berubah pikiran untuk tidak menjodohkan nya dengan laki-laki lain. Dalam hati yang paling dalam dia tidak menginginkan perjodohan ini terjadi,tetapi itu semua hanya harapan Marisa yang tidak akan pernah terjadi.
Tidak pernah tersirat sedikit pun di dalam hati Marisa, bahwa akan ada orang lain di dalam hidup nya selain Angga.
Sebelum memulai aktivitas Marisa duduk di sofa sambil menatap ke arah luar jendela, terkadang hidup ini sangat lucu dan harus tertawa bahwa sesekali harus bertingkah seperti orang gila. Agar bisa mengetahui yang sesungguhnya gila itu dunia atau manusia yang mengisinya.
Setelah cukup lama Marisa merenung dan menatap ke arah luar jendela, dia bangun dari duduk nya untuk segera bersiap mengantarkan Mentari terlebih dahulu.Dengan langkah malasnya, dia keluar dari kamar untuk segera turun ke lantai bawah di mana sudah di tunggu Mentari untuk pergi berangkat ke sekolah.
Setelah beberapa saat Marisa sudah sampai di lantai bawah, di mana sudah ada Bu Diah dan juga Pak Darmawan sedang duduk di ruang keluarga.
Marisa menyapa kedua mertuanya yang sudah di anggap sebagai orang tua sendiri oleh nya.
Hari ini Marisa akan bertemu dengan Rendra, meski tidak setuju atas perjodohan yang akan di lakukan oleh ibu mertua tetapi Marisa tidak bisa menolak nya.
Sejujurnya dia tidak ingin bertemu dengan lelaki pilihan mertua nya itu,tetapi mau bagaimana lagi dia harus nurut dan patuh terhadap perintah agar tidak di sebut anak durhaka.
"Ma, Pa... pergi dulu ya" Pamit Marisa terhadap kedua mertuanya, yang sedang duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.
"Nanti sore jangan lupa yah, ketemu di kafe sama Rendra? " kata Bu Diah.
"Iya, Ma... tapi bagaimana dengan Mentari apa aku antar pulang terlebih dahulu! " jawab Marisa.
"Bawa saja, Rendra juga bawa anak-anaknya biarkan mereka mengenal satu sama lain. Lagi pula mereka akan menjadi saudara" kata Bu Diah.
"Iya, Ma... aku nggak lupa ko"kata Marisa.Setelah berpamitan dia akan segera berangkat untuk mengantarkan mentari terlebih dahulu ke sekolah.
"Ya sudah hati-hati di jalan" pesan Bu Diah terhadap Marisa.
"Terimakasih Ma... " jawab Marisa sambil tersenyum, lalu berjalan perlahan untuk segera keluar dari rumah.
__ADS_1
Begitu juga dengan Mentari dia berpamitan kepada kakek dan nenek nya untuk segera berangkat ke sekolah.
Marisa sudah menyala kan mesin kendaraan, dia sudah siap menarik gas untuk segera melalui jalanan di pagi hari dengan kendaraan motornya. Selama satu minggu ini motor adalah teman setia bagi Marisa, dia yang selalu mengantarkan ke mana pun Marisa pergi.
Kendaraan melaju dengan kecepatan sedang, membelah keramaian jalan di pagi hari.
Sepanjang perjalanan dia sangat menikmatinya, apalagi udara pagi masih terasa sejuk. Bagi Marisa menambah ke indahan tersendiri di dalam perjalanan pagi apalagi hanya dengan menggunakan sepeda motor.
"Bu... Jika saja Ayah ada bersama kita, pasti kita lebih bahagia dari ini" Kata Mentari, sambil tersenyum menikmati indahnya pagi hari di dalam perjalanan ke sekolah.
"Sekarang juga kita sudah bahagia lebih dari cukup" Jawab Marisa.
"Iya, sih... Ibu kan yang terbaik bisa membuat ku terus bahagia" Puji Mentari terhadap sang Ibu.
