Jantung Hati

Jantung Hati
Jangan!


__ADS_3

Kei memacu "Lamborghini Veneno Roadster" merah kesayangannya. Membelah keheningan jalan dengan deru mesinnya. Membawa Putri pergi menjauh dari Vincent dengan segala rasa sesalnya yang menyesakan dada.


"Dulu, aku mengalah dan pergi, membiarkan kau merebutnya dariku. Hanya satu pintaku, bahagiakan ia, tapi apa yang kau lakukan?" kata Kei dalam hati seraya meremas kuat setir mobilnya.


Hingga mobil itu sampai dan terparkir di sebuah villa mewah milik Kei yang baru saja ia beli. Entah di mana letak villa mewah ini, hanya Kei yang tahu, bahkan Sasa pun belum mengetahuinya. Begitu pula, Putri yang datang dalam keadaan tertidur.


Lama, Kei memandang wajah terlelap Putri sambil merebahkan kepalanya di atas setir mobilnya, "Cantik!" ucapnya seraya tersenyum tipis, "kau selalu cantik, Put. Jadi, kumohon berhentilah menangis karena kau lebih cantik saat tersenyum," katanya pelan.


Setelah puas memandang, Kei pun turun dari mobilnya. Ia berputar menuju pintu di mana Putri duduk, lalu membukanya untuk mengangkat Putri tanpa membangunkannya.


Kei pun mendekat kearah Putri, semakin dekat dan sangat dekat, bahkan hembusan nafasnya sampai terasa di wajah Putri dan saat tangannya meraih seatbelt untuk melepaskannya, Putri tiba-tiba bergerak memalingkan wajahnya menghadap Kei.


Cupp! Bibir keduanya bersentuhan. Kei membeku dengan manik membulat, tapi sesaat kemudian dengan cepat ia menjauhkan wajahnya seraya menarik seatbelt-nya. Ia khawatir Putri terbangun karena ciuman sekilas tadi. Merasa Putri masih terlelap, ia pun menggendongnya ke dalam.


***


Dengan perlahan, Kei merebahkan tubuh Putri di atas ranjangnya. Sayangnya, hanya ada satu kamar di villa ini. Setelah Kei mematikan lampu kamarnya dan beranjak keluar meninggalkan Putri seorang diri di kamar itu, ia lebih memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya di sofa ruang tengah.


Sudah 1 jam, Kei merebahkan tubuhnya di sofa itu, mencoba memejamkan matanya, tapi nihil. Bayangan saat bibir mereka bertemu tadi selalu berputar ulang di benaknya.


Jika boleh jujur, Kei sangat merindukan manis bibir strawberry yang pernah jadi miliknya itu. Bibir yang sudah jadi candu untuknya sejak pertama kali ia mengecapnya.


Kei beranjak pergi ke dapur, mengambil beberapa kaleng bir di lemari pendingin untuk ia minum menemani kegelisahan hatinya saat ini.


Kei kembali ke ruang tengah, menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke atas sofa panjang itu. Lagi dan lagi, ia menghela nafas panjang sambil meneguk kaleng demi kaleng bir yang ada di hadapannya. Ia sadar ini tidak baik untuk kesehatannya, tapi untuk saat ini, ia sangat membutuhkannya.

__ADS_1


Kei tengah memandang kumpulan foto yang terpajang di depannya, foto pernikahannya dan Putri. "Aku mencintaimu, Put. Sangat mencintaimu, bahkan sampai aku mati nanti, cintaku tidak akan pernah berubah, hanya untukmu," ucapnya seraya menyandarkan kepalanya di sofa.


Kei pun kembali berusaha memejamkan kedua matanya, tapi sesaat kemudian, kedua manik bulat itu membuka kembali saat telinganya menangkap sebuah suara dari arah belakangnya. Sontak, ia pun menolehkan wajah tampannya. Kei terkejut melihat Putri yang sudah berdiri di tangga yang ada di belakangnya, turut memandang sayu ke arah foto mereka berdua.


