Jantung Hati

Jantung Hati
Bohong!


__ADS_3

Tidak terasa waktu berlalu, sudah 2 tahun Putri dan Kei menjalin kasih. Itu artinya, Putri dan Kei akan menghadapi ujian akhir sekolah bersama dan setelah lulus sekolah, mereka akan langsung menikah seperti perjanjian awal dua keluarga.


Sedangkan, Vincent sudah berhasil lulus dengan nilai sangat memuaskan 2 tahun lalu. Ia langsung melanjutkan kuliahnya, ditambah membantu Fajrin di perusahaan, kapan pun ia punya waktu luang di tengah jadwal kuliahnya yang padat.


Vincent ingin secepatnya menyelesaikan kuliahnya agar bisa secepatnya pula bekerja di perusahaan ayahnya itu. Sepertinya, ia menemukan jiwanya di sana karena cukup 2 tahun ia membantu di sana, perusahaan Adhitama itu mengalami peningkatan keuntungan yang signifikan.


"Abang berubah dingin!" begitulah Putri menilai. Tidak ada lagi abang yang selalu memanjakannya dengan perhatian, yang selalu membuatnya tertawa dengan kekonyolannya, yang selalu menemaninya ke mana pun, yang selalu menenangkannya setiap kali Putri menangis.


Walaupun Vincent mengatakan, dia sudah memaafkan Putri 2 tahun yang lalu, tapi keadaannya benar-benar telah berubah, tidak hangat seperti dulu.


"Kuliah sambil bekerja? Sepertinya, abang benar-benar sibuk atau ini cara abang berubah dewasa? Mungkin! Bukankah sejak lulus, dia berhenti jadi playboy. Aku tidak pernah melihat dia berkencan dengan gadis mana pun," ucap batin Putri memikirkan Vincent.


Dewasa? Baiklah, katakanlah seperti itu. Vincent memang sudah dewasa, tapi bukan hanya kata dewasa dan dingin yang pantas disematkan untuknya, tapi juga "kejam".


Ya, dia kejam pada dirinya sendiri, tanpa ampun menghukum dirinya sendiri atas kesalahan yang bukan salahnya, perasaannya!


Setiap hari, Vincent memastikan waktunya habis tanpa bertemu dengan pujaan hatinya, menghukum batinnya untuk melupakan Putri, meskipun ia sangat rindu saat-saat bersama dengannya.


Tidakkah cukup waktu bertahun-tahun yang ia gunakan untuk membunuh perasaannya itu? Tidak! Malah perasaan itu sekarang bukan sekedar rasa suka, tapi tumbuh menjadi cinta yang semakin membuncah, walaupun setiap hari ia menekannya di dalam jiwa yang selalu meronta ingin memilikinya.


Tapi kenyataannya, Vincent tetap harus merelakannya dengan ikhlas, cintanya memang tidak akan pernah terwujud karena sebentar lagi sang pujaan akan menikah dengan sahabatnya sendiri.


***


"Sayang, kau jahat!" ucap Kei manja. "Ayolah! Hanya sampai ujian selesai," bujuk Putri berusaha tegas. "Tidak bisa! Aku tidak sanggup! Kau tahu 'kan, aku tidak bisa jauh darimu," rengek Kei dengan imut.


"Kita 'kan masih bisa bertemu setiap hari di sekolah, kecuali hari minggu. Lagipula, ujiannya hanya 2 minggu, tidak lama. Kau mau 'kan, sayang? Ya? Mau, ya? Please... " rayu Putri dengan manja bergelayut di lengan Kei.


Kei menghela nafas panjang. Ia memang tidak akan sanggup menolak permintaan Putri, apalagi jika gadisnya itu mulai manja seperti ini, "Baiklah, aku akan fokus belajar dan tidak akan mengganggumu belajar," ucapnya dengan memasang ekspresi terpaksa di wajahnya yang semakin tampan setiap harinya.


Putri tersenyum melihat wajah Kei, "Sekarang pulanglah," pintanya seraya mendorong punggung lebar Kei ke arah mobilnya yang terparkir di halaman rumah Adhitama.


"Kenapa sayang mengusirku?" protes Kei seraya kembali memutar tubuhnya. "Bukankah sekarang waktunya belajar?" jawab Putri yang memandang tajam Jungkook.


"Baiklah, aku pulang, tapi tunggu, aku punya sesuatu untuk sayang," ucap Kei seraya membuka pintu mobilnya.


Mata Putri berbinar saat melihat boneka cooky kesukaannya dengan ukuran yang besar. Ia sudah mengoleksi boneka itu sejak setahun terakhir ini, karena menurutnya boneka kelinci berwarna pink itu mirip dengan kekasihnya ini.


"Ini. Kau belum punya yang besar, 'kan?" ucap Kei seraya menyerahkan boneka itu pada Putri. "Terima kasih. Sayang, kau memang yang terbaik! Ah, lucunya!" ucap Putri yang langsung memeluk cooky.

