
"Aku ingin pernikahan kami dimajukan," kata Vincent, saat semuanya berkumpul di meja makan. Tidak ada angin, tidak ada badai, pernikahan yang rencananya akan dilaksanakan empat bulan lagi, mendadak harus dimajukan.
"Kenapa harus dimajukan?" tanya Tuan Adhitama pada putranya itu. "Kenapa mendadak seperti ini? Apa terjadi sesuatu?" tanya Nyonya Adhitama yang turut bingung.
Tuan dan Nyonya Adhitama pun saling pandang, lalu pandangan mereka beralih ke Putri yang hanya diam menatap Vincent dengan heran. Pasalnya, Putri sendiri tidak tahu alasan Vincent memajukan hari pernikahan mereka.
Tiba-tiba Putri merasa merinding saat orang tua angkatnya itu, yang awalnya hanya menatap wajahnya, beralih menatap ke arah perutnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Hei, Vincent! Apa kau sudah menghamili Putri?" tanya ayahnya membuat semua orang terkejut termasuk para pelayan yang berada di ruang makan itu.
"Ayah!" ucap Putri dan Vincent bersamaan. "Aku tidak hamil!" jawab Putri seraya menggelengkan kepalanya. "Kami saja belum pernah melakukannya!" jawab Vincent kesal. "Lalu, katakan pada ayah, apa alasanmu?" lanjut Tuan Adhitama. "V, apa ada masalah, Nak?" tanya Nyonya Adhitama lembut.
"Tidak. Tidak ada. Aku hanya ingin dimajukan saja. Lagipula, kita belum memulai persiapannya sama sekali, 'kan? Tidak masalah 'kan, jika kita majukan? Sayang, kau mau, 'kan?" tanya Vincent lembut seraya menggenggam tangan Putri.
"Aku sih, terserah abang saja," jawab Putri mencoba tersenyum. "Kalau begitu, mulai besok kita bisa mempersiapkan semuanya," ucap Vincent tersenyum puas.
"Besok? Memangnya kau sudah menentukan tanggalnya? Kapan?" tanya Nyonya Adhitama, terkejut. "Minggu depan!" jawab Vincent santai. "Hah!" ucap mereka bertiga bersamaan.
"Bocah gila! Apa kau pikir mempersiapkan pesta pernikahan itu mudah? Kalian harus menyiapkannya jauh-jauh hari dan ini hanya seminggu? Apa kau sudah gila, hah!" kata Tuan Adhitama yang mulai emosi menghadapi anaknya yang selalu seenaknya sendiri saat mengambil keputusan ini.
"Sebaiknya kita bicara 'kan dulu, sebelum mengambil keputusan. Jangan seperti ini!" bujuk Nyonya Adhitama, menengahi. "Tidak, Bun. Hari pernikahan sudah tidak bisa diundur lagi karena aku sudah mendaftarkannya di catatan sipil," jawab Vincent.
Putri dari tadi hanya diam mendengarkan semuanya. Daritadi, rasanya, kaki Putri sudah tidak berpijak di bumi, "Bagaimana mungkin menyiapkan pernikahan dalam waktu seminggu!" pikirnya.
"Katakan dulu apa alasanmu?" paksa Tuan Adhitama. "Ayah, sudah kubilang tidak ada alasannya," sahut Vincent meyakinkan. "Abang yakin? Kita hanya punya waktu seminggu untuk mempersiapkan semuanya. Aku rasa, itu tidak cukup atau abang ingin kita cukup menikah di catatan sipil? Kalau itu, aku juga tidak masalah," tanya Putri.
"Tidak, sayang. Aku akan mewujudkan pesta pernikahan impianmu," jawab Vincent seraya menggenggam tangan Putri lagi. "Tapi..." ucap Putri terpotong. "Tenanglah. Aku sudah menyiapkan semuanya" jawab Vincent yakin.
"Benarkah?" tanya Nyonya Adhitama tidak percaya. "Baiklah, yang pertama-tama, lamaran!" kata Tuan Adhitama, mengawali rapat dadakan keluarga Adhitama ini.
__ADS_1
"Aku rasa, tidak perlu. Memangnya, aku akan melamar dengan siapa dan pada siapa? Aneh 'kan, jika aku harus membawa ayah dan bunda pergi melamar, sedangkan aku juga harus melamar pada ayah dan bundaku sendiri?" kata Vincent lugas.
