
"Marisa... " panggil Rendra dengan wajah terkejut nya.
Rendra kaget melihat Marisa tergeletak di lantai kamar mandi dengan posisi shower menyala, sudah pasti ini akibat kedinginan.
Rendra panik entah apa yang harus di lakukan, bahkan untuk mematikan shower saja dia lupa hingga akhirnya dia juga ikut basah saat mengangkat tubuh Marisa.
Dengan basah kuyup dan tidak sadarkan diri Marisa di angkat dan di letakan di atas tempat tidur.
Rendra bingung sebab harus mengganti pakaian Marisa yang basah, jika dia panggil pelayan untuk menggantikannya sudah pasti orang rumah akan mengetahui kalau Marisa tidak sadarkan diri.
Setelah berpikir cukup lama akhirnya Rendra mengambil pakaian Marisa yang masih ada di dalam koper,sebab Rendra tidak ingin berbagi lemari dengan Marisa dengan terpaksa dia menyimpan pakaian nya di pokok kamar di dalam koper.
"Alah buset dengan semua perjanjian itu, di mata hukum dan agama aku adalah suaminya jadi tidak ada larangan untuk menggantikan pakaian nya. Daripada nanti berabe kalau Nenek atau Bapak tahu soal ini, yang ada jadi perkedel nanti di bejek-bejek sama Nenek" Rendra berbicara sendiri sambil mengambil pakaian ganti.
Rendra berjalan lalu mendekat ke arah tempat tidur di mana Marisa belum sadarkan diri, di buka dengan perlahan pakaian nya. Di sanah Rendra di suguhkan dengan pemandangan indah, sayang jika penandatangan itu di lewatkan begitu saja. Dengan gerakan cepat dia mengganti seluruh pakaian Marisa, sebelum otak mesumnya bekerja dengan baik dia harus segera selesai. Sebab terlalu indah untuk di lewatkan begitu saja, antara otak waras dan tidak nya mulai bertentangan saat melihat keindahan itu. Setelah beberapa saat Rendra sudah berhasil mengganti seluruh pakaian, akhirnya dia juga harus segera membersihkan diri dan berganti pakaian.
Rendra membiarkan Marisa dalam keadaan belum sadarkan diri, setelah seluruh tubuh Marisa di oles dengan minyak angin agar tubuhnya terasa hangat. Lalu di tutup oleh selimut tebal agar Marisa tidak kedinginan, Rendra pikir setelah tidak merasakan dingin pasti akan sadarkan diri.
Rendra melangkah perlahan untuk segera masuk ke dalam kamar mandi,untuk menyelesaikan ritual nya berada di dalam sana.
Setelah cukup lama Rendra keluar dengan handuk melilit di pinggang nya, terlihat dengan jelas roti sobek miliknya. Dia keluar dengan balutan handuk seperti itu sebab Marisa dalam keadaan tidak sadarkan diri jadi aman baginya dari otak mesumnya jika melihat Marisa dalam keadaan sadar.
Dengan santainya dia berganti pakaian tanpa memperdulikan orang yang belum sadarkan diri, setelah selesai dengan ritual ganti pakaian.
Dia mendekat ke arah Marisa lalu memeriksa detak jantung nya, takut juga jika Marisa sudah tidak bernafas.
"Kenapa dia lama sekali pingsan nya, apa perlu aku kasih nafas buatan agar cepat sadar. Ahh seperti nya itu ide bagus tapi bagaimana kalau dia tiba-tiba sadar.Pasti mikirnya macam-macam dan menuduhku laki-laki bajingan nanti,bodo amat lah dengan semua yang di katakan nanti, yang penting sadar dulu itu yang utama" Rendra berbicara sendiri.
__ADS_1
Rendra menarik nafas dengan perlahan lalu membuang nya,setelah beberapa saat dia belajar menguasai dirinya agar tidak lebih dari memberi nafas buatan.
Rendra mendekat kan wajahnya ke wajah Marisa, lalu menempelkan bibirnya untuk segera memberi nafas buatan.