__ADS_1


"Ehm! Apa hanya cooky yang mendapatkan pelukan?" sindir Kei yang menyandarkan tubuh tingginya di samping mobil. Putri yang mengerti maksudnya pun memanyunkan bibirnya, "Kemarilah!" ujarnya seraya membentangkan tangannya.


Kei tersenyum dan memeluk kekasihnya itu. "Sini, berikan tanganmu!" pinta Kei. "Ada apa?" tanya Putri yang menurut mengulurkan tangannya.


Kei mengecup lembut punggung tangan itu, "Aku mengerti ujian ini penting untuk kita dan aku berjanji tidak akan mengganggu sayang belajar, tapi kapan pun sayang membutuhkanku, aku akan selalu datang dan aku pasti akan selalu merindukanmu. Jadi, yang semangat ya, belajarnya!" ucapnya.


"Terima kasih, sayang selalu pengertian," ucap Putri seraya menatap lembut Kei yang tersenyum tampan di depannya. Dua orang itu saling tatap dan melempar senyuman, tanpa ada yang bisa membaca pikiran masing-masing.


"Apa sekarang, aku sudah terlihat dewasa? Bagiku, bertemu setiap hari saja rasanya kurang. Apa Putri tidak merasakan hal yang sama? Apa aku terlalu memaksa? Tunggu, bagaimana kalau dalam 2 minggu Putri melupakanku?" pikir Kei.


"Apa aku berlebihan, ya? Mungkin, seharusnya aku tidak memintanya seperti tadi? Apa aku bisa, tidak menghubunginya dalam sehari? Apa aku bisa tidak mempedulikannya? Aku bodoh! Aku pasti akan merindukannya," pikir Putri juga.


***


Akhirnya, hari ini ujian telah berakhir. Saat jam pulang sekolah, Kei meminta Putri lebih dulu menunggunya di mobil karena ia harus menyelesaikan ujian susulan akibat izin sakitnya selama waktu ujian.


Sesudah menyelesaikannya, Kei pun kembali menuju mobilnya. "Apa dia tertidur lagi?" kata Kei menghampiri Putri yang lagi-lagi tertidur di dalam mobilnya. Karena gemas, Kei lantas menyentil bibir Putri untuk membangunkannya.


Putri pun langsung terbangun dan meringis kesakitan, "Aaah, sakit!" ucapnya seraya menutupi bibirnya dengan tangannya.


"Apa itu sakit? Sayang, maaf! Aku tidak bermaksud menyakitimu," ucap Kei panik, niatnya hanya bercanda tapi malah membuat Putri kesakitan, "sini, biar aku lihat," ucapnya seraya meraih wajah Putri.


"Sayang, kenapa wajahmu juga memerah?" tanya Kei bingung, tapi Putri malah menutup kembali bibirnya dengan tangannya dan tidak bisa menyembunyikan wajah putihnya yang semakin memerah.


Kei terkejut melihatnya, tapi sesaat kemudian ia tersenyum evil, "Memangnya apa yang sayang pikirkan?" ucapnya seraya meraih tangan Putri yang menutupi bibirnya.


"Tidak ada!" jawab Putri cepat. "Lalu, kenapa wajah sayang merah? Hmm?" goda Kei dengan sengaja meletakkan tangan Putri di bibirnya. Dengan sengaja, Kei mengecup jari itu.


Glup! "Tidak. A-aku hanya... " ucap Putri mulai panik dan serba salah. "Merindukan bibirku?" sambung Kei membelai lembut pipi Putri. "Ti- ... " belum sempat Putri menjawab, Kei sudah menyambar bibir pink Putri yang sudah dirindukannya selama 2 minggu ini.


Putri membeku bukan hanya karena Kei yang mencium bibirnya dengan ganas, tapi karena tangan Kei yang perlahan membuka resleting jaket yang Putri pakai.


Tapi, tiba-tiba saja Kei menghentikan ciumannya, lalu tertawa keras. "Sayang, tenanglah! Aku hanya menggodamu saja. Lihatlah, wajah tegang sayang itu!" ucap Kei, "Sayang, kau berkeringat dingin. Sepertinya, kau kepanasan, makanya aku bantu kau membuka jaketmu," lanjutnya di sela-sela tawanya.


"Bohong!" kata Putri menatap tajam Kei. Kei menghentikan tawanya dan tersenyum, "Tenanglah! Sudah aku bilang, aku tidak akan melakukannya, jika sayang tidak mau," ucapnya seraya mengelus kepala Putri dengan tangannya sambil tersenyum. Putri pun tersenyum mendengarnya, lalu ia mencium pipi Kei, "Terima kasih," katanya.


***


Beberapa hari setelah acara kelulusan sekolah, "Sayang, aku di depan rumahmu. Bisa kah kau keluar sebentar? Aku malas masuk ke dalam." Putri baru selesai mandi saat ia membaca chat dari Kei itu. Lantas, ia pun bergegas keluar menemuinya.

__ADS_1


Kei terpaku melihat Putri yang datang dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Karena Putri yang berniat ingin tidur lebih awal, ia pun hanya mengenakan baju tidur dari bahan kaos ketat yang menempel pas di lekuk tubuhnya dan celana pendek super mini sebagai pasangannya. Ditambah rambut panjangnya yang masih tergerai basah, menambah kesan seksi di mata seorang Kei Alexis Dexter.