Tanpa Kei sadari, Putri sudah mendengar semua pengakuannya tadi dan entah mengapa ada rasa getir sekaligus hangat yang menyusup dan menjalar di hati Putri saat mendengarnya, "Jika benar kau masih mencintaiku, lalu kenapa dulu kau meninggalkanku?" hati Putri pun bertanya-tanya.


"Shit!" rutuk Kei seraya memalingkan wajahnya, "seharusnya aku tidak membawanya ke sini! Kenapa juga aku memasang foto-foto ini di sini!" sesalnya. Kei masih memalingkan wajahnya tanpa mau menatap Putri.


Tanpa sepatah kata pun, Putri langsung menuruni tangga dan duduk di sampingnya, meraih sekaleng bir dan meminumnya dengan rakus. "Hei! Apa yang kau lakukan!" ucap Kei seraya menatap tajam Putri. "Membantumu menghabiskannya," jawab Putri santai.


"Hentikan!" kata Kei yang berusaha merebut kaleng bir itu dari tangan Putri, "sejak kapan kau bisa minum alkohol, hah?" lanjutnya, tapi tangannya yang masih berusaha meraih kaleng bir itu terhenti saat mendengar jawaban Putri, "Saat kau pergi meninggalkanku," dengan datar.


Kei menarik tangannya dan mengepalkannya, "Maaf..." lirihnya seraya menundukan kepalanya. Putri tersenyum menatapnya seraya berkata, "Tidak apa-apa. Itu sudah lama berlalu, bahkan jika saat ini kau mengatakan apa alasanmu, itu tidak akan mengubah apapun yang sudah terjadi."


Selanjutnya, hanya ada keheningan di antara kedua insan yang bibirnya terasa kelu itu. Putri yang larut dalam kecamuk laranya dan Kei yang memilih membungkam mulutnya. Kini, yang terdengar hanya suara tegukan dan rintihan hati dari dua hati yang galau antara mengakhiri atau memulai lagi.


"Apa kau ingin tidur?" tanya Kei. Putri pun menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Kei, "Ah, akhirnya kau bicara juga! Aku pikir kau mendadak bisu," ucapnya seraya terkekeh, tapi lagi-lagi Kei hanya diam, menatap lekat ke arah Putri.


Putri yang melihatnya pun memanyunkan bibirnya kesal dan menghentakkan kakinya saat berbalik. Awalnya, ia berniat kembali ke kamar, tapi atensinya tiba-tiba tertuju pada pintu kaca yang mengarah ke taman. Di luar sedang hujan deras dan entah kenapa saat melihatnya, Putri jadi ingin sekali bermain air hujan.


Dengan langkah sempoyongan, Putri sampai di pintu kaca itu dan membukanya. Putri berjalan selangkah demi selangkah sampai ia merasakan air hujan yang mengenai wajahnya.


Kemudian, Putri merentangkan kedua tangannya, memejamkan matanya, menikmati setiap tetesan air hujan yang menghujam tubuhnya, seperti membasuh semua lara yang tercipta dan menghanyutkan semua rasa sakit yang tersisa.


"Astaga, Put! Apa yang kau...?" ucap Kei yang terpotong. Ia tertegun dengan hal yang Putri lakukan. Di taman itu, di bawah guyuran hujan, wanita pujaannya itu menari dengan indahnya, tidak peduli dengan rasa dingin yang menusuk tubuhnya karena saat ini bukan hanya tubuhnya yang kedinginan, tapi hati, jiwa dan cintanya lebih dulu membeku. Hati yang menyerah, jiwa yang sakit dan rasa yang telah mati.

__ADS_1


Untuk kesekian kalinya, Kei terpesona memandang Putri, tapi sungguh Kei sadar selain air hujan yang membasahi wajah cantiknya, ada air matanya di situ, sekalipun ia tersenyum cantik saat ini.


Tanpa Kei sadari, kakinya melangkah mendekati Putri, "Kenapa wanita ini selalu membuatku ingin memeluknya?" ucap batinnya, tapi saat ia hampir sampai, ia menghentikan langkahnya dengan cepat.


