
Tuk... Tuk... Tuk... Vincent mengetuk-ketukan jarinya di atas meja kerjanya, sedangkan Arjuna yang berdiri di hadapannya hanya diam memperhatikan atasannya itu yang hari ini terlihat kesal sejak pagi.
"Aku sudah melamarnya, tapi kenapa dua hari ini Putri seperti mendiamiku? Di rumah pun dia selalu menghindariku. Apa hanya perasaanku saja? Aku merasa ada yang janggal. Dia seperti marah padaku, tapi aku tidak ingat aku sudah melakukan kesalahan," curhat Vincent pada asisten pribadinya itu.
Arjuna mendadak tampak serba salah dan Vincent yang menangkap gelagat mencurigakan Arjuna pun, menatap asitennya itu penuh telisik. "Apa ada yang kau tahu?" tanya Vincent dengan nada datar dan wajah dinginnya.
Arjuna memasang senyum terpaksa, tapi tidak mengatakan apa-apa, membuat Vincent semakin curiga. "Pasti Putri yang menyuruhnya tutup mulut!" pikir Vincent.
"Jun, kuberi kau cuti satu hari jika kau mau mengatakannya!" pancing Vincent. Arjuna yang selalu sibuk dengan jam kerjanya sebagai asisten pribadi pun tersenyum mendengarnya, seperti sedang mendapat bonus akhir tahun dari atasannya.
"I-itu... Dua hari yang lalu, saat Anda tidak ada di kantor, ada seorang wanita yang mencari Anda ke sini dan Putri yang menerimanya. Katanya, dia mantan pacar Anda," jawab Arjuna.
"Mantan? Siapa?" tanya Vincent seraya mengerutkan keningnya, "mantan yang mana? Bukannya aku sudah lama tidak pacaran?" pikirnya.
"Maaf. Saya tidak tahu siapa namanya, tapi wajahnya agak mirip dengan Putri," jawab Arjuna. "Apa kau tahu mereka bicara apa?" tanya Vincent yang sudah mulai khawatir dengan wajahnya yang turut menegang.
"Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan sebenarnya saat itu, tapi saya sempat mendengar kata... maaf... ran... jang..." jawab Arjuna dengan ragu di akhir kalimat.
Vincent pun membeku mendengarnya. Ia bergegas keluar dari ruangan kerjanya untuk menemui Putri, tapi Putri tidak ada di meja kerjanya. Ia lantas mencoba menghubungi ponselnya, tapi ternyata Putri juga meninggalkan ponselnya di atas meja kerjanya.
Vincent pun mencari Putri. Ia merasa, harus mendengarnya langsung dari Putri, apa yang dibicarakannya dengan mantannya itu. Jika mantannya yang Arjuna maksud itu berwajah mirip dengan Putri, maka pembicaraan mereka pasti bukan sebuah candaan.
Akhirnya, Vincent menemukannya. Putri sedang menyeduh teh di pantry, ia tampak seorang diri. Vincent pun menutup pintu pantry dan menguncinya dari dalam. "Ada apa? Kenapa pintunya dikunci? Apa ada yang ingin abang bicarakan?" tanya Putri santai melanjutkan mengaduk tehnya.
"Bukan aku, tapi sepertinya kau yang harus bicara denganku. Ada apa denganmu 2 hari ini?" tanya Vincent lembut. Putri berhenti mengaduk tehnya, "Tidak ada," jawabnya singkat.
Vincent meraih kedua tangan Putri dan menggenggamnya lembut, "Kata Arjuna, kau bertemu dengan mantan pacarku. Apa dia mengatakan sesuatu yang menyakitimu?" tanya Vincent langsung.
"Bukan apa-apa. Tidak usah dipikirkan! Aku mau kembali ke ruangan dulu," jawab Putri datar. "Sayang!" panggil Vincent seraya meraih dagu Putri dengan jarinya, "jangan menutupinya! Kau terlihat sedih," lanjut Vincent menatap sayu wajah Putri.
"Kenapa kau bersikap seperti ini? Aku lebih senang jika kau cemburu. Benarkah tidak ada yang ingin kau katakan? Jujurlah!" tanya Vincent lagi dengan begitu lembut. "I-itu 'kan hanya masa lalu... bukan salah kalian... jika saat berpacaran kalian melakukannya... " ucap Putri ragu.
__ADS_1
"Hah! Me-memangnya, a-apa yang dia katakan?" tanya Vincent gagap. "Katanya, abang sangat memuaskannya di ranjang. Jadi, dia selalu menangis merindukan bercinta dengan abang!" jawab Putri seraya memalingkan wajahnya tidak berani menatap mata Vincent.