"Maaf, lama. Aku baru selesai mandi, tadinya aku pikir mau langsung tidur. Aku juga belum sempat mengeringkan rambutku," ucap Putri sambil memainkan rambutnya yang basah, tapi tidak ada sahutan dari Kei.


"Sayang? Kau kenapa?" tanya Putri yang baru menyadari Kei yang dari tadi hanya diam menatapnya. "Apa?" sahut Kei tampak terkejut saat Putri menepuk lengannya. "Apa ada masalah? Sayang seperti sedang banyak pikiran?" tanya Putri polos.


Kei langsung memalingkan wajahnya, ia memijit pangkal hidung mancungnya, "Baiklah, aku memang sedang banyak pikiran. Jadi, dari pada aku terus memikirkannya, lebih baik aku langsung bertanya saja," ujar Kei yang membuat Putri bingung.


"Jadi, apa sayang sengaja menggodaku dengan berpakaian seperti ini?" tanya Kei langsung. "Sayang, apa yang kau bicarakan? Aku memang seperti ini kalau mau tidur," bantah Putri.


Kei mendekati Putri dan meraih rambut basah Putri. "Rambut yang basah, wangi shampo dan sabun yang segar, kaos yang ketat dan celana pendek?" kata Kei seraya menghirup wangi shampoo yang menyeruak dari rambut Putri.


"Meskipun aku berjanji tidak akan melakukannya, tapi aku juga masih normal, sayang. Kau benar-benar membuatku tidak tahan!" lanjut Kei seraya memeluk Putri dengan gemas.


"Oh... tapi bagus 'kan? Lebih baik harum dari pada bau keringat," ucap Putri yang terlalu polos. Putri pikir yang dimaksud Kei adalah tidak tahan untuk memeluknya karena ia harum setelah mandi.


"Apa sayang serius? Apa sayang tidak mengerti maksudku?" tanya Kei frustasi dan melepaskan pelukannya, sedangkan Putri yang memang tidak mengerti, hanya menggeleng dan membuat Kei cemberut.


"Lain kali, keringkanlah dulu rambutmu dan jangan pakai baju seseksi itu di depanku, apalagi laki-laki lain! Oke, aku tidak apa-apa! Kali ini, aku juga akan menahannya! Ayo, kita jalan-jalan! Pakai sabuk pengamanmu! Rambut basah? Hah! Konyol!" ucap Kei dengan emosi.


"Ada apa dengannya? Kenapa dia jadi marah-marah seperti ini? Memangnya, aku sudah salah apa?" tanya Putri yang masih tidak mengerti sama sekali.


***


Sepulangnya dari jalan-jalan, Kei menepikan mobilnya di halaman kediaman Adhitama saat Putri berucap, "Sayang, lihatlah rambutku sudah kering!" seraya menunjukan rambut panjangnya pada Kei.


"Hmm, baguslah! Hasratku juga sudah mengering!" sarkas Kei pelan. "Hah? Sayang bilang apa?" tanya Putri yang tidak mendengar perkataan Kei.


"Tidak ada. Omong-omong, apa rencanamu untuk minggu depan?" sahut Kei malas. "Maksudnya?" tanya Putri. "Aku ingin membuka kamar di hotel milik papah untuk kita, bagaimana?" ucap Kei santai. "Hotel? Untuk apa?" tanya Putri dengan muka memerah.


"Sayang, wajahmu merah lagi! Sayang demam, ya?" tanya Kei seraya menyentuh dahi Putri. "Bu-bukan. Aku kepanasan," jawab Putri sedikit panik.


"Kepanasan karena mendengar kata hotel?" goda Kei dengan senyum nakalnya. "Sayang! Kau tidak berniat yang aneh-aneh, 'kan?" tanya Putri tampak semakin panik.


"Kau yang berpikiran aneh-aneh. Aku hanya membuka kamar di hotel untuk makan malam denganmu, merayakan anniversary kita. Lagipula, besok harinya 'kan pesta lamaran kita. Aku tidak akan membuatmu bermalam atau apa pun itu," jawab Kei seraya terkekeh, "atau sayang mengharapkan yang lain? Sayang, ternyata kau lebih parah dariku!" goda Kei.


"Ah, hentikan!" kata Putri yang malu dan hanya bisa memukul-mukul lengan berotot Kei. "Ayolah, katakan padaku! Jangan bohong! Apa rencanamu, say? Aku jadi berharap sesuatu darimu," goda Kei lagi.


"Aku bilang hentikan!" ucap Putri kesal. "Aku serius!" ucap Kei tertawa. "Bagaimana kalau kita merencanakannya bersama? Sesuatu yang aneh-aneh, misalnya!" goda Kei lagi seraya menaik-naikan alis tebalnya.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak akan pergi!" teriak Putri seraya keluar dari mobil Kei dan meninggalkan tunangannya itu, masuk ke rumahnya. Kali ini, Kei benar-benar puas menggoda tunangan polosnya itu.


__ADS_2