Tanpa di sangka, belum juga mengeluarkan nafas Marisa membuka mata lalu berteriak.
"Apa yang akan kamu lakukan" kata Marisa sambil berteriak lalu mendorong tubuh Rendra agar menjauh darinya.
"Hai bodoh niat ku baik, untuk memberi mu nafas buatan karena kau lama sekali pingsan nya" kata Rendra.
Marisa melihat ke seluruh tubuhnya, dia kaget dengan pakaian yang di kenakan nya sudah berganti bukan lagi pakaian yang di tadi siang.
"Apa yang kau lakukan saat aku tidak sadar? " tanya Marisa sambil memeluk dirinya sendiri.
"Aku nggak melakukan apapun, hanya membantu mu berganti pakaian cuma itu" Jawab Rendra santai.
"Hai meskipun aku yang menggantikan pakaian mu, aku tidak sejahat yang ada di pikiran kamu lagian aku bukan orang yang memanfaatkan orang yang tidak berdaya,kamu itu nggak menarik untuk di sentuh gunung kembar mu saja paling size 32.Itu jauh dari type ku, dan kalau aku mau maka aku bisa lakukan sekarang di saat kamu sadar agar kita bisa menikmati nya bersama" kata Rendra sambil menyeringai tipis.
Marisa yang mendengar perkataan Rendra langsung menarik selimut untuk menutup tubuhnya sampai ke bagian dada, dia peluk selimut tersebut.
Melihat Marisa seperti ketakutan membuat Rendra ingin tertawa puas, dia sudah berhasil membuat Marisa ketakutan.
"Kamu yang membuat surat perjanjian tapi kenapa di langgar" kata Marisa sambil menatap lekat wajah Rendra.
"Apa kamu lupa, perjanjian itu hanya untuk kamu tidak berlaku untuk ku" jawab Rendra santai.
"Dasar laki-laki egois, maunya menang sendiri" kata Marisa sambil merebahkan kembali tubuhnya lalu di tutup dengan selimut sampai ke kepala.
__ADS_1
"Kamu saja yang tidak teliti baca kontrak itu" kata Rendra sambil tertawa terbahak-bahak. Dia merasa bahagia jika melihat Marisa kesal.
Setelah beberapa saat Rendra ke luar dari kamar untuk mencari makanan yang bisa di Makan oleh Marisa.
Rendra berjalan keluar dari kamar untuk segera menuju dapur, belum sampai di dapur dia bertemu dengan sang Mama.
"Istri kamu mana? kerjaan nya tidur terus lupa tanggung jawab, Anak-anak di serahin ke Mana istri macam apa itu" dengan nada bicara yang judes.
"Lagi nggak enak badan" jawab Rendra sambil terus berjalan untuk segera sampai di dapur.
Eva mengikuti Rendra sampai ke dapur dia belum puas berbicara jelek soal Marisa.
"Dasar saja pemalas, belaga, mau jadi ratu di rumah ini" kata Eva.
"Nggak gitu juga Ma... beneran dia lagi nggak enak badan" jawab Rendra.
Perkataan yang di keluarkan dari bibir Rendra membuat Eva semakin kesal, dia pikir Rendra beneran baik terhadap Marisa.
Setelah sampai di dapur Rendra meminta pelayan untuk membawakan makanan ke kamar, agar Marisa makan terlebih dahulu sebelum minum obat.
"Bi bawa makanan ke kamar, bilang sama dia aku yang menyuruhnya menghabiskan makan! " perintah Rendra terhadap pelayan yang akan mengantarkan makanan ke kamar Marisa.
Pelayan itu Mengangguk, lalu berjalan perlahan meninggalkan dapur di ikuti Rendra dan juga Eva.
Tak henti-henti Eva terus menggerutu dengan semua yang di lakukan Rendra untuk Marisa.
Saat pelayan sudah berada di dekat kamar Marisa tiba-tiba di hentikan.
__ADS_1
"Tunggu...bawa makan untuk siapa ke kamar! " tanya orang tersebut.