
Meskipun merasa terpaksa, Rendra tetap mengantar Marisa dan anak-anaknya untuk pergi ke rumah pak Darmawan.Sebab dia takut terhadap ancaman sang Nenek.
Rendra langsung mengambil mobilnya, lalu mempersilahkan Marisa dan ketiga anaknya untuk segera masuk ke dalam kendaraan. Sebab mereka akan segera berangkat untuk mengunjungi rumah pak Darmawan dan Bu dia, dia menggerutu terus dalam hati dan menyumpahi Marisa.Sebab karena Marisa, sudah membuat kehidupan Rendra tidak tenang. dan selalu harus mengikuti perintah dan perintah dari sang ayah dan Neneknya.
Rendra mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia berharap untuk segera sampai di rumah sang mertua.Sampai saat ini Rendra belum mengetahui bahwa Marisa adalah menantu dari pak Basuki dan Bu Diah bukan anaknya.
Semua orang tidak ada yang berkata bahwa Marissa itu adalah hanyalah menantu.
"Kamu itu mau ngapain sih mau ke rumah Mama terus, mau ngadu ya? "tanya Rendra terhadap Marisa, di sela-sela perjalanan mereka yang sedang berhenti di lampu lalu lintas yang menyala dengan warna merah.
"Aku itu sudah lama tidak mengunjungi Mama, setelah menikah dengan kamu tidak pernah datang ke sana.Setiap hari aku selalu sibuk antar anak ke sekolah ,pergi ke toko bunga kembali ke rumah beres-beres rumah dan menyiapkan seluruh keperluan kamu!" jawab Marissa dengan panjang.
"Terus kamu nggak ikhlas menyiapkan seluruh keperluanku, atau kamu sudah nggak mau jadi istriku?" tanya Rendra terhadap Marissa sambil menatapnya dengan tatapan tajam.
"Ya bukan seperti itu juga, mumpung lagi ada waktu liburan anak-anak wajarlah kalau aku mau ke rumah Mama" jawab Marisa dengan wajah datarnya, dia tidak suka dengan perkataan Rendra yang seperti itu.
"lagian kamu kemarin ngajak pulang dari tempat liburan, akhirnya anak-anak marah dan minta liburan ke tempat lain"kata Marisa lagi, tetapi Rendra tidak menjawab apapun dia masih tetap fokus ke jalanan.Setelah melajukan kendaraannya kembali, dan lampu lalu lintas berpindah ke warna hijau.
__ADS_1
Akhirnya tidak ada percakapan lagi diantara Marisa dan juga Rendra, dia melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Berharap agar segera sampai di rumah mertuanya.
Waktu bergulir begitu cepat hingga akhirnya kendaraan sudah berhenti tepat di halaman rumah Darmawan, dia langsung membuka pintu lalu mempersilahkan Marissa dan ketiga anaknya untuk turun dari dalam kendaraan.
Mereka semua berjalan dengan perlahan untuk segera menuju pintu masuk, Marisa menekan bel rumah tersebut.Lalu setelah beberapa saat pintu sudah terbuka, terlihat dengan jelas bu dia menyambut kedatangan mereka dengan senyum penuh kebahagiaan.
"Cucu-cucu Nenek yang ganteng dan cantik ternyata"kata Bu dia menyambut kedatangan mereka, lalu mempersilakannya untuk segera masuk ke dalam rumah.
Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah, dan duduk di sofa yang ada di ruang tengah. Setelah dipersilahkan oleh Bu Diah.
"Bapak ke mana,Bu? Marisa menanyakan sang Ayah.
"Banyak pesanan juga, Bu, katanya ada pesta pernikahan anaknya pejabat dan bunganya itu diserahkan kepada kita.Jadi alhamdulillah lah untuk bulan ini banyak pesanan "kata Marisa.
"Sekarang toko bunganya semakin maju ya, semenjak dikelola sama kamu dan banyak pelanggan baru juga ya?" tanya Bu dia terhadap Marisa.
"Nggak juga, masih tetap pelanggan yang lama, hanya saja ada beberapa yang baru.Dan pelanggan setia itu yang paling besar pesanannya ya perusahaannya Mas Rendra "jawab Marissa sambil menatap ke arah suaminya.
__ADS_1
"Semoga kalian itu menjadi pasangan yang saling melengkapi dan membuat anak-anak kalian selalu dalam keadaan bahagia "kata Bu Diah.
"Oh iya, Ibu hampir lupa ngambil minum untuk kalian"kata Bu dia sambil bangkit dari duduknya, dia akan mengambil minum untuk Marisa dan keluarga kecilnya.
"Nggak usah,Bu,biar aku aja yang nyiapin, Ibu temenin anak-anak saja di sini sama Mas Rendra" kata Marisa sambil bangkit dari duduknya dan mempersilakan mertuanya untuk duduk kembali menemani anak-anak dan juga suaminya.
Akhirnya Bu Diah pun mendengarkan perkataan dari Marissa, dia duduk kembali dan menemani Rendra dan juga ketika cucunya.
Marisa melangkahkan kakinya ke dapur untuk segera membuatkan minum, untuk suami dan ketiga anaknya.
Marisa sudah kembali dengan membawa nampan yang berisikan beberapa minuman, dia membuat minuman kesukaan Rendra yaitu kopi tanpa gula. sebab lelaki itu suka kopi tetapi tanpa harus menggunakan gula, bagi Rendra gula itu hanyalah sumber penyakit.
Marisa meletakkan cangkir minumnya di atas meja, lalu mempersilakan suaminya untuk meminum dan anak-anaknya juga.
Perbincangan diantara mereka sudah cukup lama hingga sudah memakan waktu dua jam lebih, Rendra sudah memberi isyarat terhadap Marissa bahwa mereka harus pulang.
Akhirnya Marisa dan Rendra pun berpamitan untuk segera pulang.
__ADS_1
Tetapi anak-anak mereka menginginkan pergi ke tempat lain, untuk mengganti liburan mereka yang pulang dengan tiba-tiba.
Dengan terpaksa Rendra menuruti keinginan ketiga anak kecil itu, daripada di adukan kepada sang Nenek dan dia mendapatkan hukuman yaitu dijewer telinganya tidak ada ampun.