Mereka bertiga tertegun mendengarnya, "Benar juga! Membayangkannya saja sudah aneh!" pikir mereka. "Kalau begitu, gedung pernikahan, apa kau sudah menyiapkannya?" lanjut Tuan Adhitama.
"Aku sudah meminta Arjuna untuk menghubungi manager hotel kita, pestanya akan diadakan di grand ballroom milik kita. Untuk dekorasi, aku sudah menghubungi WO terbaik dan mereka sudah menyanggupinya, tinggal menunggu pilihan Putri," jawab Vincent dengan sangat lancar.
"Bagaimana dengan menu makanannya? Apa kau sudah memesannya?" tanya Tuan Adhitama lagi. "Soal menu makanan, aku belum memesannya, biar bunda yang memilihnya, terserah bunda menunya mau nasional atau western," jawab Vincent.
"Bunda bisa menghubungi manager hotel kita, para koki terbaik kita sudah siap semua," lanjut Vincent seraya tersenyum lembut pada bundanya itu. "Baiklah, serahkan saja pada bunda. Kalau undangan?" lanjut Nyonya Adhitama.
"Aku sudah menyiapkan 1.000 undangan. Arjuna sudah membuat list para tamu undangan dari rekan bisnis kita. Aku hanya minta tolong ayah dan bunda untuk menambahkan list para kerabat dan teman dekat," jawab Vincent.
"Lalu, sayang, kau bisa menambahkan list teman-teman kita. Jika kurang, kita bisa mencetaknya lagi," jelas Vincent dengan persiapan yang menakjubkan. "Bagaimana dengan wedding dress, make up dan foto?" tanya Putri, mencoba ikut andil.
"Sayang, semua itu aku serahkan padamu. Pilihlah mana pun yang kau suka. Begitu juga untuk perabotan pengantin baru, aku percayakan semua padamu. Untuk waktunya, kau bisa mengaturnya dengan Arjuna," ujar Vincent tersenyum manis. "Mengatur waktu untuk apa?" tanya Putri tidak mengerti.
"Waktuku, supaya kita bisa pergi bersama untuk memilih cincin pernikahan, gaun pengantinmu dan jas pengantin untukku. Untuk dokumen pernikahan, aku sudah menyiapkannya. Tinggal menandatanganinya di hari pernikahan. Aku juga sudah menyiapkan tiket pesawat dan reservasi hotel di Maldives untuk bulan madu kita selama seminggu. Bukankah kau ingin sekali pergi ke sana?" jawab Vincent membuat Putri sampai ternganga mendengarnya.
Ketiga lawan bicaranya pun hanya bisa memandang Vincent tanpa bisa berkata apa-apa lagi. "Apa dia benar-benar sudah merencanakan semua ini? Dia benar-benar mengerikan!" kata Putri dalam hatinya.
"Kenapa ini seperti sedang rapat dengan rekan bisnis dan rasanya aku sedang kalah tender, dari putraku sendiri!" pikir Tuan Adhitama, membatin melihat presdir penggantinya ini.
"Pantas saja, para karyawan memanggil putraku ini presdir evil, tidak ada satu pun perkataannya yang bisa dibantah!" bahkan Nyonya Adhitama turut terlihat pasrah dengan keputusan putranya itu dan Vincent pun tersenyum puas dengan hasil rapat dadakannya.
***
Putri pikir, seminggu sebelum hari pernikahan akan menjadi neraka untuknya karena harus menyiapkan pernikahan dalam waktu singkat, tapi ternyata ia salah. Vincent benar-benar mengurus semuanya dengan baik. Mereka tinggal memilih dan sisanya diserahkan pada para ahlinya.
Seperti beberapa hari ini, Putri menikmati tubuhnya dimanja dengan rangkaian perawatan spa khusus calon pengantin. Pergi bersama bundanya untuk memilih sepatu pengantin dengan merk terkenal. Membeli seragam keluarga di butik perancang kepercayaan keluarga Adhitama, dengan kain kualitas terbaik.
__ADS_1
Membeli beberapa set perhiasan bertahtakan berlian dengan harga fantastis. Memilih perabotan baru untuk kamar pengantin sesuai seleranya, tanpa ada komplain sedikit pun dari Vincent. Memilih dekorasi pernikahan seperti pesta pernikahan yang selalu di impikannya.