Tiba-tiba, tubuh Vincent terasa kaku mendengarnya, "Apa! Apa yang harus aku katakan sekarang? Aku seperti tertangkap basah sedang melakukan kejahatan. Apa ini rasanya, tertangkap basah berselingkuh!" pikirnya.
"Awalnya, aku hanya mencoba mengerti karena abang lebih tua dariku dan sudah sering pacaran sebelum bersamaku, tapi semakin lama aku semakin kesal memikirkannya," gerutu Putri.
"Karena walaupun statusku janda, aku belum pernah melakukannya, tapi abang sudah melakukannya dengan wanita lain yang bukan istri abang! Aku jadi kesal sendiri!" lanjut Putri sambil menahan air matanya.
"Hei, menangislah! Kau boleh menangis, tidak usah ditahan. Kau tidak perlu berlagak baik-baik saja. A-apa yang harus aku katakan? A-aku memang sudah sering pacaran, aku juga playboy, aku akui itu, tapi itu karena aku menjadikan mereka sebagai pelarianku karena kaulah wanita yang aku cintai dari awal," ucap Vincent berusaha menyakinkan Putri.
"Bohong!" ucap Putri datar seraya memundurkan langkahnya. "Aku bersumpah! Mereka hanya pelampiasanku saja karena saat itu aku tidak bisa menyatakan perasaanku padamu, bahkan apa kau sadar, wajah mantanku itu mirip denganmu? Aku hanya menjadikannya pelampiasanku, sungguh! Ayolah, sayang, jangan marah! Aku minta maaf, ya?" bujuk Vincent yang mulai panik.
"Tidak. Aku tidak marah, tapi maaf, aku sedang sibuk sekarang," sahut Putri hendak berlalu. "Bohong! Kau hanya ingin menghindariku, 'kan? Pasti kau marah. Aku harus apa supaya kau berhenti marah?" tanya Vincent sampai berlutut di hadapan Putri untuk merayu wanita yang dicintainya itu.
"Sepertinya, aku memang tidak cocok untuk abang. Dia pasti lebih dewasa dibandingkan aku dan bisa memuaskan abang, bahkan abang selalu menghindari kontak fisik denganku, 'kan! Sampai aku berpikir, apa benar abang benar-benar ingin menikah denganku?" lirih Putri sendu.
"Apa? Apa yang kau bicarakan ini? Tunggu dulu! Bukan seperti itu maksudku," ucap Vincent seraya memijit keningnya karena ternyata Putri sudah salah paham dengan sikapnya yang menjaga jarak dengannya.
"Hah!" Putri terkejut mendengar perkataan Vincent itu. "Kenapa diam? Apa benar begitu? Kau ingin membatalkan pernikahan kita hanya karena masalah ini?" tanya Vincent lagi dengan dingin, "atau kau ingin aku kembali dengan mantanku itu jadi kau bersikap seperti ini? Kau tidak percaya diri atau tidak percaya padaku?" lanjutnya.
"Bukan! Bukan itu maksudku," kata Putri dalam hati. "Aku bisa memberikan dan mengabulkan apa pun yang kau inginkan, tapi kalau membatalkan pernikahan, aku tidak akan mengabulkannya!" tekan Vincent tegas dengan wajah yang menakutkan.
Putri mulai merasa takut melihatnya. Ia seperti tidak pernah melihat sisi Vincent yang seperti ini. Putri tiba-tiba saja teringat kejadian terakhir ia bertengkar dengan Kei di bandara, setelahnya Kei pergi meninggalkannya.
"Apa itu yang kau inginkan? Benar, 'kan? Kenapa kau diam saja? Kau takut? Kau takut untuk menikah lagi?" kata Vincent semakin memojokkan Putri. "Ma-maaf..." sahut Putri dengan tubuh yang mulai gemetar.
"Jangan minta maaf! Aku benar-benar mencintaimu. Kenapa kau selalu berpikir ingin menghindariku!" bentak Vincent dengan keras dan Putri pun semakin ketakutan, tubuhnya bergetar hebat dan mulai menangis.
Vincent tersadar, ia sudah membuat kekasihnya ketakutan, "Jangan menangis, aku mohon..." ucapnya pelan seraya tangannya berusaha menyentuh pipi Putri untuk menghapus air matanya.
Putri yang sudah merasa takut, reflek menepis tangan Vincent. "Kau tidak ingin aku sentuh?" tanya Vincent shock. Putri hanya memejamkan matanya. Vincent diam menunggu Putri agak tenang.
__ADS_1
Vincent menghela nafasnya kasar, "Sebenarnya apa maumu?" tanyanya mulai berdiri, "apa kau tetap tidak mau bicara?" tanyanya lagi. "Bagaimana ini? Aku harus bilang apa? Aku tidak bisa bicara saking takutnya. Aku takut kalau kita benar-benar berpisah. Aku takut kau juga meninggalkanku seperti dia!" pikir Putri membatin.