Setelah cukup lama di dalam perjalanan, sepeda motor yang di kendarai Marisa sudah sampai di Area parkir sekolah.
Seperti biasa suasana pagi hari di sekolah, semua orang tua sudah mulai berdatangan mengantarkan anak nya untuk bersekolah di tempat ini.
Marisa melambaikan tangan nya terhadap Mentari, pertanda mereka akan berpisah untuk seneng. Setelah Mentari tidak terlihat, Marisa juga segera mengambil sepeda motornya dan melanjutkan perjalanan nya untuk segera sampai di toko bunga.
*****
Di tempat lain
Di kediaman keluarga Basuki
"Pak, kenapa sih harus ada acara perjodohan segala macam" kata Rendra terhadap sang Ayah.
"Kenapa juga harus perempuan kampung itu sih Pa... cantikan juga anak teman-teman Mama udah jelas asal usul nya, mereka juga bukan berasa dari keluarga kampung seperti Marisa" kata Eva dengan nada bicara yang judes.
"Ma... Marisa itu anak nya baik! " kata Pak Basuki.
__ADS_1
"Tapi, Pa... tahu sendiri kan aku tidak akan pernah bisa melupakan Naina"Kata Rendra.
" Sampai kapan kamu akan hidup seperti itu dan berada di bawah bayang-bayang nya, kamu harus ingat satu hal dia itu sudah meninggal dan tidak akan pernah kembali sedangkan kedua anak mu butuh sosok seorang Ibu"Kata Pak Basuki, menasehati sang putra.
"Aku bisa jadi ibu sekaligus Ayah bagi mereka jadi aku tidak butuh seseorang yang menggantikan posisi Naina" kata Rendra.
"Pokoknya kamu harus menikah lagi, tetapi bukan sama perempuan kampung itu" Kata Eva dengan nada bicara yang judes, sambil menatap tajam wajah suaminya.
"Bisa diam nggak sih kamu, lagi pula anak teman-teman kamu yang mana yang mau di jodohin sama Rendra paling juga si Malika, yang hobby nya ke salon terus jalan-jalan ngabisin uang suami. Mana bisa perempuan seperti itu ngurus suami dan dua anak sekaligus" Kata Pak Basuki dengan nada bicara dengan penuh penekanan.
"Ya, sudah aku pamit dulu ya...nanti sore kan ketemu nya sama Marisa" kata Rendra terhadap sang Ayah, lebih baik dia segera pergi daripada mendengar perdebatan kedua orang tuanya.
"Jangan lupa bawa Yasya dan Yasinta, biar mereka bisa dekat dengan calon Ibunya" kata Pak Basuki.
"Iya... " jawab Rendra singkat, setelah itu dia langsung berjalan perlahan untuk segera keluar dari rumah dan menuju kendaraan yang akan mengantarkannya ke tempat kerja.
*****
Waktu bergulir begitu cepat.
Marisa dan juga Mentari sudah menunggu kedatangan Rendra dan juga anaknya, Marisa sudah menunggu lama dari waktu yang sudah di tentukan.
"Bu lama sekali, kapan mereka datang nya? memangnya mau ketemu siapa sih? " tanya Mentari terhadap sang Ibu.
"Tunggu sebentar lagi yah, mungkin mereka terjebak macet dalam perjalanan" kata Marisa, terhadap sang anak.
Setelah beberapa saat mereka menunggu akhirnya yang di tunggu datang juga.
"Maaf menunggu" kata Rendra, sambil menarik dua kursi lalu mempersilahkan kedua anak kembarannya duduk.
"Tidak masalah, lagian kita juga belum terlalu lama ko" jawab Marisa sambil tersenyum lalu, menatap kedua anak kembar yang sudah duduk di hadapan nya.
__ADS_1
Hening seketika, tidak ada yang memulai pembicaraan terlebih dahulu.
Hingga pada akhirnya Rendra mulai bicara terlebih dahulu.