
Suasana di ruang makan pun sangat ramai dan dipenuhi dengan sukacita anggota keluarga ini.
Seketika perhatian mereka terhenti saat mendengar perkataan Yasya yang bertanya terhadap Marisa "Bu apa di kamar Ibu banyak serangga? kok lehernya merah-merah seperti digigit serangga? "dengan nada bicara polos khas anak kecil,sambil menatap lekat wajah sang Ibu.
Marisa yang mendengar pernyataan dari Yasya, dengan refleks dia memegang lehernya.Dia tidak menyadari ulah daripada Rendra yang menghajarnya habis-habisan, dan seperti drakula yang kehausan darah. Ternyata menyisakan bekas di lehernya, dia juga tidak sadar bahwa anak kecil itu akan segeliti ini terhadap dirinya.
Semua orang dewasa yang ada di ruangan tersebut hanya menahan tawanya, ketika melihat Marisa yang salah tingkah.Apalagi Rendra dia sudah tidak kuasa lagi ingin tertawa lepas,menertawakan Marisa yang merasa malu atas ulah dirinya.
"Tadi malam Ibu kamu didatangi oleh drakula yang kehausan darah, jadi mungkin itu bekas gigitan drakula yang kehausan "jawab sang Nenek terhadap Yasya, dia berusaha mengalihkan perhatian sang cucu agar tidak terus bertanya terhadap Marisa.Sebab sang Nenek sudah tahu bahwa Marisa merasa malu atas ulah Rendra, jadilah sang nenek yang menjadi penengah di antara mereka semua.
"Kenapa Ayah enggak membantu Ibu saat digigit drakula, memangnya tidak melihat saat drakula itu masuk ke dalam kamar terus apa Ayah takut jika menghajar drakula itu.Kalau nanti ada lagi bilang aku ya nanti aku akan pukul-pukul tuh drakula yang sudah berani jahat sama Ibu "jawab ya sya dengan polosnya, dia tidak tahu yang dimaksud drakula itu siapa.
"Oke jagoan Nenek, jika sudah selesai makannya silakan kembali ke kamar! nanti kalau ada drakula lagi nenek panggil Yasya untuk membawa sapu biar dipukul-pukul drakula nya" kata sang Nenek terhadap Yasya sambil tersenyum tipis.
Akhirnya ketika anak kecil itu kembali ke kamar mereka, sebab sudah selesai melakukan sarapan bersamanya. setelah kepergian anak kecil itu sang nenek berkata.
"lain kali lebih hati-hati anak kecil itu sangat teliti sekali"kata sang nenek sambil tersenyum penuh kemenangan melihat Marisa seperti itu, dia sudah bisa memastikan bahwa sebentar lagi Rendra junior akan segera hadir.
Meskipun Eva sangat kesal sekali dengan pemandangan yang ada di hadapannya pada saat ini, dia tidak suka melihat Marisa banyak tanda-tanda kepemilikan dari Rangga.
Eva tidak berbicara sedikitpun, diam menaruh sendok dan garpu dengan keras di atas piring sehingga menimbulkan suara yang sangat keras lalu pergi meninggalkan meja makan.
__ADS_1
"Ada apa dengan Mama?" kata Rendra sambil menatap ke arah sang Nenek lalu bergantian kepada Ayahnya.
"Mungkin dia terlalu bersemangat untuk segera menantikan cucunya" kata sang Nenek sambil tersenyum kecil melihat ke arah Marisa,dari tadi yang terus menunduk.Bahkan makanan yang ada di piring pun tidak dimakan hanya diaduk-aduk saja.
"Habiskan makanannya, jangan hanya diaduk-aduk saja.Kamu itu lagi butuh asupan gizi yang sangat cukup "kata sang Ayah mertua sambil menatap lekat wajah Marisa yang terlihat sangat malu. lalu bangkit dari duduknya dan meninggalkan mereka yang masih berada di ruang makan, jika saja Ayah mertuanya tidak pergi dari ruangan ini mungkin Marisa tidak akan pernah makan.