"Baiklah, terserah kau saja! Hubungi aku jika kau sudah merasa tenang!" ucap Vincent seraya berjalan meninggalkan pantry. "Jangan! Jangan pergi!" rasanya ingin sekali Putri berteriak seperti itu, tapi lidahnya mendadak terasa kelu.
"Aku harus menahannya! Aku harus mengatakan padanya, jangan pergi! Aku tidak mengizinkannya meninggalkanku. Aku tidak bermaksud berpisah. Aku hanya ingin bermanja dengannya. Kenapa dia tidak mengerti? Aku hanya ingin dia merayuku karena aku cemburu dan kesal," pikir Putri.
"Kenapa dia malah semarah itu? Kenapa aku seperti ini? Kenapa rasanya hatiku sakit sekali, sampai-sampai dadaku terasa sesak. Kenapa aku cuma diam dan menangis? Bagaimana jika dia benar-benar meninggalkanku? Tidak! Aku harus mengejarnya sebelum dia benar-benar menghilang seperti Kei!" pikir Putri yang lantas berlari ke arah pintu. Cekrek!
"Kenapa lama sekali? Seharusnya, kau langsung menahanku tadi!" ucap Vincent yang berdiri tepat di depan pintu pantry, "apa kau benar-benar berniat membiarkanku pergi?" tambahnya.
Putri berlari menghambur ke pelukan Vincent, bahkan ia tidak peduli dengan para karyawan yang menonton adegan romantis mereka berdua. Ia hanya memeluk erat Vincent seolah tidak akan pernah membiarkan pria itu pergi meninggalkannya.
"Lain kali, katakan saja, apa pun yang kau pikirkan! Jangan memendamnya sendiri! Lebih baik bertengkar sampai maslah selesai, dari pada bertengkar karena kesalahpahaman," pinta Vincent membalas pelukan Putri.
"Kenapa abang marah! Seharusnya, aku yang marah! Aku cemburu! Aku kesal! Aku juga marah! Abang milikku! Hanya milikku!" rengek Putri manja sambil menangis di pelukan Vincent.
"Aku minta maaf karena sudah marah padamu. Aku tidak akan melakukannya lagi. Iya, aku milikmu," balas Vincent yang mengelus kepala Putri. "Aku kesal! Kenapa abang tidur dengan wanita lain? Kenapa bukan aku yang pertama!" kata Putri masih merengek seperti anak kecil, bahkan ia menghentak-hentakan kakinya.
"Maaf, aku tidak tahu jika pada akhirnya kau akan menerima perasaanku. Aku yang salah," sahut Vincent yang tersenyum mendengarnya. "Aku takut, abang juga meninggalkanku. Kumohon, jangan pernah tinggalkan aku," pinta Putri semakin mengeratkan pelukannya.
"Iya. Iya. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku bersumpah!" ucap Vincent seraya mengecup pucuk kepala Putri. Putri semakin mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di dada Vincent.
"Apa sesulit ini kau mengatakan semua yang ada di dalam hatimu ini? Aku menunggumu keluar seperti sedang menunggu hukuman mati, sampai aku berpikir lebih baik aku mati kalau kau benar-benar membatalkan pernikahan kita," kata Vincent sendu.
"Kenapa abang bicara seperti itu?" sahut Putri melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah Vincent dengan tangannya, "aku tidak ingin abang bicara tentang kematian atau perpisahan!" larangnya seraya mengecup bibir Vincent. "Kalau tidak, aku akan marah lagi!" lanjutnya.
Tiba-tiba, dua insan ini baru terbangun dari dunia asmaranya, saat terdengar riuh tepuk tangan para karyawan yang menyaksikan adegan ciuman mesra atasan mereka itu, bahkan ada pula suara siulan yang mengiringinya, membuat mereka berdua saling menyembunyikan wajahnya.
Vincent akhirnya, menarik tangan Putri menuju ruangannya, sedangkan Putri hanya bisa mengikutinya dengan wajah yang tertunduk malu.
Vincent tersenyum, "Put, kau adalah satu-satunya wanita yang aku cintai. Dari sekian wanita yang pernah kumiliki, hanya kau yang bisa membuatku berdebar, juga satu-satunya yang berhasil membuatku cemburu," kata Vincent dalam hati.
__ADS_1
"Aku juga pertama kali ini, merasa tidak sanggup berpisah. Sebelumnya, aku tidak pernah segelisah ini ingin menyentuh wanita mana pun, hanya kau yang berhasil menyiksa hasratku. Aku tidak pernah menginginkan wanita sampai separah ini. Aku mencintaimu, Put. Sekarang, keinginanku hanya satu, menghabiskan hidupku bersamamu."