Putri yang melihat Kei mendekat, malah berlari ke arahnya dan saat Kei menghentikan langkahnya, Putri memeluk tubuh kekar itu. Entah kegilaan apa lagi yang akan ia lakukan kali ini.


Tidak ada reaksi, tubuh kekar itu diam mematung, hanya wajah tampannya yang ia palingkan. Putri melepaskan pelukannya. Lantas, ia menangkup wajah Kei agar menghadap padanya. "Apa Kak Kei marah?" tanyanya dengan imut.


"Masuklah, nanti kau sakit!" jawab Kei datar, kembali memalingkan wajahnya. Bukannya menurut, Putri malah menyandarkan kepalanya di dada bidang itu, "Biarkan seperti ini sebentar saja," ucapnya seraya melingkarkan tangannya di pinggang Kei.


"Putri, hentikan!" bentak Kei dan melepaskan tangan Putri. Putri menatapnya kesal, "Kenapa?" bentaknya juga. "Apa kau sengaja menyiksaku?" ucap Kei frustasi seraya menaikan rambutnya yang mulai basah dan kembali memalingkan wajahnya.


"Apa maksudmu?" tanya Putri yang tidak mengerti. Kei menyapu kasar wajahnya, "Aku sudah menahannya selama ini. Jadi, tolong jangan sekali pun mencoba memancingnya!" ucapnya geram.


"Apa! Menahan apa? Apa yang kau tahan? Apa maksudmu memancing? Apa yang kau bicarakan ini? Aku tidak mengerti maksudmu dan kenapa kau marah padaku! Memangnya, aku sudah melakukan kesalahan apa, hah! Apa kau mabuk atau karena aku mabuk, kau bisa memarahiku seperti ini!" Putri yang mabuk mengomel saking kesalnya.


"Apa kau pikir aku bukan pria normal, hah!" sela Kei yang langsung membuat Putri terdiam. Kei menghela nafasnya panjang, mencoba mengontrol emosinya, "Sudahlah, lebih baik sekarang kau masuk dan cepat ganti bajumu itu. Pakai saja bajuku di kamar!" lanjutnya, tapi Putri hanya diam menatap tajam ke arahnya.


Kei menggertakan giginya melihat Putri yang tidak bergeming, "Aarrgh, terserah kau saja!" ucapnya seraya membalikan badan. Grepp! "Jangan pergi!" ucap Putri lirih seraya memeluknya dari belakang.


Untuk sesaat, Kei terdiam dan dengan mata terpejam ia mengepalkan kedua tangannya, "Hentikan, Put! Jangan membuatku melewati batas!" ucapnya dengan suara bergetar.


Sungguh, Kei sudah menahannya selama ini, untuk tidak menyentuhnya. Tapi hari ini, Putri benar-benar sudah membuatnya frustasi menahan gejolak hasrat dalam dirinya.


Bagaimana tidak? Tanpa Putri sadari, saat di mobil tanpa sengaja ia mencium bibir Kei. Lalu, saat Kei membaringkannya di kamarnya, tanpa sengaja bagian bawah dress Putri tersingkap, menampilkan paha putih mulus milik seorang Putri yang berhasil membuat seorang Kei Alexis Dexter menelan kasar saliva-nya.

__ADS_1


Dan sekarang, lagi-lagi tanpa sengaja, dress berwarna putih yang sedang Putri kenakan berubah menjadi transparan akibat basah oleh guyuran hujan, membuat Kei seketika menghentikan langkahnya.


Hal yang membuat Kei memalingkan wajahnya saat menyadari dress basah putih transparan yang melekat sempurna, menampilkan seluruh lekuk tubuh indah mantan istrinya itu dengan sepasang pakaian dalam berwarna putih yang samar-samar terlihat, ditambah sekujur tubuhnya yang basah, membuatnya terlihat seksi dan begitu menggoda di mata Kei. "Sungguh, ketidaksengajaan yang begitu menyiksanya!" pikirnya.


__ADS_2