"Ya sudah lanjutkan makannya! Nenek akan pergi ke depan terlebih dahulu" kata sang nenek sambil bangkit dari duduknya lalu berjalan perlahan menuju ke arah pintu.
Setelah kepergian sang ayah dan juga nenek, akhirnya Rendra tertawa dengan puasa sambil terbahak-bahak.Dia sudah berhasil membuat Marisa tidak berkutik di depan keluarganya bahkan perempuan itu sangat malu sekali pagi ini dengan kelakuan Rendra.
"Puas kamu sekarang, sudah berhasil membuatku malu di depan semuanya!"kata Marisa sambil meletakkan sendok dengan keras di atas piring lalu bangkit dari duduknya dan meninggalkan Rendra yang masih berada di ruang makan.
Sarapan pun sudah selesai, Rendra bangkit dari duduknya lalu segera menuju kamar.Dia akan menggoda Marisa kembali, sebab tidak ada kebahagiaan bagi Rendra tanpa membuat Marisa kesal.
Setelah sampai di kamar Rendra melihat Marisa sedang berganti pakaian, agar bisa menutupi lehernya agar tidak terlihat bekas gigitan drakula nya.
"Kamu ngapain ganti baju, nggak perlu ganti baju juga toh itu lukisan-lukisan sangat indah untuk dipandang "kata Rendra sambil mendekat ke arah Marisa yang sedang berganti pakaian.
"Lukisan indah dari mana ini tuh gigitan drakula yang haus darah, nanti kalau anak-anak mu nanya lagi aku jawabnya gimana digigit vampir "jawab Marisa dengan kesal.
"Ya tinggal jawab saja ini adalah lukisan ciptaan Papamu"jawab Rendra ambil tertawa terbahak-bahak dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Dasar laki-laki mesum "jawab Marisa sambil menghentakkan kakinya lalu duduk di atas sofa dan menyalakan televisi, tidak ada gunanya juga berdebat dengan seorang Rendra titik lebih baik dia nonton drakor kesukaannya.
"Nonton drakor mulu nggak bosen apa, bintang filmnya itu nggak ada bagus-bagusnya gantengan juga aku ngapain kamu nonton mereka"kata Rendra sambil tersenyum penuh kemenangan.
...****************...
Di tempat lain.
"Kenapa sih kamu akhir-akhir ini marah-marah terus, nggak capek apa?"tanya Angga terhadap sang istri, sebab sudah beberapa bulan terakhir ini mereka selalu bertengkar. dan alasan mereka bertengkar adalah soal ekonomi mereka, sebab 2 bulan terakhir Angga di PHK dari tempatnya bekerja.Dan tidak ada penghasilan lagi, sang istri tidak terima jika Angga setiap hari menganggur.
"Masih nanya lagi, kamu itu pengangguran seharusnya kamu itu sadar apa yang membuat aku marah terhadap kamu" kata sang istri dengan nada bicara yang sangat tinggi.
"Aku sudah berusaha mencari pekerjaan baru, tetapi belum menemukan yang pas yang sesuai dengan kemampuanku" jawab Angga yang tidak kalah tinggi suaranya dari sang istri.
"Jika di kota ini tidak ada pekerjaan yang pas untuk kamu, lebih baik kita kembali ke kota di mana Ibu dan Ayah kamu ada.Mereka itu punya usaha kamu ambil alihlah usaha tersebut lagian kamu anak satu-satunya, masa mereka tidak bisa memberikannya untuk kamu"
"Tidak semudah itu juga kita kembali ke sana, apa kedua orang tuaku bisa menerima kehadiran aku dan kamu lagi" kata Angga.
"Ya walau bagaimanapun kamu tetap anaknya, masa tidak mau menerimanya. Lagian aku ini sedang mengandung anak kamu sebentar lagi melahirkan, butuh biaya banyak"
" Jika kembali ke kota itu, apa kamu sudah siap bertemu dengan Marissa setiap hari di sana "kata Angga.
__ADS_1