Ah, jangan lupakan hal yang menyenangkan lainnya untuk seorang wanita, membeli beberapa set pakaian dalam beserta lingerie seksi, tentunya! Dan sekarang, waktunya fitting gaun pengantin.
Putri sedang mencoba gaun pengantinnya, white ballgown berbahan satin berhias sulaman bermotif bunga-bunga di depannya dan detail brokat pada bagian punggung dan ujung lengan panjangnya, ditambah veil yang indah sebagai train-nya, membuat Putri terlihat bak seorang putri raja.
"Cantik sekali!" ucap Nyonya Adhitama, terpana. "Sepertinya, mempelai pria sangat mencintai mempelai wanitanya, ya? Dari tadi hanya sibuk memotret calon istrinya saja!" goda sang desainer. "Karena dia selalu cantik memakai apa saja," sahut Vincent yang masih sibuk dengan kameranya.
"Hohoho... Cantik, apa kau mau mencoba gaun yang aku tunjukan waktu itu? Bukankah kau menyukainya? Aku akan memberikannya percuma sebagai hadiah pernikahan untukmu," ucap Desainer langganan Putri itu.
"Benarkah? Wah, terima kasih banyak! Aku senang menerimanya," ucap Putri senang. "Gaun apa?" tanya Vincent penasaran. "Kau tunggu saja di situ. Aku jamin, kau tidak akan tahan melihatnya," kata desainer itu seraya mengedipkan mata ke arah Vincent. Lantas, ia pun pergi membawa Putri kembali ke ruang ganti.
Beberapa menit kemudian, desainer itu kembali, "apa kau sudah siap, tampan?" godanya pada Vincent. Vincent pun hanya mengernyitkan keningnya bingung.
Kemudian, saat tirai di buka, Putri keluar dengan menggunakan gaun berwarna hitam model column berbahan lace yang melekat sempurna di hourglass body-nya. Dengan aksen tali satu dan bagian dada, bahu hingga punggung yang terbuka lebar ditambah belahan panjang di bagian kaki kanan, sontak membuat Vincent ternganga melihatnya.
"Wah, Putri, gaun itu sangat pas untukmu, Nak!" ucap Nyonya Adhitama yang tidak henti-hentinya memuji kecantikan putri sekaligus calon menantunya ini. "Hohoho ... Tampan apa kau tidak akan menutup mulutmu itu?" goda Desainer itu lagi.
Vincent menelan air liurnya dengan kasar, lalu berjalan mendekati calon istrinya itu. Ia meraih pinggang ramping Putri, "Sayang, bisakah kita menikah sekarang? Kau benar-benar membuatku tidak tahan!" goda Vincent sambil memeluk Putri dengan gemas.
Gelak tawa semua orang yang ada di sana pun menyeruak mendengarnya, kecuali satu orang yang berdiri menatap mereka dari balik jendela kaca yang memisahkan butik itu dengan jalanan di luarnya, tapi pria dengan hoodie hitam itu langsung membalikan badannya dan bergegas pergi dari sana, saat tatapan sedihnya bertemu dengan mata Vincent yang seketika merubah raut wajahnya.
***
Flashback seminggu yang lalu, Vincent tengah bersantai duduk di ruang keluarga saat menunggu Putri dan bundanya menyiapkan makan malam di dapur.
Dengan serius, Vincent mengetik sesuatu di laptopnya tanpa menghiraukan televisi yang sedang menyala di depannya, tapi jari-jarinya berhenti bergerak saat telinganya menangkap siaran berita yang sedang tayang di televisi.
"Setelah presdir Dexter Group, Tuan Agust Dexter menyatakan pengunduran dirinya, putra tunggalnya yang selama ini menyelesaikan pendidikan di luar negeri, Kei Alexis Dexter, kembali ke Indonesia hari ini untuk meneruskan kerajaan bisnis orang tuannya..."
__ADS_1
Entah kenapa, Vincent tiba-tiba merasa takut saat mendengar berita itu. Ia pun lantas mematikan televisi itu, "Kenapa kau kembali di saat seperti ini!" batinnya. Lama, Vincent berpikir dalam diamnya, hingga ia menutup laptopnya dan menghubungi seseorang lewat ponselnya dan berkata, "Jun, mulai besok, tolong bantu aku menyiapkan pernikahanku!" Flasback off.